Logo Header Antaranews Sumsel

Harga karet lelang di Sumsel naik

Jumat, 25 Oktober 2013 17:43 WIB
Image Print
Ilustrasi - Petani melakukan transaksi (FOTO ANTARA)

Palembang (ANTARA Sumsel) - Harga karet petani yang dipasarkan melalui lelang di Desa Regan Agung, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, Jumat`tercatat terendah Rp10.415 per kilogram dan tertinggi Rp11.115 per kg, naik dibanding sebelumnya.

"Harga bahan olah karet (bokar) hasil lelang Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar Desa Regan Agung itu, naik dibandingkan kondisi dua pekan lalu kisaran Rp10.400 hingga Rp11.060 per kg," kata Kabid Pengolahan dan Pemasaran Dinas Perkebunan Sumatera Selatan, Benyamin, di Palembang, Jumat.

Dikatakannya, harga bokar tersebut diketahui berdasarkan informasi hasil lelang UPPB Desa Regan Agung yang dipantau dua kali setiap bulan.

Ia menjelaskan bahwa berdasarkan informasi dari UPPB Lavender Kecamatan Banyuasin III harga bahan olah karet umur satu minggu tertinggi Rp11.115 per kg, dan terendah Rp10.415/kg.

Harga bokar yang dipantau melalui UPPB Usaha Bersama tercatat Rp11.100 per kg, sedangkan UPPB Bina Tani Rp10.815 per kg, dan terendah di UPPB Harapan Kita Rp10.415 per kg.

Berdasarkan informasi dari pasar lelang di beberapa daerah di Sumsel bahwa sejak sebulan terakhir harga bokar umur satu minggu memang belum stabil disesuaikan dengan perkembangan harga di tingkat pabrik di Palembang.

Di samping itu, harga bokar Sumsel juga disesuaikan dengan perkembangan harga di luar negeri, karena sebagian besar hasil salah satu komoditas andalan perkebunan tersebut diekspor ke sejumlah negara konsumen, katanya.

Sementara, harga bahan olah karet kualitas 90 persen di tingkat pabrik di Sumatera Selatan hingga saat ini tercatat Rp24.429 per kilogram, atau naik dibandingkan tiga hari sebelumnya kisaran Rp24.402 per kg.

Sekretaris Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Sumsel H Awie Aman secara terpisah di Palembang mengatakan harga karet ada sedikit lebih baik dibandingkan sebelumnya.

Menurut dia, kenaikan harga bahan olah karet kualitas 90 persen itu disesuaikan dengan perkembangan harga di tingkat pabrik anggota Gapkindo di daerah ini.

Di samping itu, juga disesuaikan dengan perkembangan harga di luar negeri, karena sebagian besar hasil bokar diekspor ke sejumlah negara konsumen.

Menurut Awie, di Sumsel hingga saat ini terdapat belasan perusahaan pengolahan karet anggota Gapkindo dan menampung hasil petani.

Sejumlah perusahaan pengolahan karet tersebut sebagian besar melakukan kegiatan usaha dengan pabriknya di pinggiran Kota Palembang, sehingga para pedagang pengumpul banyak menjual hasil komoditas itu ke ibukota provinsi Sumsel ini.

Ia menambahkan, para pedagang pengumpul biasanya menjual hasil karet petani ke pengusaha pabrik di Kota Palembang untuk selanjutnya setelah diolah menjadi barang setengah jadi baru diekspor.

Memang, kata dia, karet sampai saat ini masih tetap menjadi komoditas andalan penyumbang devisa terbesar ekspor nonmigas Sumatera Selatan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Sumsel, dari total nilai ekspor nonmigas provinsi itu periode Januari-Juli 2013 mencapai 2,00 miliar dolar AS, karet menyumbang 1,68 miliar dolar, disusul minyak sawit mentah dan produk turunannya 98,25 juta dolar dan batu bara peringkat tiga tercatat 96,94 juta dolar AS, sedangkan selebihnya komoditas lain seperti produk kayu, udang dan kopi.



Pewarta:
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2026