
Telaah - Kompleksitas Sintaksis

.....Hidup serba terkekang di bawah penindasan, alangkah tak enaknya! Apalagi, bila itu berlangsung amat lama....
Jakarta (ANTARA Sumsel) - Sintaksis atau tata kata yang membentuk sebuah kalimat sesungguh sebuah fenomena yang kompleks dipandang dari sisi gramatikalitasnya, maupun konstruksinya.
Noel Burton-Roberts yang menulis "Analysing Sentences" memperlihatkan bahwa satu konstruksi bahasa Inggris di satu komunitas dianggap berterima sementara ditampik oleh komunitas lain.
Penduduk Tyneside, kawasan Timur Laut Inggris, sudah terbiasa mengucapkan tata kata seperti "You can't do it, can't you not?" Susunan kata seperti ini tak diterima oleh penduduk California. Sebaliknya, konstruksi berikut ini: "Did you eat yet?" dianggap kalimat yang gramatikal buat kalangan warga California tapi pasti ditampik oleh warga Tyneside.
Gramatikalitas, dengan demikian, jadi sesuatu yang genting dalam batas-batas tertentu. Pastilah ada garis batas yang memastikan atau memutlakkan bahwa sebuah konstruksi kata tertentu tak gramatikal. Tapi dalam banyak hal, antara yang gramatikal dan kurang graatikal menjadi suatu gejala yang nisbi.
Ada penulis-penulis bermutu yang menulis tanpa terlampau peduli dengan gramatikalitas. Ambil contoh kalimat ini: "Hidup serba terkekang di bawah penindasan, alangkah tak enaknya! Apalagi, bila itu berlangsung amat lama." Seorang penyunting yang menilai kalimat-kalimat di atas sebagai di bawah standar pastilah akan mengubahnya menjadi kalimat berikut. "Alangkah tak enaknya hidup serba terkekang di bawah penindasan, apalagi bila hidup seperti itu berlangsung lama."
Yang sering jadi masalah akibat ulah penyunting yang suka memuta balik konstruksi kalimat adalah: hilangnya aksentuasi tematik sebuah kalimat. Dalam kasus di atas, penulis hendak menenkankan pokok substansial tentang "hidup serba terkekang" tapi penyunting, dengan alasan gramatikalitas sebagai kiblat utamanya, mengedepankan seruan "alangkah tidak enaknya!". Namun daya seru kalimat juga lenyap karena tanda seru itu raib akibat kalimat yang jadi berkepanjangan.
Apa yang terkandung sebagai pesan dalam kasus penyuntingan yang mengedepankan gramatikalitas di atas? Penyunting tak semestinya mengagungkan keakuratan gramatika, yang sesungguhnya nisbi itu. Dalam kerja kepenyuntingan, yang didasarkan pada prinsip linguistik jurnalistik, kehematan dan kejelasan kata lah yang harus dipegang sebagai acuan oleh seorang penyunting.
Sintaksis yang berkepanjangan, dengan demikian, bukan karena keniscayaan gagasan yang dikandung oleh rangkaian kata itu, perlulah disunat atas nama efisiensi dan efektivitas komunikasi. Sebuah kalimat yang ditulis cendekiawan besar di zamannya, Dr Soedjatmoko, berikut ini mestinya mengalami pembuangan beberapa kata yang tak fungsional. Tapi nyatanya dibiarkan oleh editor.
Demikianlah Soedjatmoko menulis: "Karena adanya interdependensi bagi kelangsungan hidup, maka muncullah kebutuhan yang mendesak bagi suatu kerja sama internasional yang semakin intensif antara lembaga intelektual ini di seluruh dunia."
Kalimat itu bisa diefisienkan menjadi : "Karena interdependensi kelangsungan hidup, muncullah kebutuhan yang mendesak bagi kerja sama internasional yang semakin intensif antara lembaga intelektual ini di dunia." Pembuangan kata-kata, terutama kata tugas dalam kalimat, akan membuat kalimat bernas dan tak kedodoran.
Fungsi kata tugas yang mempunyai makna gramataikal dan bukan leksikal memang vital dalam membangun gramatikalitas tapi akan membuat kalimat berbusa ketika digunakan secara tak semestinya. Di sinilah sebetulnya yang menjadi enigma kenapa karangan satu penulis begitu padat bernas dan yang lain terasa hampa esensi meski disampaikan berpanjang-panjang.
Sintaksi yang panjang tidak harus dinilai berkepanjangan karena yang disampaikan adalah gagasan melalui kalimat panjang yang tak dibebani kata-kata tugas yang tak fungsional. Mau contoh kalimat seperti itu? Diambil dari teks "Peristiwa Manikebu": Kesusastraan Indonesia dan Politik di Tahun 1960-an, inilah contoh itu: "Namun, sistem politik ini mempunyai apa yang oleh Orwell disebut `newspeak', `basabaru', dengan akronim-akronimnya yang membekukan daya analitis kita terhadap makna katasuau jenis kontrol terhadap jiwa dan pikiran yang secara tanpa disadari umumnya efektif."
Dalam struktur sintaksis di atas, beda dari konstruksi Soedjatmoko di atas, semua kata tugas berperan sebagaimana fungsinya sehingga jika harus dicopot satu saja akan megacaukan pikiran tang terkemas dalam formulasi kalimat itu sebab pencopotan itu akan merusak tata bahasanya.
Tata bahasa, seperti pernah diujarkan John Stuart Mill, adalah bagian paling elementer dalam logika sebab tata bahasa merupakan permulaan analisis proses berpikir.
Tentu, dimensi semantik dalam sebuah kalimat juga menjadi penentu logika selain tata bahasa. Sebuah koran yang terbit di Ibukota pernah menulis kalimat gramatikal namun tak logis seperti ini: "Suara merdu seorang penyanyi perempuan diiringi dua lelaki yang menaruh gendang."
Kalimat itu gramatikal, jelas. Tapi tak berlogika karena persoalan sematik. Bagaimana mungkin "suara" diiringi "dua lelaki". Di mana letak "suara", di kursikah atau di ruang tamu sehingga dua lelaki itu bisa mendekatinya dan mengiringi "sang suara"?
Karena letak suara itu tak bisa ditentukan secara pasti kecuali bisa diperkirakan berada dalam ruang lewat bukti bunyi yang bisa didengar, yang paling logis yng bisa mengiringi suaru itu adalah bunyi gendang yang ditabuh dua lelaki itu. Jadi kalimat itu harus disunting begini: "Suara merde seorang penyanyi perempuan diiringi bunyi gendang yang ditabuh dua lelaki."
Begitulah kompleksitas sintaksis yang gramatikalitasnya ditentukan oleh sisi penggunaan komponen kata-kata dalam kalimat dan komponen semantik dari kata-kata itu.
Pewarta: Oleh: M. Sunyoto
Editor: AWI-SEO&Digital Ads
COPYRIGHT © ANTARA 2026
