
Populasi sapi di OKU turun 3.000 ekor

Baturaja (ANTARA Sumsel) - Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan mengungkapkan, populasi sapi di daerah itu tahun ini merosat tajam dibandingkan tahun lalu, yakni dari 9.000 ekor menjadi hanya 6.000 ekor.
"Biasanya populasi hewan ternak setiap tahunnya ada peningkatan atau minimal normal. Akan tetapi, sekarang di luar dugaan yakni mengalami penurunan yang sangat tinggi sekitar 3.000 ekor sapi atau 33,33 persen," kata Kabid Peternakan Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) NH Sitomorang, Kamis.
Menurut dia, penurunan populasi ternak sapi disebabkan banyak pencurian akhir-akhir ini. Akibatnya, petani takut dan malas untuk menernak dan memilih untuk menjual sapi yang sudah dipeliharanya selama ini.
"Ada beberapa daerah yang tingkat pencurian ternak sapi tinggi. Seperti di Kecamatan Sinar Peninjauan, Peninjauan, Lubuk Raja. Terakhir, pencurian marak di daerah Kemelak," jelasnya.
Untuk meningkatkan gairah petani menernak sapi, pihak Disnakan bakal membangun kandang kelompok.
Dimana, sapi warga dikumpulkan menjadi satu setiap daerah tertentu serta melakukan penjagaan secara bergantian sesuai jadwal yang telah disepakati.
"Program ini sudah diterapkan di Batumarta Unit 13, Kecamatan Lubuk Raja. Seperti, di perbatasan dengan Mandayun, OKU Timur. Tapi, bangunan kandang saat ini sudah roboh. Ke depan akan kami bangun lagi untuk menjaga populasi sapi di OKU,"katanya.
Sementara itu, Kapolres OKU, AKBP Mulyadi mengatakan, sejauh ini belum ada laporan masyarakat soal kehilangan sapi.
"Terakhir terjadi di Peninjauan beberapa bulan lalu yang kepergok warga dan sepeda motornya dibakar, dan setelah itu belum ada.
Namun, kemungkinan ada terjadi kasus pencurian, tetapi warga tidak melapor kepada polisi saat kehilangan sapi, ujar Kapolres.
Di sisi lain, Disnakkan OKU, pada tahun 2014 berencana memfungsikan Rumah Potong Hewan (RPH) yang di pusatkan di Kelurahan Batukuning, Kecamatan Baturaja Barat.
"RPH tersebut merupakan bantuan Kementerian Peternakan Kesehatan Hewan RI pada 2011 untuk digunakan bagi para pemotong hewan kuban," ujar Kadisnakan OKU, Yuniadi Yunus.
Dia mengungkapkan, selama ini pihaknya belum dapat memfungsikan RPH karena fasilitas pendukung belum siap, seperti listrik, air bersih, instalasi pengolahan air limbah dan beberapa fasilitas lainnya.
Kekurangan tersebut sedang dalam proses persiapan yang diharapkan tahun depan, RPH sudah dapat difungsikan sebagaimana mestinya.
Menurut dia, RPH merupakan unit atau sarana pelayanan masyarakat dalam penyediaan daging sehat yang mempunyai fungsi sebagai tempat dilaksanakannya pemotongan hewan secara benar.
"Tempat dilaksanakan pemeriksaan kesehatan hewan sebelum dipotong (antemortem) dan pemeriksaan daging (post mortem) untuk mencegah penularan penyakit hewan ke manusia," katanya.
Yunus menambahkan, sebelum dilakukan pemeriksaan, di RPH juga dilakukan seleksi dan pengendalian pemotongan hewan besar betina bertanduk yang masih produktif.
Untuk itu, dengan difungsikannya RPH, diharapkan daging yang akan dikonsumsi masyarakat sehat dan halal sesuai yang diinginkan. (E Permana)
Pewarta:
Editor: M. Suparni
COPYRIGHT © ANTARA 2026
