
Polisi dalam ancaman teror

Jakarta (ANTARA Sumsel) - Pada pertengahan tahun 2013 ini terjadi rentetan peristiwa teror yang menyerang aparat kepolisian sebagai targetnya.
Berawal dari peristiwa penembakan yang dilakukan oleh orang tak dikenal terhadap anggota Satlantas Polsek Gambir, Jakarta Pusat, Aipda Patah Saktiyono pada Sabtu (27/7) dinihari pukul 04.30 WIB.
Kala itu Patah yang hendak menuju kantornya di Gambir, ditembak dari belakang oleh orang tak dikenal di Jalan Cireundeu Raya, Ciputat, Tangerang. Akibat kejadian itu, Patah mengalami luka tembak di punggung bagian belakang hingga menembus dada sebelah kiri.
Beruntung, warga yang melihat kejadian tersebut segera melarikannya ke RS Bhinneka Bakti Husada, Pamulang untuk mendapatkan pertolongan pertama. Patah yang kemudian dipindahkan ke RS Polri Kramat Jati akhirnya berangsur sembuh.
Belum genap dua minggu berselang, masyarakat kembali dikejutkan melalui pemberitaan di media bahwa terjadi penembakan aparat di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten.
Kali ini sasarannya adalah seorang anggota Binmas Polsek Cilandak, Aiptu Dwiyatno. Namun nasibnya tidak seberuntung Patah. Dwiyatno meninggal dunia setelah ditembak pelaku tak dikenal pada Rabu (7/8) pagi sekitar pukul 05.00 WIB.
Pada Jumat (16/8) malam jelang HUT RI ke-68, kembali Polri bak mendapat kado pahit. Dua orang polisi tewas ditembak orang tak dikenal di Jalan Graha Raya, Pondok Aren, Tangerang. Pada saat itu Ipda Anumerta Kus Hendratna yang hendak menghadiri apel peringatan hari kemerdekaan di Polsek Pondok Aren, dipepet kedua pelaku yang mengendarai motor. Kus ditembak di bagian belakang kepala dan meninggal seketika.
Empat orang dari tim buser yang berada di belakang mobil korban langsung berinisiatif untuk mengejar pelaku. Mobil yang dikemudikan Aipda Anumerta Ahmad Maulana tersebut berhasil mengejar dan menabrak motor pelaku. Namun sayang, mobil tersebut kemudian terperosok ke got tanggul jalan. Pelaku yang turun dari motor lalu menembak Ahmad Maulana yang saat itu baru keluar dari mobil.
Dari rentetan kejadian itu, hingga saat ini belum ada satu pun pelaku yang tertangkap. Upaya polisi untuk menyebarkan informasi berupa sketsa wajah dua pelaku penembakan Ahmad Maulana dan Kus, belum mendapatkan hasil yangg bisa mengarah ke titik terang pengungkapan kasus.
Menurut Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri Kombes Pol Agus Rianto, kesulitan yang dihadapi Polri adalah sedikitnya saksi mata karena aksi penembakan yang dilakukan malam hari ataupun menjelang pagi.
Sementara Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol Ronny F. Sompie menambahkan bahwa keterbatasan fasilitas keamanan di Indonesia menjadi salah satu faktor yang menyebabkan minimnya barang bukti yang bisa membantu penyelidikan kasus tersebut.
"Di sini, sketsa wajah hanya mengandalkan ingatan para saksi, mudah-mudahan sketsa wajah yang dibuat bisa mendekati wajah asli pelaku," kata Ronny.
Berbeda dengan di luar negeri, dia mencontohkan pengungkapan pelaku teror di Boston, Amerika Serikat bisa dilakukan berkat tersedianya teknologi berupa CCTV di lokasi kejadian dan informasi masyarakat sehingga pelaku kejahatan lebih mudah ditangkap.
Kelompok teroris?
Di sisi lain pengamat terorisme Al Chaidar mengatakan besar kemungkinan pelaku-pelaku penembakan terhadap aparat dilakukan oleh kelompok teroris.
"Kemungkinan besar oleh kelompok teroris," katanya.
Pernyataannya bukan tanpa dasar, meski belum dibuktikan oleh pihak kepolisian, pihaknya mengatakan bahwa ada indikasi-indikasi kuat mengarah kepada jaringan yang selama ini menjadi target operasi Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror. Diantaranya aksi yang dilakukan dengan menggunakan sepeda motor, dilakukan oleh dua orang dan menggunakan senjata api dengan kaliber berdiameter 9,9 milimeter.
Bahkan menurut dia, ada kemungkinan bahwa eksekutor penembakan adalah pelaku yang sama karena pemilihan lokasi yang cukup berdekatan yakni sekitar Tangerang.
Adanya beberapa penangkapan beberapa terduga teroris dalam rentang waktu yang berdekatan seperti M. Syaiful di yang dibekuk di Yogyakarta, Imam Syafei di Banyumas, Jawa Tengah. Lalu Muhammad Zakaria di Tangerang, Iqbal Khusaeni di Cipayung, Jakarta Timur dan Iswahyudi di Bekasi, namun menurut dia, mereka bukanlah pelaku atau terkait jaringan pelaku teror penembakan polisi. Menurut dia, mereka yang ditangkap terkait dengan rencana pengeboman Kedutaan Besar Myanmar dan kasus ledakan di Vihara Ekayana, Jakarta Barat.
"Ada unit-unitnya yang berlainan," katanya.
Dia bahkan secara spesifik mengatakan para pelaku penembakan terhadap aparat adalah sel Tangerang dan sel Pamulang dari kelompok Abu Umar.
Menurut dia, jaringan teroris sebenarnya selalu menjadikan Densus 88 sebagai target bidikan mereka, bahkan itu terjadi sejak 2008. Hal itu karena Densus 88 dinilai sering "tidak manusiawi" dalam aksi penggrebekan dan penangkapan terduga teroris.
"Sering langsung ditembak, padahal bisa ditangkap. Proses penangkapan juga tidak 'manusiawi', orang habis 'sholat Subuh', tidak bersenjata, langsung ditabrak, ditembak," katanya.
Menurut Al Chaidar, aksi tersebut terlalu berlebihan dan melanggar HAM sehingga memicu kelompok teroris untuk menjadikan Densus 88 sebagai target utama mereka.
Namun demikian, keberadaan Densus sebagai pasukan khusus Polri sulit untuk dijangkau, akhirnya jaringan ini mengalihkan bidikan ke polisi yang banyak bertugas di lapangan sehingga lebih mudah untuk dijadikan sasaran.
Terhadap negara
Sementara Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Said Aqil Siradj menilai maraknya penembakan terhadap aparat bukan lagi sebagai teror yang bersifat lokal melainkan teror terhadap negara.
"Targetnya nasional, tujuannya biar Indonesia tidak aman," Said Aqil.
Dia berpendapat bahwa rentetan aksi penembakan tersebut berasal dari kelompok radikal yang berbasis agama dengan tujuan melancarkan serangan balasan ke kepolisian dan untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa kelompok tersebut masih ada hingga kini.
Pihaknya pun mendesak agar pemerintah bukan hanya melakukan upaya pengejaran pelaku pascaterjadi aksi teror tetapi juga untuk membubarkan kelompok radikal yang telah terdeteksi selama ini.
"Indikasi kelompok radikal harus dibubarkan," tutur katanya.
Sementara Deputi I Bidang Pencegahan, Perlindungan dan Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Mayjen Agus Surya Bakti mengatakan bahwa terindikasi kuat bahwa pelaku penembakan adalah kelompok teroris.
Meski demikian pihaknya mengatakan bahwa tidak menutup kemungkinan ada celah bahwa penembakan tersebut merupakan kriminal murni dengan motif tertentu. Tetapi dari pengembangan kasus yang pihaknya lakukan dengan menganalisis beberapa rangkaian peristiwa penembakan itu mengindikasikn bahwa pelakunya adalah dari kelompok teroris.
Menurut dia, kelompok teroris mana pun, memiliki kesamaan ideologi yaitu mereka berjuang untuk melawan negara. Bahkan, jika terjadi penyergapan terhadap suatu kelompok, maka kelompok lainnya bisa tergerak untuk melakukan upaya balas dendam atas kelompok di daerah lain.
"Antara satu kelompok dengan kelompok lainnya selalu memiliki keterkaitan, paling tidak punya kesamaan ideologi," katanya.
Dia berujar bahwa yang diteror sebenarnya bukanlah aparat kepolisian, tetapi aksi tersebut berupaya untuk meneror negara. Mereka menyasar ke kepolisian karena instansi Polri merupakan simbol negara di bidang penegakan hukum.
"Penembakan itu bukan hanya kepada kepolisian, tapi juga ditujukan kepada negara," katanya.
Lalu apakah kepolisian, dalam hal ini Densus 88 sudah melakukan penumpasan dengan optimal? Agus menilai upaya-upaya Densus selama ini telah maksimal bahkan habis-habisan untuk menggagalkan berbagai ancaman agar tidak menjadi kenyataan.
Dia menyerukan kepada seluruh lapisan masyarakat untuk waspada terhadap lingkungan karena gerakan terorisme berada di tengah-tengah masyarakat. Mereka bersembunyi, merencanakan aksi di tengah padatnya penduduk.
Para teroris ini, menurut dia, akan selalu mencari peluang untuk melancarkan aksinya. Untuk itu, penumpasan jaringan radikal ini, tidak bisa dilakukan oleh kepolisian dan BNPT saja, tetapi harus didukung kerja sama masyarakat untuk memberikan informasi serta mewaspadai lingkungan sekitar masing-masing.
Pewarta: Oleh: Anita Permata Dewi
Editor: AWI-SEO&Digital Ads
COPYRIGHT © ANTARA 2026
