Logo Header Antaranews Sumsel

Menghidupi keluarga dari batu

Kamis, 21 Februari 2013 22:49 WIB
Image Print
....Ya boleh dikatakan mencari batu sudah merupakan mata pencaharian utama kami....

Lelaki muda itu sedang duduk santai bersama putrinya di sebuah gubuk berukuran 2x3 meter yang sudah hampir roboh di Dusun Batambaya, Kabupaten Sigi Sulawesi Tengah.

Di tangan putri keduanya bernama Irma (2) terlihat lentera kecil. "Ini merupakan alat penerangan rumah pada malam hari," kata Sertana (37), salah seorang warga komunitas adat terpencil (KAT) di Dusun III Batambaya Desa Kalora Kecamatan Kinovaro, Kabupaten Sigi,"Kamis.

Dusun Batambaya merupakan salah satu lokasi permukiman masyarakat KAT Etnis Da'a yang selama bertahun-tahun mendiami Pegunungan Gawalise.

Kebanyakan warga yang tinggal di sana selama ini mencari hidup dari mengumpulkan batu-batu untuk memenuhi kebutuhan bahan bangunan.

Saban hari, ayah dari dua putri itu harus turun ke sungai-sungai yang ada di wilayah Desa Kalora, sekitar 14 kilometer dari Palu,Ibu Kota Provinsi Sulteng untuk mengumpulkan batu dan kemudian menjualnya kepada para pengusaha atau sopir truk angkut batu dan pasir yang datang membeli langsung.

Pekerjaan tersebut sudah dilakoninya sejak masih usia sembilan tahun ketika masih bersama orang tuanya. "Ya boleh dikatakan mencari batu sudah merupakan mata pencaharian utama kami," katanya.

Meski harus menahan teriknya matahari, Sertana tetap mengumpulkan batu dengan harapan bisa dijual dan uangnya tentu untuk membeli berbagai keperluan sehari-hari.

Sehari bisa mendapatkan penghasilan Rp75 ribu. "Biasanya kalau banyak batu dikumpulkan bisa lebih dari itu," ujar pria berambut keriting itu.

Sementara istrinya Matria tinggal di rumah menjaga kedua putri mereka saat pak Sertana pergi kerja mengumpulkan batu.

Selama ini mereka sangat mendambakan memiliki rumah yang lebih bagus untuk bisa ditinggali dengan nyaman. Paling tidak kalau hujan tidak lagi bocor.

Gubuk yang mereka miliki sekarang ini hanya berdindingkan papan dan atap daun rumbia yang sudah rusak. Setiap hujan pasti basah karena atap rumah sudah banyak yang rusak.

Namun di tengah-tengah kondisi ekonomi yang memprihatinkan, masyarakat KAT Dusun Batambaya boleh berbahagia karena tanpa disangka mendapatkan sejumlah bantuan dari Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri.

Bantuan Pusat
Selama ini, lanjut Sertana ia bersama masyarakat lainnya yang ada di Dusun Batambaya tidak pernah berminta akan mendapatkan bantuan dari pemerintah pusat.

Pada 20 Februari 2013 merupakan hari yang menyenangkan bagi masyarakat KAT Batambaya karena Mensos Salim Segaf bersama Wakil Gubernur H Sudarto dan para pejabat provinsi dan Kabupaten Sigi mendatangi lokasi mereka.

"Ini merupakan rezeki karena pak mensos bukan hanya datang melihat kami, tetapi memberikan sejumlah bantuan sosial," katanya dengan nada senang.

Kegembiraan juga dirasakan Jul (50), salah seorang warga KAT Dusun Batambaya. Ia juga mengatakan senang mendapatkan bantuan dari mensos.

Ayah tiga putra itu sehari-harinya juga bekerja sebagai pengumpul batu. Bersama istrinya mereka tinggal di sebuah gubuk berukuran 2x3 meter berdindingkan papan dan atap daun rumbia.

Tapi ada sebagian warga yang rumahnya masih di atas pepohonan. Mereka sudah tinggal bertahun-tahun Lereng Pegunungan Gawalise.

Mensos Salim Segaf memberikan bantuan dana untuk pembangunan rumah layak huni kepada sebanyak 76 kk masyarakat KAT di Dusun Batambaya.

Masing-masing KK menerima bantuan dana pembangunan rumah layak huni dari mensos sebesar Rp17 juta.

Mensos Salim Segaf Al Jufri mengatakan total bantuan pembangunan rumah yang diberikan pemerintah pusat kepada masyarakat KAT di Kabupaten Sigi mencapai Rp1,292 miliar.

Selain memberikan bantuan dana, mensos juga menyerahkan sejumlah paket sembako yang terdiri atas mie instan, susu manis, gula pasir, kopi bubuk, minyak goreng dan beras masing-masing 25 kilogram per kk.

Menurut Mensos Salim Segaf, semua bantuan yang disalurkan kepada masyarakat KAT di Kabupaten Sigi dan juga kelompok usaha bersama (KUBE) serta rehabilitasi rumah di Desa Tipo, Kecamatan Uluhjadi Kota Palu bersumber dari dana pemerintah pusat.

Kebetulan dana tersebut disalurkan oleh Kementerian Sosial semata-mata guna membantu masyarakat miskin dan KAT di daerah-daerah, termasuk di Kabupaten Sigi dan Kota Palu.

Bantuan-bantuan sosial yang telah di salurkan pemerintah sebagai upaya mempercepat pengentasan kemiskinan di tanah air.

Pembangunan Rumah
Mensos Salim Segaf berharap semua bantuan yang telah disalurkan dapat dimanfaatkan dengan baik sesuai peruntukannya.

"Dana ini kan untuk pembangunan rumah. Jadi gunakan untuk membeli bahan-bahan bangunan, bukan yang lain," harap mensos.

Demikian juga dana untuk pengembangan usaha bagi kelompok usaha bersama (KUBE) harus dipergunakan tepat sasaran. Artinya dana itu dipakai untuk mengembangkan usaha agar semakin meningkat.

Jangan sekali-kali dana pembangunan rumah dipakai untuk sewa tukang. Usahakan yang mengerjakan pembangunan rumah adalah warga KAT.

"Mari bangkitkan kembali semangat gotong royong seperti yang selama ini dilakukan para nenek moyang kita dahulu," kata Mensos..

Semangat kesetiakawanan sosial, gotong royong dan saling tolong menolong harus terus dikobarkan.

Mensos juga minta kepada pemerintah provinsi dan Kabupaten Sigi untuk membantu masyarakat KAT, khususnya mencarikan solusi yang baik agar tanah yang ada dimanfaatkan semaksimal mungkin bagi pengembangan berbagai komoditi pertanian dan perkebunan.

Tanah yang ada masih belum diolah. Padahal kondisi tanahnya subur. Sayang sekali jika tidak dikelolah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Pemprov Sulteng dan Pemkab Sigi perlu melakukan terobosan tanaman apa yang kira-kira cokok dikembangkan di dusun ini.

Data Pemprov Sulteng menyebutkan jumlah masyarakat miskin di Sulteng saat ini sekitar 500 ribu jiwa tersebar di seluruh kabupaten dan kota. (BK03)



Pewarta:
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2026