Logo Header Antaranews Sumsel

Lumbung gas tapi 'impor' gas

Selasa, 29 Januari 2013 22:31 WIB
Image Print
Pekerja minyak bumi dan gas (migas) (FOTO ANTARA/Reno Esnir/sa)
....Ada puluhan, sebanyak 30 lebih sumur yang sudah dieksploitasi. Masih banyak lagi yang belum dieksploitasi....

Berkilometer pipa gas sambung-menyambung dari Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau menuju Malaysia dan Singapura, namun tidak satu pun cabang pipa menuju Batam atau daerah lain di Kepulauan Riau.

Sedikitnya tiga perusahaan dalam dan luar negeri, yaitu Pertamina, ConocoPhillips Indonesia, Star Energy dan Premier Oil memborbardir bumi Natuna untuk mendapatkan gas alam.

Banyak yang percaya cadangan gas di Natuna merupakan yang terbesar di dunia, terutama di Blok D Alpha yang hingga kini masih sulit dieksploitasi karena kandungan CO2 yang tinggi.

Menurut Asisten Pemerintah Kabupaten Natuna, Basri, terdapat puluhan sumur gas di Natuna yang sudah dieksploitasi bagi kebutuhan industri.

"Ada puluhan, sebanyak 30 lebih sumur yang sudah dieksploitasi. Masih banyak lagi yang belum dieksploitasi," kata dia.

Itu baru dari cekungan barat, belum dari cekungan dan blok timur, katanya.

Berdasarkan penelitian, kata dia, kandungan gas di bumi Natuna mencapai 222 triliun kaki kubik dan bisa menghasilkan gas 46 triliun kaki kubik k yang dipercaya terbesar di dunia.

Saat ini, khusus untuk blok timur, pemerintah menunjuk Pertamina untuk mengelola bersama rekanan kerjanya, kata pria yang Mantan Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Natuna.

Pertamina resmi ditunjuk pemerintah sebagai pengelola Blok Natuna Timur, yang dulu bernama Blok Natuna D Alpha melalui Surat Menteri ESDM No 3588/11/MEM/2008 pada 2 Juni 2008 tentang Status Gas Natuna D Alpha.

Pemerintah menargetkan Blok Natuna Timur mulai memproduksikan gas 1.000 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) pada 2020 dengan roduksi puncak diperkirakan sebesar 4.000 MMSCFD.

Lumbung gas
Dengan kekayaan gas yang besar, tidak heran jika Gubernur Kepulauan Riau mencanangkan Kepri sebagai lumbung gas nasional.

"Gubernur menginginkan Kepri menjadi lumbung gas, mengacu pada ketersediaan gas di Natuna," kata Kepala Bidang Minyak dan Gas Bumi Dinas Pertambangan dan Industri Provinsi Kepulauan Riau, Marzuki.

Ketersediaan gas, kata dia, bisa digunakan sebagai energi primer untuk pembangkit listrik.

Bahkan, Gubernur berencana menggunakan pasokan gas sebagai energi utama di Kepri.

"Merealisasikan kebijakan pemerintah melalui konversi bahan energi pembangkit listrik dari PLTD menjadi PLTG dan untuk transportasi darat BBM ke BBG," kata dia.

Pemerintah provinsi juga menargetkan menggelar jaringan pipa gas dan jaringan listrik antarpulau untuk menjawab kebutuhan listrik pulau-pulau pesisir di Kepri.

Selain itu, Pemprov Kepri juga berencana membangun terminal penerima LNG di Batam yang dapat menyimpan gas alam cair dan diangkut dengan tanker dan truk untuk digunakan sebagai energi utama di Kepri.

"Impor" gas
Sayangnya, itu masih 'mimpi', karena hingga saat ini, Kepri belum dapat menikmati gas Natuna.

Pasokan gas untuk Batam dan Kepri masih disalurkan dari Grisik. Sedang yang dari Natuna belum sampai.

"Pendistribusian pasokan gas bumi ke Batam melalui jaringan pipa dari Grisik Sumatera Selatan," kata dia.

Ia mengatakan belum ada distribusi gas yang dihasilkan oleh Natuna ke kawasan-kawasan industri di Batam, Bintan dan Karimun. Padahal, energi gas yang bersih dan murah amat diperlukan bagi pengembangan industri.

Bagi industri, gas amat diperlukan, selain untuk bahan bakar pembangkit listrik, gas juga digunakan untuk berbagai kebutuhan industri, seperti pembakaran untuk keramik dan lain-lainnya.

Ketua Himpunan Kawasan Industri Batam, Oka Simatupang mengatakan kebutuhan industri masih dikirim dari Grisik, Sumatera Selatan.

"Dari Natuna belum dapat kita," katanya.

Menurut dia, sudah ada beberapa pembicaraan untuk menyalurkan gas dari Natuna ke Batam, kata dia, namun belum ada realisasi.

Berdasarkan catatan ANTARA, PLN Batam bersama PT UBE yang membeli gas dari sumur Gajah Baru, Natuna, berencana membangun jaringan pipa west natuna transportation system (WNTS) dari laut Natuna ke Singapura melalui WTNS.

Sejak bebertapa tahun lalu, sejak sumur gas Natuna diekpsploitasi, pipa panjang dari Natuna ke Singapura sudah terpasang. Rencananya, PLN Batam bersama UBE membangun sambungan atau "tie in" di Pulau Pemping sepanjang 5,5 km lalu ke Tanjung Uncang sepanjang 13,7 km.

Namun, sampai saat ini, pipa itu belum terealisasi. Hal itu ditegaskan Humas PLN Batam, Wina yang ditemui di Batam. "Penyambungan pipa dilakukan konsorsium, tapi belum selesai," kata dia.

Ekspor Gas
Hampir seluruh produksi gas Natuna diekspor. Tidak ada satu pun keterangan yang ANTARA peroleh menyebutkan hasil gas Natuna digunakan untuk kebutuhan dalam negeri.

Mantan Kadistamben Natuna, Basri, juga memastikan sejak awal eksploitasi gas Natuna untuk Singapura.

"Pipa yang ada itu ke Singapura," kata dia.

Ironis rasanya, Kepri memiliki sumber daya luar biasa yang diincar dunia, tapi, tidak dapat menikmati cita rasa energi gas Natuna. (ANT)



Pewarta:
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2026