
Pulau Putri semakin tandus

....Dulu di sana banyak pohon kelapa, sekarang hanya satu....
Batam (ANTARA Sumsel) - Pulau terluar NKRI yang berhadapan dengan Singapura dan Malaysia, Pulau Putri, semakin tandus.
"Dulu di sana banyak pohon kelapa, sekarang hanya satu," kata Wali Kota Batam Ahmad Dahlan di Batam, Kamis.
Menurut Wali Kota, pohon-pohon di Pulau Putri semakin berkurang karena abrasi.
Wali Kota yang semasa kecil dan besar di sekitar pulau terluar itu menyayangkan kondisi pulau yang semakin "botak".
Di tempat yang sama, Kepala Dinas Kelautan, Perikanan, Pertanian dan Kehutanan Kota Batam Suhartini mengatakan, selain karena abrasi, pohon-pohon di Pulau Putri hancur akibat limbah sludge oil yang kerap mencemari.
"Limbah itu lengket dan merusak bakau. Bakau bisa mati," kata dia.
Ia mengatakan, perlu pembersihan pulau dari limbah untuk menyelamatkan pulau itu.
Ketua RW 06 Kelurahan Sambau, Abas mengatakan, luas Pulau Putri di Kota Batam Kepulauan Riau terus menyusut.
"Dulu pada tahun 1960-an, luasnya enam kali lapangan sepak bola, sekarang kalau lagi pasang, tidak sampai satu lapangan sepak bola," kata Abas.
Menurut Abas yang rumahnya di tepat di bibir Pantai Nongsa berhadapan dengan Pulau Putri mengatakan luas Pulau Putri tiap hari terus berkurang karena abrasi.
Awalnya, kata dia, pulau itu memanjang seperti melindungi sebagian Pantai Nongsa dari perairan internasional. Namun kini, pulau itu seperti terbagi menjadi tiga pulau, karena bagian tengah pulau digenangi air laut.
"Kalau sedang surut, di antara kiri dengan yang tengah nampak batu-batu yang menghubungkannya," kata dia.
Menurut dia, abrasi di pulau itu sangat parah. Batu-batu yang hancur akibat ditembak kala konfrontasi Indonesia-Malaysia terbawa air laut kala pasang.
"Pulau itu jadi sasaran tembak tentara yang latihan perang dalam konfrontasi dengan malaysia," kata dia.
Selain itu, batu karang hancur akibat limbah minyak hitam yang kerap terbawa arus dari perairan internasional. (ANT-Y011)
Pewarta:
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2026
