Logo Header Antaranews Sumsel

IWAPI minta pemerintah atur pajak pengusaha kecil

Selasa, 20 November 2012 20:33 WIB
Image Print
...Harus dilakukan perbedaan pajak antara usaha mikro kecil dan menengah dengan usaha yang sudah tumbuh menjadi industri besar...

Palembang (ANTARA Sumsel) - Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia meminta pemerintah mengatur pajak khusus usaha mikro kecil dan menengah mengingat penyamarataan yang diberlakukan kerap memberatkan pengusaha kecil.

"Harus dilakukan perbedaan pajak antara usaha mikro kecil dan menengah dengan usaha yang sudah tumbuh menjadi industri besar, sementara ini IWAPI mengamati disamaratakan padahal skala pendapatan jelas berbeda di antara keduanya," kata Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat IWAPI Nita Yudi dalam keterangan pers bersama Ketua Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) Okke Hatta Radjasa dan Ketua PKK Sumsel Eliza Alex Noerdin seusai membuka pameran dagang di Palembang, Selasa.

Ia mengemukakan, peran UMKM tidak bisa dikesampingkan dalam membangun perekonomian dalam negeri dengan terbukti mampu menguasai pasar hingga 60 persen. Sementara, 49 persen dari persentase itu merupakan usaha yang digerakkan perempuan.

Selain itu, sektor usaha dengan modal relatif kecil itu mampu bertahan ditengah krisis ekonomi global karena mengandalkan bahan baku dan pasar dalam negeri.

"Keandalan dari UMKM sudah teruji dari terpaan krisis ekonomi moneter, artinya sudah sepatutnya pemerintah membuat aturan sendiri mengenai pajak dan penyaluran kredit perbankan karena sejauh ini Indonesia merupakan negara dengan bunga bank yang tinggi dibandingkan negara lain," katanya.

Terkait dengan krisis ekonomi global saat ini, ia menilai relatif tidak berpengaruh dengan omset pengusaha UMKM di Indonesia, meski tak membantah terjadi penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.

"Jika dibandingkan negara-negara lain, Indonesia justru relatif lebih baik karena bersama China tercatat sebagai negara yang pertumbuhan ekonomi relatif baik. Meski demikian, IWAPI berencana melakukan pelatihan khusus menghadapi krisis itu yang diprediksi berlangsung relatif lama.," ujarnya.

Senada, Okke mengatakan meski terkena imbas krisis tapi Indonesia relatif lebih baik dibandingkan negara lain karena hanya mengalami perlambatan ekonomi. Malahan, ia menilai situasi itu berdampak positif karena sejumlah investor berbondong-bondong ke Indonesia akibat perekonomian eropa stagnasi.

Hanya saja, ia mengingatkan para pengusaha kecil menjadikan keadaan itu untuk motivasi meningkatkan kualitas produk agar mampu bersaing di pasar internasional.

"Peran IWAPI dibutuhkan di sini terutama dalam meningkatkan mutu suatu produk. Dengan kualitas baik maka pengusaha Indonesia akan mampu bersaing meski harga yang ditawarkan relatif tinggi. Namun, jika kualitas tidak baik maka meski murah tetap saja kalah bersaing," kata istri Menteri Perekonomian ini.

Ia yang menjadi Ketua Organisasi Cinta Tenun Indonesia juga sepaham jika nantinya pemerintah memberikan perlakukan pajak khusus bagi UMKM.

"Pengrajin tidak bisa disamakan dengan buruh, karena pada prinsipnya mereka adalah seniman. Dari tahap pembuatan kemudian produksi hingga menjadi suatu produk harus dibedakan pajaknya karena setiap tingkatan dari hulu ke hilir itu berbeda," katanya.

IWAPI memiliki anggota sekitar 20 ribu pengusaha meliputi 85 persen UMKM, 13 persen pengusaha menengah, dan hanya 2 persen pengusaha besar seperti Sari Ayu Martha Tilaar.

Selain menggelar pameran dagang, juga digelar Rakernas ke-23 IWAPI dengan dihadiri 800 orang pengusaha perwakilan 30 Dewan Pimpinan Daerah. (ANT/pso-039)



Pewarta:
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2026