
Wong Palembang mimpikan negeri bebas kabut asap

...Kabut asap tidak hanya menimbulkan masalah bagi masyarakat di Tanah Air saja, tetapi juga menjadi masalah bagi masyarakat di negara tetangga...
Palembang (ANTARA Sumsel) - Musim kemarau selalu menjadi permasalahan di Indonesia, mulai dari kekeringan, sulit mendapatkan air bersih, dan kabut asap yang bisa mengganggu kesehatan serta transportasi darat, laut dan udara.
Khusus kabut asap tidak hanya menimbulkan masalah bagi masyarakat di Tanah Air saja, tetapi juga menjadi masalah bagi masyarakat di negara tetangga.
Kota Palembang dan sejumlah daerah Sumatra Selatan lainnya tidak terlepas dari gangguan kabut asap itu.
Kabut asap yang menyelimuti udara Kota Palembang sejak beberapa pekan terakhir mulai mengganggu berbagai aktivitas warga kota yang dikenal dengan ikon Jembatan Ampera itu.
Warga kota yang mayoritas muslim itu tampak terganggu kekhusukan beribadahnya.
Ketika melakukan shalat subuh, ummat muslim di Bumi Sriwijaya itu terganggu kekhusukannya, karena udara yang dihirup tercemar polusi asap pembakaran atau kebakaran lahan.
Seperti suasana di Masjid Hijratul Umum, Jalan Dwikora Palembang dan sejumlah masjid lainnya, tampak jamaah shalat subuh kurang khusuk karena di sela-sela imam membacakan ayat suci Alquran mereka silih berganti batuk akibat asap terlalu menyengat di hidung.
Salah seorang jamaah masjid, ustadz H.Irwansyah, mengatakan, dia dan jamaah shalat subuh lainnya merasa sesak napas dan batuk karena udara yang mereka hirup tercemar polusi asap pembakaran atau kebakaran lahan.
Kabut asap yang melanda Bumi Sriwijaya ini sudah sangat mengganggu dan perlu segera diatasi oleh pemerintah setempat.
"Saya yang biasa keluar rumah pada subuh hari untuk melaksanakan ibadah shalat di masjid sudah mulai mengalami batuk-batuk dan jika kondisi kabut asap semakin parah dikhawatirkan bisa mengganggu kesehatan," ujar ustadz Irwansyah.
Begitu juga di kawasan Lapangan Hatta dan Kambang Iwak yang menjadi tempat warga Palembang berolahraga, tampak warga kurang nyaman melakukan aktivitasnya tersebut karena tidak mendapatkan udara yang sejuk seperti biasanya.
Menurut warga yang biasa melakukan olah raga pagi, David, kondisi kabut asap yang mencemari udara Kota Palembang, membuat sejumlah temannya sejak pekan lalu sementara tidak bisa bersama-sama berolahraga pagi hari di kawasan Kambang Iwak.
Alasan teman-teman menghentikan sementara aktivitas olahraga di luar rumah karena udara yang berasap, sehingga membuat mereka sesak napas dan batuk-batuk, padahal tujuan olahraga untuk menyehatkan badan bukan malah sebaliknya, ujar dia.
Akibat kabut asap suasana di kawasan Kambang Iwak dan Lapangan Hatta Palembang serta beberapa tempat yang biasa dijadikan tempat berkumpul dan berolahraga bersama, tampak sedikit sepi dibanding biasanya.
Badan Lingkungan Hidup (BLH) Palembang melihat kabut asap semakin pekat menurunkan petugas ke lapangan untuk melakukan pengecekan kualitas udara di Kota Pempek itu.
Kepala Bidang Pengendalian dan Pencemaran Lingkungan BLH Palembang, Novrian Fadillah, menjelaskan berdasarkan hasil pengecekan di sejumlah titik diketahui kualitas udara di kota ini di atas standar baku mutu dan mengimbau warga agar sebaiknya menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah.
Kondisi Particulate Matter (PM10) dalam bentuk asap, debu dan uap di Kota Palembang sekarang jumlahnya sudah di atas standar baku mutu lingkungan yang idealnya PM10 sebesar 150 mikrogram per meter kubik (150 g/NM3), kata Novrian.
Gelar Dzikir Bersama
Forum Keluarga Darussalam menggelar doa dan dzikir bersama untuk memohon kepada Allah SWT melepaskan penderitaan warga Kota Palembang, yang sedang mengalami bencana kabut asap serta dampak lain dari kemarau panjang.
Melalui doa dan dzikir bersama diharapkan Bumi Sriwijaya dan daerah sekitarnya segera diberkahi dengan turunnya hujan cukup lebat sehingga bisa memadamkan api yang membakar hutan atau lahan yang menjadi sumber kabut asap, kata Koordinator Forum Keluarga Darussalam (FKD) KMS Abdul Hamid Ahmad.
Kegiatan doa dan dzikir bersama yang digelar di Masjid Darul Muttaqin kompleks Maskarebet KM 9 Palembang, dirangkaikan juga dengan pembacaan ayat-ayat suci Al Quran oleh ustadz H.Irwansyah dan mendengarkan tausyiah dari ustadz H.Abubakar Al-Habsyi.
Menurut Koordinator FKD, kabut asap yang menyelimuti udara Kota Palembang akhir-akhir ini telah mengganggu aktivitas dan kesehatan masyarakat.
Kondisi cuaca yang kurang bersahabat sekarang perlu dkendalikan dengan memohon kepada Allah SWT agar di kota ini segera diturunkan hujan yang lebat, dan musim kemarau ini bisa segera berakhir sesuai dengan prakiraan pihak Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pada Oktober 2012 mulai musim penghujan, kata Abdul Hamid.
Selain dzikir dan doa bersama memohon kepada Sang Pencipta, warga Palembang mendesak pemerintah daerah setempat untuk melakukan hujan buatan.
Musim kemarau yang cukup panjang mulai dikeluhkan menimbulkan dampak kekeringan lahan pertanian dan lingkungan permukiman serta kabut asap, sehingga ada permintaan dari masyarakat agar pemerintah daerah setempat melakukan hujan buatan untuk mengatasi masalah tersebut.
Gubernur Sumsel H.Alex Noerdin mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPN) untuk melakukan teknologi modifikasi cuaca atau hujan buatan.
"Kita sudah mengajukan kepada BNP untuk melakukan hujan buatan di provinsi ini, namun karena sekarang mereka sedang fokus mengendalikan kabut asap di Riau yang sedang menggelar PON, belum bisa dilakukan dalam waktu dekat," ujar Alex.
Kasi Observasi dan Informasi Stasiun Klimatologi Kenten Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Sumsel Indra Purnama mengatakan Kota Palembang dan sekitarnya pada September mulai cukup banyak turun hujan.
"Hujan yang turun beberapa kali pada September ini merupakan hujan alami, dan diharapkan intensitas curah hujan terus meningkat sehingga kabut asap bisa diatasi tanpa dilakukan hujan buatan," ujar pejabat BMKG itu.
Berdasarkan prakiraan cuaca saat ini, curah hujan di Kota Palembang dan sekitarnya pada September berkisar 50 hingga 150 mm atau meningkat dari bulan Agustus lalu yang hanya 20-50 mm.
Jika tidak ada perubahan wilayah Kota Palembang dan beberapa kabupaten/kota Sumsel lainnya mulai memasuki musim penghujan pada Oktober nanti dengan curah hujan hingga 150 mm ke atas, kata Indra.
Mimpikan Negeri Bebas Asap
Warga Palembang yang tergabung dalam Forum Keluarga Darussalam (FKD) melalui koordinatornya KMS Abdul Hamid Ahmad mengatakan, Indonesia yang memiliki dua musim yakni musim kemarau dan musim hujan merupakan suatu anugerah yang patut disyukuri.
Manusia diberikan Allah SWT kemampuan untuk berpikir dan keterampilan mengendalikan alam.
Musim kemarau yang selalu menimbulkan berbagai masalah dan gangguan aktivitas masyarakat di negeri ini sepertinya belum bisa dikendalikan dengan baik oleh orang-orang "pintar" dan pejabat di negeri ini.
Setiap musim kemarau selalu terjadi masalah kekeringan, sulit mendapatkan air bersih, dan kabut asap yang bisa mengganggu kesehatan serta transportasi darat, laut dan udara.
Masalah tersebut merupakan pekerjaan rumah (PR) bersama bangsa ini, semoga pada masa yang akan datang bisa ditemukan solusi yang tepat.
Dengan adanya solusi yang tepat dari para pemikir dan pejabat negeri ini diharapkan ke depan musim kemarau tidak menjadi ancaman mengganggu berbagai aktivitas serta kelangsungan hidup bangsa yang memiliki negeri yang kaya raya dan tanah syurga ini.
Negeri impian yang terbebas dari masalah kabut asap semoga bisa segera terwujud dan masyarakat Indonesia bisa hidup lebih nyaman dan sejahtera. ***3***
(Y009)
(T.Y009/B/H-KWR/H-KWR) 18-09-2012 20:50:35
Pewarta: Oleh Yudi Abdullah
Editor: Yudi Abdullah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
