Logo Header Antaranews Sumsel

Harga karet ekspor Sumsel turun

Selasa, 14 Agustus 2012 18:01 WIB
Image Print
Ilustrasi - Transaksi karet petani (FOTO ANTARA)
....Memang harga karet sekarang ini tidak menentu, bisa saja hari ini turun dan esok hari bergerak naik dan seterusnya....

Palembang (ANTARA Sumsel) - Harga bahan olah karet (bokar) kualitas 90 persen di tingkat pabrik di Sumatera Selatan, Selasa tercatat Rp22.022 per kilogram atau turun tipis dibandingkan sebelumnya kisaran Rp22.036 per kg.

Sekretaris Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Sumsel H Awie Aman di Palembang, Selasa mengatakan harga bokar kualitas 90 persen di tingkat pabrik saat ini turun tipis.

Dia menambahkan sejak akhir bulan lalu hingga saat ini ada kecenderungan harga turun bahkan semakin rendah.

"Memang harga karet sekarang ini tidak menentu, bisa saja hari ini turun dan esok hari bergerak naik dan seterusnya atau tergantung harga pasaran luar negeri," katanya.

Data dihimpun di Gapkindo setempat, khusus selama tiga hari terakhir memang terus bergerak turun, walaupun selisihnya tipis seperti pada 8 Agustus tercatat Rp22.986 per kg, dua hari kemudian turun lagi menjadi Rp22.036 dan terakhir Selasa turun tipis hingga Rp22.022 per kg.

"Karet Sumsel sebagian besar diekspor, sehingga harga selalu berpatokan dengan pasaran di luar negeri," katanya.

Ia menjelaskan, harga karet sekarang ini cenderung bergerak turun, namun volume ekspor malah sebaliknya terjadi peningkatan.

Volume ekspor karet Sumsel, saat harga normal biasanya rata-rata kisaran 60 ribu ton per bulan, sekarang sejak harga terus turun justru meningkat hingga mencapai 70 ribu ton per bulan.

Karet yang diekspor tersebut, kata dia, dipasok dari sejumlah daerah penghasil, antara lain didatangkan dari hasil petani di Kabupaten Muara Enim, Lahat, Prabumulih, Banyuasin, Musi Banyuasin, Ogan Komering Ulu, Ogan Komering Ilir termasuk dari Kabupaten Musi Rawas.

Sedangkan industri pengolahan karet yang biasa menampung hasil petani tersebut antara lain pabrik PT Remco, PT Sunan, dan PT Kelingi.

Masing-masing pabrik tersebut ketika harga normal rata-rata per hari puluhan mobil truk sarat bermuatan karet melakukan transaksi, sekarang ketika harga turun paling delapan hingga sepuluh unit mobil truk saja.

Hasil karet Sumsel selain melalui petani secara tradisional, sebagian besar dipasok perusahaan perkebunan besar swasta nasional dan asing baik melalui pasar lelang maupun lewat pedagang pengumpul. (ANT/M033)




Pewarta:
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2026