Logo Header Antaranews Sumsel

Hutan dibabat tatanan orang rimba rusak

Sabtu, 21 Juli 2012 00:11 WIB
Image Print
Suku anak dalam atau 'orang rimba' saat membersihkan hasil buruan (Antarasumsel.com/Foto Heriyadi Asyari)
....Sedikitnya enam kelompok besar SAD yang selama ini mendiami kawasan hutan bufferzone TNKS Bukit Bujang Panjang. Hidup mereka jadi kocar-kacir saat proses 'land clearing' oleh PT MAP Harum Energy Group sejak 2009....

Jambi (ANTARA Sumsel) - Pembabatan seluas 13 ribu hektare hutan Bukit Bujang Panjang yang merupakan penyangga Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) Jambi merusak tatanan hidup enam kelompok besar Suku Anak Dalam (SAD) atau dikenal 'orang rimba" yang mendiami kawasan tersebut.

"Sedikitnya enam kelompok besar SAD yang selama ini mendiami kawasan hutan bufferzone TNKS Bukit Bujang Panjang. Hidup mereka jadi kocar-kacir saat proses 'land clearing' oleh PT MAP Harum Energy Group sejak 2009," kata Fasilitator Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi Jambi Adi Junedi di Jambi, Jumat.

Menurut dia, sebelumnya keenam kelompok SAD tersebut hidup berburu, meramu makanan dan sebagian berkebun karet di dalam kawasan hutan tersebut, namun kini mereka terpaksa tercerai berai menjadi kelompok-kelompok kecil yang pergi ke kawasan lain hingga belasan kilometer dari tempat semula guna mencari penghidupan dan tempt tinggal baru.

''Mereka kini sudah menyebar hingga belasan kilometer dari tempatnya semula bahkan ada yang sudah sampai ke kabupaten Merangin, sekedar untuk mencari sumber penghidupan baru, itupun tidak lagi bisa menjadi pemburu atau mengambil hasil hutan melainkan berubah menjadi buruh upahan pada masyarakat desa,'' ujar Junedi.

Menurut Bujang Rancak, anggota dari kelompok kecil beranggotan satu atau dua kaluarga yang masih bertahan di kawasan Bukit Bujang Panjang, saat ini hidupnya sangat memprihatinkan karena sudah tidak bisa lagi berburu dan tidak ada lagi hasil hutan yang bisa diambil.

''Semua rimba sudah tergelobak (terkelupas), kita jadi tidak bisa berburu lagi, jangankan mau berburu babi hutan, menemukan katak saja sudah susah, sementara dari hutan yang sudah ditebang mana ada lagi rotan, manau, jernang, madu lebah sialang, buah-buahan atau umbi-umbian, semuanya sudah habis,'' kata Bujang Rancak.

Menurut dia, dulunya sebelum perusahaan PT MAP membabat habis hutan ada empat kelompok besar SAD yang tinggal di kawasan tersebut yakni kelompok Bujang Rancak, kelompok Bujang Tampui, Bujang Haru, dan Bujang Gaya, sementara beberapa kelompok lainnya tinggal di sisi hutan yang lain.

Selain berburu di hutan, SAD juga mengupayakan memiliki lahan kebun dan sepakat membuka dan menggarap sebuah bukit seluas 20 hektare yang berada tak jauh dalam kawasan dengan mengembangkan tanaman karet dan tanaman buah-buahan.

''Kini bukit itu telah digusur dan dibabat perusahaan, kebun kami semua yang sebukit itu hanya diganti rugi Rp200 ribu, karena itulah kini kami tak punya tempat tinggal dan tempat berburu lagi sehingga kelompok kami berpencar dalam kelompok kecil,'' ungkapnya.

Sebagai pemburu, tambah dia, mereka memburu babi hutan, labi-labi, kuwau (ayam hutan), tenuk, trenggiling, kijang, rusa, ular, dan terkadang beruk, sementara dari sungai, tambah dia, dulu sebagai tempat mereka mencari ikan dan kura-kura.

''Kini kesemua hewan buruan sumber makanan kami itu telah hilang lenyap entah kemana, suara burung saja kini sudah tidak terdengar lagi, karena hewan takut mendegar bunyi mesin gergaji dan buldozer, sementara air sungai juga semakin susut hingga ikan tak terlihat lagi,'' ujarnya.

Saat ini, kelompok-kelompok kecil SAD yang terpencar dan menyebar tersebut bekerja serabutan sebagai buruh upahan kepada para warga desa yang ingin membersihkan kebun karetnya, dengan imbalan upah antara Rp30 hingga Rp50 ribu per hari.

''Kalau di sini tak ada lagi yang bisa kami kerjakan maka kami akan pindah ke tempat lain ke sekitar desa lain dan mengharapkan ada warga desa yang bermurah hati mempercayakan kami pekerjaan,'' katanya. (ANT)



Pewarta:
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2026