Logo Header Antaranews Sumsel

Petani Bangka sulit air bersih

Minggu, 1 Juli 2012 20:28 WIB
Image Print
Sungai sudah tercemar tidak bisa untuk mencuci lada (FOTO ANTARA)
....Selama ini, petani menggunakan air kolong atau bekas penambangan bijih timah yang sudah lama ditinggalkan. Namun pada musim kemarau, air kolong tersebut menyusut dan tidak lagi memadai untuk pencucian biji lada....

Toboali, Bangka Selatan (ANTARA Sumsel) - Para petani sekarang ini mengeluhkan kesulitan mendapatkan air bersih untuk mencuci hasil lada, karena sungai di daerah Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Bangka Belitung tercemar limbah penambangan bijih timah.

"Pada musim panen lada tahun ini, kami kesulitan mencuci biji lada, karena terbatasnya ketersediaan air bersih," ujar Timan, salah seorang petani di Toboali, Bangka Selatan (Basel), Minggu.

Ia menjelaskan, untuk menjaga kualitas dan tetap putih, lada harus dicuci air sungai yang bersih serta mengalir.

Jika tidak, menurutnya, lada akan bewarna kecoklatan kehitam-hitam dan aromanya juga berbau lumpur atau limbah tambang timah.

"Selama ini, kami menggunakan air kolong atau bekas penambangan bijih timah yang sudah lama ditinggalkan. Namun pada musim kemarau, air kolong tersebut menyusut dan tidak lagi memadai untuk pencucian biji lada," ujarnya.

Ia mengatakan, untuk menjaga kualitas lada, mereka terpaksa mencari sungai-sungai di tengah hutan, karena belum tercemar penambangan timah.

"Kami menelusuri sungai-sungai di tengah hutan airnya masih jernih agar kualitas tetap terjaga baik dan harga jual lada di pasar tidak terlalu anjlok yang akan merugikan petani," tuturnya.

Dikatakannya, jika mereka paksakan mencuci lada di air yang kotor, otomatis kualitas lada juga buruk, sehingga harga jual di pasar akan semakin rendah, sementara biaya pengelolaan, perawatan selama empat tahun sangat tinggi.

"Lebih baik mencari air bersih agar lada tetap putih dan dengan harga tinggi, sehingga kami bisa untung," paparnya.

Hal senada dikatakan, Suhali, yang mengungkapkan kesulitan mereka mendapatkan sumber air bersih untuk mencuci hasil panen lada.

"Saat ini, air sungai mulai menyusut, keruh dan berbau dan tidak baik untuk mencuci lada," ujarnya.

Ia berharap, pemerintah daerah atau aparat kepolisian memperketat pengawasan dan menindak tegas penambangan yang beroperasi di sumber-sumber air bersih.

"Apabila sungai-sungai terus ditambang, ketersediaan air bersih semakin berkurang, baik untuk kebutuhan sehari-hari masyarakat, apalagi selama musim kemarau, sumber air bersih menyusut," demikian Suhali.(Ant)



Pewarta:
Editor: M. Suparni
COPYRIGHT © ANTARA 2026