
Hewan buruan, simbol cinta Orang Rimba

....Orang Rimba memaknai cinta sebagai esensi sakral dari sebuah kekaguman, pengabdian dan kesetiaan....
Cinta, seperti dalam percakapan Plato, seorang filsuf besar dari Yunani dengan gurunya adalah sebuah ranting yang paling menakjubkan. Ranting tersebut harus ditemukan pada perjalanan di sebuah ladang gandum yang luas, tanpa boleh mundur kembali.
Namun, dalam pencariannya, plato ternyata tidak dapat menemukan satu ranting pun. Akhirnya dia kembali kepada sang guru dan mengatakan bahwa tadi dia telah menemukan sebuah ranting yang dianggapnya paling menakjubkan, tapi dia berpikir akan menemukan ranting lain yang lebih menakjubkan pada perjalanannya selanjutnya.
Dari sepenggal cerita filosifi cinta antara Plato dan sang guru, membuktikan bahwa cinta adalah sebuah rasa kekaguman yang berbalut dengan sikap penerimaan apa adanya dari hal yang dicintai tersebut.
Begitupun yang terjadi pada Orang Rimba yang hidup rukun turun temurun sejak ratusan tahun lalu disejumlah kawasan hutan Jambi khususnya di Taman Nasional Bukit Dua Belas (TNBD) Kabupaten Sarolangun.
Orang Rimba memaknai cinta sebagai esensi sakral dari sebuah kekaguman, pengabdian dan kesetiaan.
Nyelisi, seorang laki-laki rimba yang telah lebih dari setahun ini memperistri Becandal, merasa bahwa cinta lebih kepada sebuah pengorbanan.
Bagaimana tidak, dalam adat istiadat Orang Rimba, terdapat hukum yang kuat dalam pengaturan hubungan lawan jenis. Laki-laki Rimba dewasa tidak diperbolehkan memiliki hubungan dekat karena dianggap sebagai sebuah pantangan (cempalo).
Laki-laki rimba biasanya memilih pasangan dilihat dari sikap dan tingkah lakunya, serta ketekunan dalam bekerja. Cantiknya raut wajah tidak menjadi hal mendasar untuk bisa jatuh cinta.
Berbeda untuk perempuan rimba, keputusan untuk bisa menjadi suaminya tergantung pada keputusan Bapak dan warisnya yang meliputi saudara laki-lakinya maupun saudara perempuannya.
Tidak ada istilah pacaran bagi mereka. Nyelisi harus mengabdi pada keluarga Becandal yang dikenal dengan istilah "Besemendo" agar direstui memperistri anak gadis dalam keluarga tersebut.
Besemendo, merupakan sebuah ritual pengabdian seorang laki-laki terhadap keluarga perempuan yang dicintainya.
Bentuk pengabdian tersebut, biasanya berbentuk pemberian hasil buruan seperti Babi kepada keluarga perempuan itu. Tidak hanya itu, besemendo juga berarti mengambil perhatian dari pihak keluarga perempuan melalui pengujian kemampuan seorang laki-laki seperti melintasi kayu licin.
Ini semua dilakukan guna melihat kemampuan laki-laki itu dalam menghidupi anak perempuannya. Besemendo ini dilakukan dalam waktu yang tidak bisa ditentukan, ada dalam jangka waktu yang pendek, dengan dua kali pemberian hewan buruan, ada juga memerlukan waktu lama untuk dalam menaklukkan hati keluarga pihak perempuan.
Meski ada laki-laki yang mau besemendo pada pihak keluarga perempuan yang dicintainya, tapi pihak keluarga bisa saja menolaknya secara halus, jika memang tidak menginginkan laki-laki tersebut sebagai suami dari anak perempuannya.
Dan tidak ada larangan lebih dari satu laki-laki besemendo pada pihak keluarga perempuan, jika mengalami kasus seperti ini maka pihak keluarga perempuan berhak memilih dengan menerima pemberian dari laki-laki tersebut atau menolak pemberiannya sebagai bentuk awal persetujuan.
Temenggung Grip, menyebutkan untuk saat ini hewan buruan sulit didapatkan, meskipun demikian untuk melakukan besemendo biasanya tetap harus memberikan hewan buruan maupun hasil buah-buahan hutan.
Besemendo, sebuah pengabdian kepada keluarga perempuan dan ini ditandai dengan pemberian hewan buruan, buah-buahan dan segala hasil tanaman yang bernilai jual seperti damar, rotan dan jernang. Ini juga merupakan bentuk dari tanggung jawab laki-laki tersebut dalam menghidupi istrinya nanti.
"Kalau sekarang hutan sudah tidak ada lagi, maka hewan buruan yang merupakan simbol pemberian kepada keluarga perempuan pun sulit didapatkan. ujarnya.
Biasanya perlengkapan tersebut berupa kain, dan pencurian juga harus disaksikan oleh satu orang saksi. Ini dilakukan agar laki-laki tersebut dapat mempertanggung jawabkan perbuatannya dalam sidang adat yang digelar.
Dalam sidang adat itu, juga akan dilakukan prosesi bebalai merupakan sebuah prosesi semacam akad nikah bagi Orang Rimba. Prosesi ini bersifat tertutup, yang bermakna sebagai permohonan pengampunan kesalahan kepada para Dedewo dikarenakan kesalahan pihak laki-laki yang telah mencuri barang sebagai upaya penentuan siapa perempuan yang dicintainya.
Dalam upacara bebalai tersebut, digunakan tujuh macam warna dan jenis bunga. Sementara untuk denda adat, pihak laki-laki harus menyerahhkan beberapa lembar kain biasanya dibawah 100 lembar sesuai dengan jumlah yang disepakati.
Jika menikahi anak perempuan tumenggung maka lembar kainnya akan lebih banyak lagi dari pada menikahi anak perempuan wakil tumenggung, depati, mangku debelang batin, menti dan anak dalam. Jumlah kain yang berbeda ini, sebagai bentuk pencucian nama baik keluarga pihak perempuan.
Kalau anak tengganai, yang merupakan tingkatan paling tinggi di kelompok Orang Rimba, jumlah kain sebagai denda adat telah berani mencintai anak perempuan tersebut bisa hingga 100 lembar kain, jelas Grip.
Sesudah denda adat dibayarkan, laki-laki tersebut bisa diampuni dengan menggelar ritual tarik rento, atau disebut juga ritual bebunuh-bunuhan. Dalam ritual ini, keluarga pihak perempuan bisa memukul-mukul laki-laki yang telah melakukan pencurian tersebut dalam ruangan terbuka dan disaksikan oleh seluruh anggota kelompok.
Dan pihak keluarga laki-laki pun tak tinggal diam, mereka akan berusaha menolong laki-laki tersebut dengan mendorong pihak keluarga perempuan yang akan memukul. Setelah ritual tarik rento dilakukan, kedua pasangan tersebut langsung dibuatkan sebuah tempat tinggal yang disebut sesudungon, beratap perlak beralasan kayu yang dibelah dua dengan jenis kayu sembarangan.
Tempat tinggal bagi Orang Rimba memang dibangun dengan sesederhana mungkin, ini dikarenakan mobilitas mereka yang cukup tinggi.
Mereka tidak hidup menetap, tapi semi nomaden, dan sewaktu-waktu ada kematian mereka akan melakukan perpindahan yang disebut dengan melangun. Tempat tinggal yang dibangun itu harus berada di sekitar keluarga perempuan.
Lalu dilanjutkan dengan kegiatan kedua pasangan ini akan mencari ikan malam-malam dengan pengawalan seorang anak kecil.
Proses pengenalan ini berlangsung selama seminggu, dengan melakukan aktifitas bersama tapi tetap ditemani orang lain. Ini sebagai bentuk pembelajaran komunikasi antara kedua pasangan.
Tidak ada patokan usia bagi Orang Rimba untuk menikah, selain karena mereka juga tidak mengenal penghitungan usia.
Orang Rimba biasanya bisa menikah pada masa pubertas yang ditandai pada perempuan dengan datangnya haid pertama dan pada laki-laki terjadinya perubahan bentuk tubuh menuju laki-laki dewasa. (Elviza Diana/staf KKI-Warsi Jambi)
Pewarta:
Editor: AWI-SEO&Digital Ads
COPYRIGHT © ANTARA 2026
