
Berakhir menjadi pedagang buku bekas

....Setelah bertahun-tahun, koleksi buku saya mencapai ratusan sampai bingung sendiri harus dikemanakan. Namun, Tuhan berkehendak lain dan menggiring saya menjadi penjual buku bekas....
Palembang, (ANTARA Sumsel) - Budiman, salah seorang penjual buku bekas di Palembang, kerap kali menjadikan barang dagangannya sebagai koleksi pribadi karena kegemarannya membaca.
Tak jarang pula buku-buku koleksinya itu sengaja dipajang di kios untuk sekadar memuaskan hati.
"Saya sengaja menggangu pembeli dengan memajang buku-buku yang sering dicari seperti serial Harry Potter. Malahan ada yang merengek-rengek agar dijual tapi tetap saja hanya buat saya sendiri," ujar pria berusia 30 tahun ini.
Kegemarannya dalam membaca itu berawal saat diberikan hadiah sebuah buku cerita bergambar (komik) dari sang kakak.
Sejak saat itu, ia gemar membaca beragam jenis buku, seperti sejarah, novel, geografi, musik, dan biografi.
"Pernah saat usia sekolah menengah pertama saya sangat tergila-gila dengan cerita komik Kungfu Boy sehingga setiap hari saya selalu memantau ke toko buku agar tidak ketinggalan seri berikutnya," katanya.
Kehidupan ekonomi keluarga yang sederhana ternyata tidak menghentikan kegemaran lulusan Sekolah Menengah Atas ini dalam membaca.
Ia pun menemukan suatu alternatif yakni dengan berburu buku-buku bekas.
"Setelah bertahun-tahun, koleksi buku saya mencapai ratusan sampai bingung sendiri harus dikemanakan. Namun, Tuhan berkehendak lain dan menggiring saya menjadi penjual buku bekas," ujarnya.
Budiman yang secara rutin berkunjung ke lokasi penjualan buku bekas akhirnya memiliki relasi dengan sejumlah pedagang.
Tidak disangka-sangka, salah seorang pedagang ingin beralih profesi sehingga menawarkannya untuk mengambil alih sebuah kios buku bekas.
"Kebetulan tidak ada kerja karena menganggur setelah putus pendidikan kuliah," ujarnya.
Ia pun memanfaatkan kesempatan itu untuk menjual buku-buku miliknya yang telah usang atau tidak untuk dikoleksi.
"Orang yang gemar membaca buku pasti bisa diajak ngobrol apa saja. Saya pun ingin mewariskan buku-buku terbaik yang pernah dibaca untuk anak cucu karena merasakan manfaatnya dalam mengembangkan diri," katanya.
"Penghasilan yang didapat ternyata bisa menghidupi keluarga. Meski kecil tapi kebahagian tidak bisa diukur semata-mata dengan materi," ujarnya.
Ia pun melakukan pertemanan dengan berbagai kalangan mengingat pelanggan setia buku-buku bekas itu di antaranya pelajar, mahasiswa, pengacara, pengusaha, hingga kolektor barang-barang antik.
"Malahan ada yang meminta usulan saya jika ingin membuat makalah atau penelitian harus membaca buku apa. Terkadang informasi yang dibutuhkan terdapat pada catatan-catatan lama," katanya.
Tak jarang, ia pun saling pinjam koleksi buku karena sama-sama memiliki kegemaran membaca dengan pelanggannya itu.
"Ada pelanggan yang rutin menelpon untuk saling pinjam buku," ujarnya.
Agusman, salah seorang kolektor buku, mengatakan, memiliki kepuasan tersendiri jika mendapatkan buku-buku langkah seperti yang dialami Budiman.
"Buku-buku tentang Soekarno menjadi buruan saya saat ini. Biasanya para penjual sudah mengetahui dan langsung membawakan jika saya berkunjung. Berapapun harganya pasti saya beli meski relatif mahal berkisar Rp300.000 hingga Rp1 juta," ujarnya.
Selain buku Presiden RI pertama itu, ia juga mengumpulkan buku-buku ilmu pengetahuan mengenai hukum dan ketatanegaraan asal Belanda.
"Di toko tentunya tidak mungkin ditemukan lagi. Saya juga mendatangi Jakarta dan Yogyakarta untuk sekadar memburu koleksi," katanya.
Sejumlah pendatang dari provinsi lain dan luar negeri seperti Malaysia dan Singapura, kerap kali berkunjung ke lokasi penjualan buku bekas di kawasan 17 Ilir, Palembang. (Dolly)
Pewarta: Dolly Rosana
Editor: AWI-SEO&Digital Ads
COPYRIGHT © ANTARA 2026
