
Pedagang buku bekas semakin tersisihkan

....Sejumlah pedagang kini resah mengingat lahan milik perorangan itu berpotensi digusur pemerintah untuk penataan kota....
Palembang (ANTARA Sumsel) - Para pedagang yang khusus menyediakan aneka buku bekas di Palembang, Sumatera Selatan keberadaannya hingga kini semakin tersisihkan, seiring dengan tidak ada lokasi usaha yang permanen sejak beberapa tahun terakhir.
Abu Saman, salah seorang pedagang, mengatakan di Palembang, Kamis, kondisi itu berbeda dengan kota-kota lain seperti Yogyakarta dan Jakarta.
Pemerintah kota pada dua provinsi itu menyediakan area untuk berdagang sehingga para pembeli dapat memuaskan keinginan berburu buku-buku bekas dengan harga miring.
"Sebelumnya penjual buku bekas di bawah Jembatan Ampera mencapai puluhan orang, namun setelah berpindah ke samping Masjid Agung tinggal belasan orang saja. Sebagian memutuskan beralih profesi tapi ada juga memilih bertahan," katanya.
Belasan pedagang itu terpaksa menyewa lahan di kawasan Masjid Agung setelah terjadi penggusuran besar-besar pada lima tahun lalu.
Sejumlah pedagang kini resah mengingat lahan milik perorangan itu berpotensi digusur pemerintah untuk penataan kota.
"Lahan yang kami sewa ini sebenarnya tidak dapat dijual oleh pemilik karena masuk kawasan penghijauan. Justru kekhawatiran kami jika nanti dibeli pemerintah karena akan dibabat habis," katanya.
Ia mengharapkan, sebelum melakukan penggusuran itu pemerintah kota menyediakan lahan baru untuk berdagang.
"Tidak masalah pindah tempat asalkan ada lahan untuk berdagang tapi jangan terlalu jauh dari pusat kota, karena target kami adalah kalangan pelajar dan mahasiswa," katanya menjelaskan.
Pedagang lainnya, Budiman, mengharapkan juga perhatian pemerintah mengingat buku-buku bekas itu menunjang kegiatan pariwisata daerah.
Ia menambahkan, pembeli buku bekas dari berbagai kalangan, pelajar hingga kolektor, termasuk pendatang dari Malaysia, Singapura, dan negara-negara Arab, artinya meski barang bekas tapi diburu oleh kaum pendatang.
(Dolly)
Pewarta:
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2026
