
Rajutan hidup orang "basudara" modal sukses MTQN

....Semboyam hidup "potong di kuku rasa di daging" mendorong umat beragama lainnya mencetuskan MTQN bukan tanggung jawab semata basudara Islam....
Ambon (ANTARA Sumsel) - Perhelatan Musabaqah Tilawatil Quran Nasional (MTQN) XXIV di Kota Ambon, ibu kota Provinsi Maluku tinggal hitungan jam dibuka Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Pembukaan yang berlangsung di Lapangan Merdeka Ambon dijadwalkan dilakukan Kepala Negara pada Jumat (8/6) malam, sekitar pukul 20.00 WIT.
Lomba baca kitab suci Al Quran dua tahunan yang nantinya ditutup Wapres Boediono pada 15 Juni 2012 memiliki nilai strategis bagi Provinsi Maluku dengan masyarakatnya hidup dibingkai budaya "Pela dan Gandong".
Warisan leluhur dengan cerminan hidup orang basudara (saudara) itu dipertaruhkan sejak Maluku diputuskan menjadi tuan rumah perhelatan MTQN XXIX di Bengkulu yang menyelenggarakan MTQN XXIII pada 2010.
Semboyam hidup "potong di kuku rasa di daging" mendorong umat beragama lainnya mencetuskan MTQN bukan tanggung jawab semata basudara Islam.
Tekad itu dicerminkan dengan Majelis Pekerja Harian (MPH Sinode Gereja Protestan Maluku (GPM) menjamin 100 Pastori (rumah tempat tinggal pendeta) untuk menampung para kafilah guna meyakinkan pemerintah pusat dikoordinir Gubernur setempat, Karel Albert Ralahalu.
Gayung pun bersambut dengan Keuskupan Amboina menyiapkan Wisma Gonzalo di kawasan Karang Panjang, kecamatan Sirimau, kota Ambon untuk kafilah dari provinsi mana pun tinggal di sana.
Tidak cukup di situ, Rektorat Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) Ambon sebagai institusi intelektual pun merasa terpanggil untuk menyukseskan MTQN XXIX dengan mempertanyakan Wagub setempat, Said Assagaff bisakah mereka menggelar satu mata lomba bernafaskan Islamiah tersebut.
Said Assagaff yang juga Ketua Panitia Daerah MTQN XXIV langsung menggelar rapat dan memutuskan lomba karya ilmiah Quran dilaksanakan di aula UKIM Ambon.
"Saya sungguh terharu dengan kesungguhan hati dari umat Kristen yang bertekad menyukseskan MTQN sebagai wujud kebersamaan sebagai orang basudara," ujarnya.
Bahkan, Said mengisyaratkan umat Kristen lebih siap menyukseskan MTQN dengan dukungan juga diberikan Angkatan Muda GPM dan Pemuda Katholik guna membantu aparat keamanan memelihara stabilitas keamanan.
Di wilayah - wilayah yang mayoritas beragama Kristen juga dipasang lampion bergambar bulan dan sabit oleh Pemuda Kristen sebagai komitmen bahwa MTQN XXIV harus semarak dengan Ambon semakin cantik.
Begitu pun saat Pawai Taaruf sebagai kegiatan mengawali MTQN XXIV yang dilaksanakan pada Kamis (7/6) siang terlihat umat Kristen turut menyertakan mobil hias.
Terpenting juga adalah umat beragama di Maluku menjaga kesakralan MTQN XXIV dengan menggelar doa bersama di Masjid Raya Alfatah yang memohon perhelatan tersebut harus lancar, aman dan sukses.
Kekhusukan zikir bersama tersebut juga meminta kepada Tuhan Yang Maha Esa agar musim hujan di Kota Ambon sejak 1 Mei 2012 tidak menghambat perhelatan MTQN XXIV, terutama pembukaan yang sejak gladi pada awal pekan ini menarik perhatian warga Kota Ambon dan sekitarnya karena pesona interior kubah dei Tribun Lapangan Merdeka Ambon sebagai arena utama.
Pernyataan Menag Suryadharma Ali itu dikemukakan saat meninjau pameran Musabaqah Tilawatil Quran Nasional (MTQN) XXIV di Ambon, Kamis.
Pameran yang dibuka Ibu Indah Suryadharma Ali dihadiri Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu, Wagub Maluku Assegaf dan sejumlah pejabat setempat di Lapangan Galunggung, Ambon.
Di depan saung haji Kementerian Agama, Menag bersama Ibu Indah Suryadharma Ali sempat melihat produk yang dipamerkan. Seperti di saung Balitbang yang memamerkan Al Quran dengan huruf brille, dan stan haji yang menonjolkan layanan melalui dalam jaringan (online) Siskohat.
Kepada pers di saung haji, Menag yang juga didampingi Dirjen Bimas Islam Prof. Abdul Djamil menjelaskan, kerukunan di Ambon memiliki akar yang memang harus terus dipupuk. Dan fakta yang ada, katanya, terlihat tatkala pembukaan pameran MTQN XXIN Ambon, bahwa tarian yang ditampilkan memadukan musik hadrah dan klasik. "Perpaduan Islam dan Kristen terlihat," katanya.
Hal serupa, kata dia, juga bakal terlihat pada acara pembukaan MTQN XXIV Ambon, pada Jumat (8/6) malam. Pada acara yang akan dibuka Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu akan ditampilkan tarian kolosal antarumat, yang menggambarkan ketika berlangsung pembangunan rumah ibadah dan masjid.
Kerukunan umat di Indonesia hendaknya dipandang sebagai sebuah mozaik yang indah. Karena keindahannya pula maka hal itu patut dijadikan contoh bagi daerah lain. Siapa bilang, lanjut dia, di Indonesia tak ada kerukunan. Kerukunan di Indonesia memiliki akar dan memang harus terus dirajut dalam bingkai kesatuan.
"Saya jujur saat mau ke Ambon masih timbul rasa khawatir dengan penayangan berita di TV swasta mengenai stabilitas keamanan, namun setelah tiba di sini (Ambon) kenyataannya terbalik," kata Saefuddin.
Dia memastikan kondisi stabilitas Kota Ambon dengan meninjau lokasi lomba di kampus IAIN di kawasan Air Besar, kecamatan Sirimau dan aula Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) Ambon di kecamatan Nusaniwe.
"Sungguh terbalik kondisi di sini (Ambon) dengan penayangan berita di TV swasta yang bisa saja mengurungkan niat dari kafilah Provinsi lain mengikuti MTQN XXIV di Ambon pada 8 - 15 Juni 2012," tandas Saefuddin.
Bahkan, dia mengakui terharu saat berada di kamus UKIM ternyata dibangun musollah untuk para kafilah dan juri mata lomba karya ilmiah Quran menunaikan sholat di sana.
"MTQN XXIV di Ambon mencerminkan jalinan keharmonisan antarumat beragama yang patut diteladani Provinsi lain," kata Saefuddin.
Dia bahkan dengan para kafilah maupun tim pendampingan bisa berkeliling Ambon difasilitasi Disnakertrans Maluku sebagai Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) pendamping tim Bali selama perhelatan MTQN XXIV.
"Jujur ternyata saya bisa mengitari pusat Kota Ambon hanya mengendarai sepeda motor dengan tidak ada rasa takut," tegas Saefuddin.
Dia berjanji setelah kembali di Balin akan menceritakan kondisi sebenarnya di Kota Ambon agar jangan ada keraguan berkunjung ke Maluku.
"Hidup orang basudara (saudara), terutama Islam - Kristen dibingkai budaya Pela - Gandong sungguh manis dan merupakan aset budaya bangsa Indonesia yang harus dilestarikan generasi muda," kata Saefuddin. (ANT-L005)
Pewarta: Lexy Sariwating
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2026
