Logo Header Antaranews Sumsel

Megalit Pagaralam terdaftar di UNESCO

Rabu, 23 Mei 2012 13:38 WIB
Image Print
Warga Dusun Cawang Baru, Kota Pagaralam, Sumsel, melihat temuan megalit di kebun kopi, berupa arca yang diperkirakan berbentuk seorang prajurit masa Kerajaan Sriwijaya, Selasa (6/3). Kondisi arca mengalami kerusakan terutama bagian kepala yang sudah
Alat ini ada dua peninggalan sejarah di daerah Sumatera yang sudah resmi terdaftar di UNESCO...

Pagaralam, Sumsel, (ANTARA Sumsel) - Peninggalan sejarah berupa megalit yang terdapat di Kota Pagaralam, Sumatera Selatan resmi terdaftar di organisasi pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan PBB (UNESCO), kata salah seorang peneliti di Palembang.

Tim peneliti Balai Arkeologi Palembang Kristantina Indriastuti di Pagaralam, Rabu, mengatakan bahwa saat ini memang ada dua peninggalan sejarah di daerah Sumatera yang sudah resmi terdaftar di United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization.

Kedua peninggalan sejarah itu, adalah Candi Muara Jambi dan megalit di Kota Pagaralam, katanya.

Dikemukakannya, kedua warisan sejarah itu berupa penemuan arca, megalit termasuk situs yang tersebar di berbagai kecamatan dalam wilayah Kota Pagaralam.

"Banyaknya penemuan peninggalan masa Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit itu, bukti pendukung bahwa di Pagaralam memiliki warisan sejarah," katanya.

Kemudian, kata Kristantina, penemuan juga cukup variatif dengan bermacam jenis, seperti lesung batu, lumpang batu, arca, arca menhir, kubur batu, gerbah, titralit, gua batu, dolmen dan ratusan peninggalan sejarah lainnya.

"Ada juga penemuan kampung megalit yang cukup luas mencapai dua hingga tiga hektare, dan isinya cukup banyak seperti arca, lumpang batu, dolmen dan luseng batu," ungkapnya.

Ia mengatakan, memang sebaran peninggalan pra-sejarah cukup banyak bukan hanya di Sumatera saja, tapi ada juga di Pulau Jawa dan Papua.

"Bahkan kalau di Pulau Jawa dan Papua sudah resmi diakui UNESCO sebagai warisan dunia, sementara Jambi dan Pagaralam baru terdaftar dan prosesnya masih panjang," katanya.

Ia melanjutkan, saat ini baru 13 warisan milik Indonesia yang telah dicatat UNESCO menjadi warisan dunia (The World Heritage). Ke-13 warisan itu dikelompokkan dalam tiga kategori berbeda, yaitu warisan alam, cagar alam atau situs, dan karya takbenda.

"Untuk warisan alam Indonesia yang sudah diakui dunia ada empat, yaitu Taman Nasional Ujung Kulon dan Banten diakui pada 1991, Taman Nasional Komodo di Nusa Tenggara Timur diakui 1991, Taman Nasional Lorentz di Papua diakui 1999, dan hutan tropis Sumatera yang mencakup Taman Nasional Gunung Leuser, Kerinci Seblat, dan Bukit Barisan diakui 2004.

Sementara warisan berupa bangunan cagar alam di Indonesia, sudah ada tiga tempat yang diakui UNESCO yaitu Candi Borobudur dan Candi Prambanan diakui 1991, kemudian di 2004, Situs Manusia Purba Sangiran kembali diakui oleh UNESCO.

"Satu lagi kekayaan dimiliki Indonesia diakui oleh dunia yang terbaru adalah sistem pengairan sawah di Bali atau yang dikenal dengan subak," ujar dia.

Kemudian, untuk budaya takbenda milik Indonesia yang sudah dan akan diakui UNESCO, yakni wayang di tahun 2003, keris diakui tahun 2005, batik pada tahun 2009, angklung pada tahun 2010, Tari Saman pada tahun 2011 dan terakhir subak akan dikukuhkan sebagai warisan dunia menurut UNESCO pada Juni 2012.

Sementara itu, Wali Kota Pagaralam, Djazuli Kuris mengatakan, masih cukup banyak peninggalan sejah belum tercatat baik oleh Balai Arkeologi dan BP3 Jambi, karena penyebarannya cukup luas dan lokasi sulit dijangkau.

Dia mencontohkan, di reruntuhan candi di hutan Ribacandi Kecamatan Dempo Tengah, batu balai di Bukit Kayumanis Kecamatan Dempo Utara, ranjang batu di Talangkubangan Kecamatan Dempo Selatan.

"Kalau untuk saat ini ada beberapa situs yang sudah kami lakukan pemeliharaan dan mendapat banyak kunjungan wisatawan yaitu arca Tanjungaro, Tegurwangi, Belumai dan Batu Gong di Dempo Selatan," ungkapnya.

Namun demikian, kata dia, daerah Besemah memiliki peninggalan sejarah yang unik seperti kursi batu, ranjang batu, tapak tangan dan kaki di batu termasuk gua batu. (ANT/As*M033)



Pewarta:
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2026