
Integrasi sawit-sapi tersendat di Banyuasin

Palembang, (ANTARA News) - Dari lima lokasi pengembangan integrasi sawit-sapi di Sumatera Selatan, hanya satu lokasi yang tersendat-sendat yakni di Kabupaten Banyuasin.
Kepala Dinas Peternakan Provinsi Sumsel, Asrillazi menyampaikan itu ketika ditanya mengenai realisasi integrasi sapi sawit di provinsi tersebut di Palembang, Kamis.
Menurut dia, pihaknya melakukan evaluasi, karena daerah itu baik sekali pengembangan peternakan.
"Kita bayangkan peternak itu latar belakangnya dari buruh kelapa sawit, sudah kita lakukan pelatihan, tetapi mungkin belum sempurna pelatihannya," kata dia.
Ia mengatakan, ke depan pelatihannya agak lebih lama, baik sisi pemeliharaan kemudian pakan dan kesehatan hewan.
Selain itu, pihaknya akan melibatkan sarjana dalam membangun desa guna mengembangkan ternak petani, katanya.
Dikatakannya, para sarjana tersebut akan dititipkan ke perusahaan tersebut, sehingga sapi sawit terintegrasi dengan pengembangan perternakan.
Ia mengakui, sebelumnya integrasi sapi sawit ini belum ditanggapi positif oleh teman-teman di perusahaan, tetapi pada waktu di Jambi Menteri Badan Usaha Milik Negara, Dahlan Iskan menyatakan, sangat positif dengan kegiatan integrasi itu.
Menteri BUMN Dahlan Iskan sudah mewajibkan setiap perusahaan BUMN mengembangkan 10 ribu ekor sapi, tutur dia.
Di Sumsel sendiri untuk integrasi sawit-sapi ini sudah dijalankan dengan program 1:3, yakni kalau pemerintah satu, maka perusahaan tiga paket.
Ternyata apa yang disampaikan oleh Menteri BUMN itu malah lebih besar sehingga swasembada daging akan cepat tercapai, tuturnya.
"Saya yakin populasi ternak sapi akan cepat sekali, apalagi jika program dari Pak Dahlan Iskan kita tindak lanjuti di seluruh Indonesia," kata dia.
Untuk di Sumsel sendiri ada 143 perusahaan, jika satu perusahaan diwajibkan 1.000 ekor berarti 143 ribu ekor, demikian Asrillazi. (ANT-SUS)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
