
Ribuan warga Palembang berebut bubur Asyura

Palembang, (ANTARA News) - Sekitar 4.000 warga kawasan 12 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I, Palembang, Sumatera Selatan, Selasa, berebut bubur Asyura dengan mengantre di rumah salah satu penceramah Ahmad Taufik Hasnuri.
Dina (18) mengatakan hampir setiap tahun mereka bersama keluarga dan tetangga mengantre untuk mendapatkan jatah bubur Asyura yang dibagikan penceramah kondang itu.
"Kami membawa mangkok besar untuk mendapatkan bubur yang lezat itu dan mengantre sekitar 30 menit," kata dia.
Menurut dia, setelah mendapatkan bubur mereka bersama keluarga menikmati makanan yang hanya dibagikan setiap 10 Muharram Hijriah itu.
"Bubur tersebut dibagi rata sehingga semua anggota keluarga menikmati makanan yang lezat itu," tambah dia.
Sementara itu, Ustadz Ahmad Taufik Hasnuri selaku pembina Majelis Taklim Raudhatul Ilmi mengatakan sejak tahun 1990-an mereka memasak bubur Asyura untuk dibagikan kepada ribuan warga kurang mampu di daerah itu.
"Membagikan bubur Asyura sebagai tradisi yang telah kami lakukan secara turun menurun dalam rangka memuliakan 10 Muharram," kata dia.
Dia menjelaskan, 10 Muharram dalam sejarah Islam memiliki banyak makna dengan beragam kejadian yang luar biasa di zaman nabi yang berkaitan dengan kekuasaan Allah SWT, seperti Nabi Ayub yang sembuh dari penyakit kudis menahun.
"Tanggal 10 Muharram juga merupakan waktu berbagai hajat yang disampaikan nabi terkabul karena itu umat Islam sangat memuliakan," ujar dia.
Taufik menambahkan, khusus untuk peringatan 10 Muharram tahun ini mereka menyiapkan 10 kuali besar bubur Asyura untuk makanan yang dibagikan kepada ribuan warga yang datang itu.
Bubur tersebut berbahan baku beras 160 kilogram, kentang 70 kg, daging 70 kg, ayam 20 kg, bawang merah 100 kg dan bawang putih 50 kg.
"Bubur tersebut dimasak selama tiga jam, tetapi hanya 30 menit sudah habis, bahkan masih banyak warga yang belum kebagian berdatangan," tambah dia.
Ia mengatakan, 10 Muharram waktu yang sangat tepat untuk saling memberi tetapi bukan berarti bersedekah di hari lain tidak berpahala.
"Karena itu, selain membagikan bubur, kami juga mendistribusikan dana untuk anak yatim piatu yang berasal dari anggota majelis taklim," kata dia. (ANT-037)
Pewarta:
Editor: Yudi Abdullah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
