
Aroma korupsi dan prestasi SEA Games ke-26

.. akankah catatan selanjutnya berkaitan pelaksanaan SEAG kali ini, benar-benar dapat menunjukkan prestasi "luar biasa" anak bangsa di bidang olahraga yang mengagumkan dan diakui dunia, sehingga tertoreh dalam tintas emas ..
Palembang, (ANTARA - News) - Kecemasan Indonesia SEA Games XXVI Organizing Committee (InaSOC) atas persiapan pelaksanaan pesta olahraga dua tahunan, diikuti 11 negara di Asia Tenggara yang sempat disoroti tajam dan mengkhawatirkan banyak pihak, terjawablah sudah.
Gubernur Sumsel, H Alex Noerdin, selaku Penanggungjawab SEA Games yang pembukaan dan penutupan digelar di provinsi yang dipimpinnya, mengaku setiap saat sempat merasa sangat khawatir atas kondisi persiapan disoroti tajam media massa dan berbagai kalangan serta dinilai "carut-marut", sehingga pernah dicap tidak siap.
Salah satu media, bahkan hampir setiap hari melaporkan kondisi "darurat SEA Games" itu.
"Mungkin saya orang pertama yang merasa sangat khawatir dengan kondisi yang terjadi menjelang pelaksanaan SEA Games di sini," ujar Alex mengakuinya.
Apalagi, menurut dia, hampir setiap hari pula, setiap kali bertemu para wartawan, selalu saja menanyakan bagaimana perkembangan terakhir atau progress persiapan SEA Games itu.
"Saya sulit menjawabnya, karena setiap hari kita juga selalu berupaya bekerja keras siang dan malam untuk menyiapkan SEA Games ini sebaik mungkin, di tengah berbagai sorotan tajam dan miring seperti itu. Setiap hari perubahan bisa terjadi karena terus saja dikerjakan beramai-ramai," kata Alex lagi.
Kecemasan dan rasa `deg-degan` serupa pastilah dialami Ketua Umum KONI Pusat/InaSOC Pusat, Rita Soebowo, Rachmat Gobel (Ketua Harian InaSOC), dan tak terkecuali Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Andi Alfian Mallarangeng.
Para petinggi InaSOC maupun Menpora, sampai perlu berkali-kali berkunjung ke Palembang, untuk memastikan kesiapan melaksanakan SEA Games itu, termasuk kemudian kunjungan Wapres dan Presiden.
Bahkan dalam beberapa kali kunjungan meninjau kesiapan pembangunan arena (venues) pertandingan di Palembang, Wakil Presiden Boediono sempat mengingatkan panitia di pusat dan daerah (di Palembang maupun Jakarta) untuk "tidak ada dusta di antara kita", dengan terbuka dapat menyampaikan masalah dan kondisi yang dihadapi apa adanya dan tidak ada sesuai yang disembunyikan.
Diharapkan, dengan keterbukaan itu, permasalahan yang masih menghimpit menjelang pembukaan SEAG itu, dapat bersama-sama dicarikan solusinya. Bukan malah didiamkan dan pada akhirnya akan membuat malu Indonesia selaku tuan rumah, begitu logika Wapres Boediono.
Apalagi, di kalangan wartawan yang terbiasa meliput perkembangan persiapan SEAG itu, "day to day", hari demi hari, kondisinya seperti kian mencemaskan, dan merasakan gelagat "masih ada dusta di antara kita" menyeruak di balik persiapan yang selalu didengungkan.
"Indonesia bisa dan siap melaksanakan SEAG", dan "Palembang siap menjadi tuan rumah SEA Games".
Padahal fakta di lapangan, hingga detik-detik terakhir menjelang pelaksanaan pembukaannya, banyak hal yang terus saja menjadi sorotan tajam dan miring, dan dinilai menunjukkan ketidaksiapan itu.
Namun, pesta pembukaan SEA Games (SEAG) ke-26 di Indonesia, 11-22 November, telah digelar di Gelora Sriwijaya Jakabaring Palembang, Sumatera Selatan, Jumat (11/11) malam, benar-benar membuktikan kesiapan Sumsel menjadi tuan rumah yang baik dan layak diacungi jempol besar-besar--setidaknya hingga acara pembukaan rampung.
Kendati untuk semua itu, biaya sangat besar (biaya pembukaan mencapai sekitar Rp125 miliar), dan risiko mesti ditanggung panitia pusat dan daerah--juga masyarakat Sumsel khususnya.
Tapi peran dominan sponsor dan penyandang dana swasta membuat pelaksanaan SEAG kali ini cenderung "dikomersialisasikan".
Gubernur Alex Noerdin sampai perlu menyampaikan permintaan maaf, terutama kepada masyarakat di daerahnya yang merasa kecewa tidak bisa berbondong-bondong menyaksikan secara langsung acara pembukaan SEAG itu, karena diharuskan membeli tiket yang harganya ratusan ribu rupiah hingga jutaaan rupiah per buah.
"Tak mungkin kami harus membeli tiket masuk menonton pembukaan SEA Games sebesar ratusan ribu sampai jutaan rupiah seperti itu, karena kelewat mahal," ujar Irwan, salah satu warga Kota Palembang pula.
Belum lagi ketentuan InaSOC yang mengharuskan media siaran (televisi), untuk membayar biaya kontribusi penyiaran SEAG yang mencapai 5.000 hingga 150.000 dolar AS, mengingat hak siar dikelola salah satu jaringan televisi nasional.
"Siapa pengelola stasiun televisi yang mau bayar kalau perlu biaya sampai ratusan ribu dolar AS seperti itu," kata Yasa, salah satu pimpinan televisi lokal di Palembang.
Keluhan serupa disampaikan pimpinan televisi non komersial dari Jakarta, dan mempertanyakan ketentuan yang menghambat penyiaran serta publikasi dan promosi SEAG kepada masyarakat luas seperti itu.
Namun semuanya sudah berjalan, ibarat "nasi sudah menjadi bubur".
Acara pembukaan SEAG ke-26 telah berlalu, dan hampir semua orang bersepakat menilainya sebagai sangat meriah, megah, spektakuler, dan juga menghebohkan.
Beberapa warga masyarakat di luar Palembang yang pada malam pembukaan SEAG di Palembang itu menonton siaran langsung di televisi, mengakui kemegahan dan spektakuler acara pembukaan itu.
"Pembukaan SEA Games di Palembang luar biasa, saya bersama anak-anak menontonnya hingga rampung dan terus berdecak kagum," kata Ny Marsi, warga salah satu kota di Pulau Sumatera itu pula.
Sejumlah pelajar di Palembang dan luar Palembang yang dihubungi dan diminta komentar berkaitan pembukaan SEAG itu, juga berdecak kagum dan memuji kehebatan Sumsel sebagai tuan rumah pelaksanaan perhelatan olahraga berkelas internasional yang dipastikan akan tercatat dalam sejarah olahraga dunia.
Situs resmi "SEAGames2011.com" menyebutkan, pesta olahraga dua tahunan diikuti 11 negara di Asia Tenggara ini berlangsung di Indonesia dan dilaksanakan pada dua kota sekaligus, yaitu Palembang dan Jakarta dengan memperebutkan 542 medali emas dari seluruhnya 44 cabang olahraga yang dipertandingkan, dibagi pelaksanaannya di Palembang maupun Jakarta.
Indonesia ditetapkan menjadi tuan rumah SEAG 2011, pada saat Rapat Dewan Federasi SEA Games di Bangkok, Thailand, 6 September 2006.
Tahun ini, adalah keempat kalinya Indonesia menjadi tuan rumah pesta olahraga negara-negara Asia Tenggara setelah SEA Games X tahun 1979, SEA Games XV 1987, dan SEA Games XIX 1997.
Sebagai penyelenggara utama pembukaan dan penutupan SEAG ke-26 di Indonesia itu, Palembang memusatkan pertandingan di Kompleks Olahraga Jakabaring (Jakabaring Sport City) yang diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjelang pembukaan, dengan areal seluas ratusan hektare, termasuk di dalamnya Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring Palembang yang harus direnovasi dan dipercantik sebelumnya.
Panitia penyelenggara SEAG Indonesia (InaSOC) menyatakan ada empat kunci sukses yang harus dicapai selama
pesta olahraga ini, yakni sukses prestasi, sukses penyelenggaraan, sukses pewarisan, dan yang tidak kalah pentingnya adalah sukses ekonomi kerakyatan.
Empat sukses itu, diadopsi Pemprov dan panitia lokal Sumsel menjadi tiga sukses, yaitu sukses penyelenggaraan sebagai tuan rumah yang siap dan baik, sukses mendorong prestasi Indonesia sebagai juara umum, dan sukses ekonomi kerakyatan bagi masyarakat dan daerah Sumsel.
"Pasti, akan banyak dampak positif terutama dalam aspek ekonomi bagi masyarakat dan investasi yang masuk ke Sumsel, sehingga dapat kami rasakan," ujar Guibernur Alex Noerdin pula.
Panitia juga memutuskan menggunakan logo resmi Burung Garuda (sebagai simbol lambang negara Indonesia) dengan filosofi "Garuda Terbang di Atas Alam Indonesia", sebagai lambang negara, Burung Garuda di ranah global dikenal luas dan langsung terasosiasikan dengan Indonesia.
Ditetapkan pula maskotnya, "Modo dan Modi", menggambarkan komodo sebagai satwa khas Indonesia kembar.
Aroma Korupsi Dikritisi
Namun tetap saja, kendati dinilai acara pembukaannya berlangsung mendekati sempurna, "spektakuler", dan seakan mampu mengobati dan menghilangkan carut marut persiapannya yang terkesan "amburadul", kalangan pengkritik terus menyuarakan sorotan tajam mereka atas pelaksanaan SEAG kali ini.
Sosiolog yang rajin menulis buku tentang praktik korupsi di Indonesia, George Junus Aditjondro menilai, di balik sukses pembukaan SEAG ke-26 di Palembang itu, tersimpan masalah dan praktik politik transaksional antara para elite pusat dan daerah ini.
"Ada benang merah dan keterkaitan satu sama lain, dan sedang ditelusuri lagi di baliknya kemungkinan tersembunyi pula dugaan adanya praktik korupsi dan manipulasi," kata dia lagi.
George yang bermukim di Australia itu mengaku, sempat diundang untuk dihadirkan menyaksikan langsung pembukaan SEAG ke-26 di Palembang.
Ia pun menyaksikan gemerlap dan pesona acara pembukaan SEAG yang hingar bingar itu.
Dia menilai, pembukaan SEA Games itu justru benar-benar menampilkan kecanggihan teknologi laser dan penggunaan daya listrik yang luar biasa, sehingga terlihat sangat menakjubkan dan spektakuler.
"Pembukaan SEA Games di Palembang yang semarak, megah, dan spektakuler seperti itu, oleh beberapa kalangan yang berkepentingan dengan daerah ini sangat diperlukan dan berhasil untuk mengangkat Sumsel dan Palembang ke kancah nasional dan dunia, membawanya menjadi mengglobal," ujar dia pula.
Untuk tujuan itu, George mengakui, relatif berhasil.
Namun dia mengingatkan, rentetan masalah berkaitan persiapan SEAG di Palembang, antara lain pembangunan sarana dan prasarananya yang carut marut serta indikasi korupsi di baliknya, seperti mencuatnya kasus korupsi pembangunan Wisma Atlet Jakabaring Palembang--dana pembangunanya mencapai Rp190-an miliar--untuk SEAG ini, juga menjadi catatan dan noda yang sulit terhapuskan.
"Itu salah satu korupsi yang mencuat, saya meyakini masih ada yang lainnya, dan mungkin bernilai lebih besar lagi," kata dia.
Kini banyak orang tahu, kasus korupsi dalam pembangunan Wisma Atlet Jakabaring Palembang telah menimbulkan kehebohan nasional yang mempermalukan banyak elite.
Kasus korupsi sarana untuk atlet SEAG di Palembang yang melibatkan M Nazaruddin yang merupakan petinggi parpol penguasa, dan sederetan kalangan elite politik dan pemerintahan--termasuk menteri dan pejabat negara di lingkungan Kemenpora--masih terus diproses Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Drama korupsi yang dibumbui episode politisasi kasus itu, tetap saja menyeruak.
Bahkan George Aditjondro meyakini, kendati tetap diproses hukum oleh KPK, pada akhirnya tokoh sentral yang disebut-sebut terlibat dalam kasus itu, tidak akan pernah disentuh, apalagi menjalani proses hukum.
Nazaruddin kena, dan beberapa tokoh lainnya juga mungkin segera kena, tapi tidak akan menyentuh kalangan elite puncak, termasuk para pejabat tinggi yang dekat dengan kekuasaan, ujar dia lagi.
Dia menuding, pada akhirnya KPK akan cenderung "mengikuti" maunya elite penguasa.
Sorotan tajam atas persiapan dan pelaksanaan SEAG di Palembang, sejak awal juga disampaikan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumsel.
Forum NGO (LSM) ini menilai, telah terjadi pelanggaran ketentuan hukum, termasuk hukum berkaitan pengelolaan dan pelestarian lingkungan dan tata ruang, dalam kaitan dengan persiapan SEAG itu.
"Kebohongan publik juga dirasakan dan terjadi, antara lain janji Gubernur Sumsel untuk tidak sampai menggunakan dana APBD daerahnya dalam pelaksanaan pesta olahraga ini. Tapi kenyataannya, bisa kita saksikan sendiri," ujar Direktur Eksekutif Walhi Sumsel, Anwar Sadat pula.
Karena itu, dia mendesak pihak berwenang, untuk segera memeriksa dan mengaudit persiapan, pelaksanaannya dan pasca SEAG di Palembang, untuk memastikan tidak terjadi korupsi dan manipulasi di dalamnya.
Walhi Sumsel juga telah mengadukan Gubernur daerah ini ke Polda setempat, dalam kaitan rencana pembangunan kawasan GOR Palembang menjadi Palembang Sport and Convention Center (PSCC) serta mal bawah tanah, semula dikaitkan dengan persiapan SEA Games itu, di dalamnya terjadi pelanggaran aturan hukum maupun berdampak mengusik pelestarian kawasan ruang publik dan area terbuka hijau (RTH) di daerahnya yang masih sangat terbatas.
Seniman Sumsel, Anwar Putra Bayu, juga mengkritik paket acara pembukaan SEAG di daerahnya yang dinilai telah melenceng dari makna sebenarnya, berniat menampilkan budaya tradisional dan seni budaya agung dengan menggaungkan tekad untuk membangkitkan kembali kejayaan Kerajaan Sriwijaya, tapi kenyataannya bukan.
"Banyak hal pantas dipertanyakan, benarkah semua yang ditampilkan itu telah melalui studi dan penelitian ilmiah untuk menunjukkan sebagai bukti dan ciri peninggalan kebesaran Kerajaan Sriwijaya," ujar Anwar mempertanyakan pula.
Belum lagi unsur komersialisasi seni dan budaya, serta kekeliruan dalam mengadaptasikan keluhuran nilai dan semangat leluhur di dalam pelaksanaan pembukaan SEAG itu.
"Sebenarnya, kesan spektakuler dan gemerlap dalam pembukaan SEA Games di Palembang karena ada pesta kembang api dan sinar laser yang harus dibeli sangat mahal dan didatangkan ahlinya dari luar negeri, bukan menonjolkan penampilan seni dan budaya tradisi sendiri, apalagi budaya yang menunjukkan kejayaan Kerajaan Sriwijaya," kata dia.
Dia menilai, acara pembukaan itu ibaratnya hanya berhasil mempromosikan teknologi laser dan kembang api di Indonesia, melalui kemasan SEA Games yang secara kasat mata menjadi megah dan spektakuler.
Padahal di dalamnya nyaris tidak ada makna dan nilai-nilai keluhuran Kerajaan Sriwijaya maupun seni budaya leluhur yang kita bangga-banggakan, ujar Anwar, sastrawan yang juga Sekretaris Dewan Kesenian Sumsel itu pula.
Betapa pun, perhelatan akbar menelan dana ratusan miliar hingga triliunan rupiah sejak persiapan pembangunan sarana dan prasarana, acara pembukaan dan lainnya, telah berlangsung hingga 22 November mendatang.
Kota Palembang dan Provinsi Sumsel--seperti halnya ditekadkan Gubernur Alex Noerdin--akan mencatatkan diri dalam sejarah sebagai salah satu tuan rumah perhelatan akbar internasional di luar Kota Jakarta, sehingga bisa berdiri sejajar dengan kota besar lain di Indonesia dan dunia.
Namun tak boleh dilupakan, akankah catatan selanjutnya berkaitan pelaksanaan SEAG kali ini, benar-benar dapat menunjukkan prestasi "luar biasa" anak bangsa di bidang olahraga yang mengagumkan dan diakui dunia, sehingga tertoreh dalam tintas emas.
Atau kah juga tercatat sebagai SEAG yang sarat kasus korupsi, seperti dituduhkan telah dilakukan Nazaruddin dkk, dengan menggunakan koneksi para elite, demi meraih untung bagi diri sendiri dan kelompoknya, di balik gemerlap kegiatan olahraga internasional.
Pelaksanaan SEA Games ini, semestinya tidak dapat begitu saja mengabaikan hak masyarakat banyak, dan melupakan kebesaran sebagai sebuah negara yang bermartabat.
Hanya sejarah yang jujur akan menuliskan semua itu, SEA Games yang berpretasi atau justru beraroma korupsi di dalamnyua, secara apa adanya. (B014)
Pewarta: Budisantoso Budiman
Editor: Yudi Abdullah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
