Hati-hatii penularan antraks pada hewan ternak
Selasa, 11 Juli 2023 8:27 WIB
Pemprov Riau mewaspadai penularan antraksĀ ke ternak di daerah ini. dok. ANTARA
Pekanbaru (ANTARA) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau mengantisipasi penularan penyakit antraks pada hewan ternak di daerah ini, menyusul penyakit antraks menyerang hewan ternak di wilayah Gunungkidul yang menular ke manusia sehingga menyebabkan tiga orang meninggal dunia.
"Upaya tersebut adalah berupa tindakan memperketat lalu lintas hewan ternak yang akan masuk ke Riau. Upaya ini dilakukan agar hewan ternak khususnya sapi yang masuk ke Riau benar-benar bebas dari penyakit," kata Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Hewan Dinas Peternakan Provinsi Riau drh Faralinda Sari, di Pekanbaru, Senin.
Ia mengatakan sebelum hewan ternak ingin masuk ke Riau, maka harus mendapatkan rekomendasi untuk masuk di samping melihat daerah asal hewan tersebut. Jika ada kasus antraks di daerah tersebut, maka Riau menolak ternak tersebut masuk.
Dia menyebutkan saat saat ini di Riau belum ditemukan kasus antraks, termasuk dalam beberapa tahun terakhir. Riau sampai hari ini masih bebas antraks.
"Kita berharap penyakit antraks jangan sampai menular ke Riau. Sebab penyakit ini sangat berbahaya, selain menular dari hewan ke hewan, juga menular dari hewan ke manusia," katanya lagi.
Parahnya, katanya pula, tanah yang terkontaminasi darah dari hewan yang terkena antraks bisa menjadi media yang dapat menularkan ke hewan meski sudah bertahun-tahun.
Sapi yang makan rumput pada tanah yang terkontaminasi saja bisa menular pula. Sebab bakteri yang keluar dari tubuh hewan terjangkit antraks itu bisa menjadi spora, dan bisa bertahan di lingkungan sampai puluhan tahun sehingga menjadi catatan bahwa kasus antraks selalu ditemukan di daerah yang dulunya pernah ada kasus antraks tersebut.
"Kita mengimbau masyarakat agar waspada terhadap penyakit yang mematikan ini, dan hewan yang sudah terpapar bakteri antraks tidak boleh dikonsumsi. Beberapa ciri-ciri sapi yang terserang penyakit antraks yang paling mudah dilihat adalah sapi mengalami sakit dan mati mendadak. Kemudian ada pendarahan di bagian mulut, mata, hidung, dan anus," katanya lagi.
Jika masyarakat menemukan ciri-ciri hewan yang seperti itu, kata dia, perlu segera melaporkan supaya bisa mendapat penanganan dengan cepat untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.
"Upaya tersebut adalah berupa tindakan memperketat lalu lintas hewan ternak yang akan masuk ke Riau. Upaya ini dilakukan agar hewan ternak khususnya sapi yang masuk ke Riau benar-benar bebas dari penyakit," kata Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Hewan Dinas Peternakan Provinsi Riau drh Faralinda Sari, di Pekanbaru, Senin.
Ia mengatakan sebelum hewan ternak ingin masuk ke Riau, maka harus mendapatkan rekomendasi untuk masuk di samping melihat daerah asal hewan tersebut. Jika ada kasus antraks di daerah tersebut, maka Riau menolak ternak tersebut masuk.
Dia menyebutkan saat saat ini di Riau belum ditemukan kasus antraks, termasuk dalam beberapa tahun terakhir. Riau sampai hari ini masih bebas antraks.
"Kita berharap penyakit antraks jangan sampai menular ke Riau. Sebab penyakit ini sangat berbahaya, selain menular dari hewan ke hewan, juga menular dari hewan ke manusia," katanya lagi.
Parahnya, katanya pula, tanah yang terkontaminasi darah dari hewan yang terkena antraks bisa menjadi media yang dapat menularkan ke hewan meski sudah bertahun-tahun.
Sapi yang makan rumput pada tanah yang terkontaminasi saja bisa menular pula. Sebab bakteri yang keluar dari tubuh hewan terjangkit antraks itu bisa menjadi spora, dan bisa bertahan di lingkungan sampai puluhan tahun sehingga menjadi catatan bahwa kasus antraks selalu ditemukan di daerah yang dulunya pernah ada kasus antraks tersebut.
"Kita mengimbau masyarakat agar waspada terhadap penyakit yang mematikan ini, dan hewan yang sudah terpapar bakteri antraks tidak boleh dikonsumsi. Beberapa ciri-ciri sapi yang terserang penyakit antraks yang paling mudah dilihat adalah sapi mengalami sakit dan mati mendadak. Kemudian ada pendarahan di bagian mulut, mata, hidung, dan anus," katanya lagi.
Jika masyarakat menemukan ciri-ciri hewan yang seperti itu, kata dia, perlu segera melaporkan supaya bisa mendapat penanganan dengan cepat untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.
Pewarta : Frislidia
Editor : Syarif Abdullah
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Warga OKU Timur suka cita terima sapi kurban seberat satu ton dari Presiden Prabowo
27 May 2025 14:50 WIB
Kodim 0418/Palembang kembangkan pertanian perkotaan dukung ketahanan pangan
15 February 2025 19:04 WIB, 2025
Polda Sumsel jadikan 940 hektare lahan kantor sebagai pekarangan gizi
13 January 2025 16:33 WIB, 2025
Terpopuler - Lintas Daerah
Lihat Juga
Tim SAR gabungan selamatkan empat awak KLM Putra Kelana yang bocor di Natuna
06 March 2026 11:12 WIB
10 gajah ngamuk di Siak, ternyata demi selamatkan anak yang masuk tangki septik
22 February 2026 19:30 WIB