Jakarta (ANTARA) - Di tengah situasi yang begitu dinamis dan diwarnai rivalitas antara kekuatan-kekuatan besar, Indonesia berpandangan bahwa Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) harus dapat menjadi lokomotif stabilitas dan kesejahteraan di kawasan.

“Di saat seperti ini, ASEAN harus mampu menjaga kesatuan dan sentralitasnya, agar dapat merespons dinamika yang ada secara efektif. Indonesia ingin ASEAN benar-benar dapat menjadi lokomotif stabilitas dan kesejahteraan kawasan,” kata Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi dalam pengarahan pers terkait KTT ke-38 dan ke-39 ASEAN, yang dipantau dari Jakarta, Selasa.

Dia menjelaskan bahwa pembahasan terkait pentingnya penguatan institusi ASEAN itu menjadi salah satu hal yang dibahas oleh Presiden dalam KTT ASEAN itu.

Untuk dapat mencapai hal tersebut, Presiden mengatakan bahwa penguatan kapasitas dan efektivitas kelembagaan ASEAN perlu segera dilakukan.
 

“Indonesia mengusulkan agar High Level Task Force yang akan mulai bekerja tahun depan untuk mengembangkan Visi ASEAN pasca-2025, juga ditugaskan untuk memberikan rekomendasi tentang penguatan kelembagaan ASEAN,” kata Menlu.

RI berharap agar pada akhir tahun depan rekomendasi tersebut dapat diterima dan pengambilan keputusan untuk penerapan pada 2023 dapat segera diambil.

Dengan demikian, kata Menlu, ASEAN akan siap dan dapat segera lepas landas untuk mewujudkan Visi Baru pasca-2025.

“Indonesia telah menyampaikan Concept Paper tentang penguatan kelembagaan ASEAN dan meminta dukungan dari negara anggota ASEAN lainnya,” demikian Menlu.

KTT ke-39 ASEAN  dijadwalkan berlangsung dari 26 hingga 28 Oktober, di bawah keketuaan Brunei Darussalam, dan dihadiri oleh 9 pemimpin negara ASEAN dan Sekjen ASEAN.

Selain Menteri Luar Negeri, Menteri Sekretaris Negara Pratikno dan Wakil Menteri Luar Negeri Mahendra Siregar turut mendampingi Presiden Jokowi dalam hari pertama pertemuan tersebut.


Pewarta : Aria Cindyara
Uploader : Aang Sabarudin
Copyright © ANTARA 2024