Ritual "Bakar Tongkang" di Rokan Hilir ditiadakan
Jumat, 12 Juni 2020 8:56 WIB
Bupati Rokan Hilir Suyatno (tengah), Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Rokan Hilir Ahmad Yusuf dan Kasubag DokPim Hasnul Yamin. (ANTARA/Dedi Dahmudi)
Bagansiapiapi (ANTARA) - Bupati Rokan Hilir Suyatno menyebutkan ritual "Bakar Tongkang" yang setiap tahun dilaksanakan di Kota Bagansiapiapi, Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau, tahun ini ditiadakan karena alasan antisipasi penyebaran COVID-19.
"Khusus untuk kegiatan Bakar Tongkang Tahun 2020 ini ditiadakan. Jadi kesimpulan rapat kami seperti itu," kata Suyatno, usai menggelar rapat bersama tokoh masyarakat Tionghoa setempat di Gedung Daerah Datuk Batu Hampar, Bagansiapiapi, Kamis (11/6).
Kemudian bupati juga mengimbau warga keturunan Tionghoa di wilayahnya agar melaksanakan kegiatan sembahyang di kelenteng saja.
Sembahyang di kelenteng ini, menurutnya, harus tetap mengacu kepada aturan-aturan yang ada, yaitu protokol kesehatan untuk menghindari COVID-19.
"Semua pengunjung warga keturunan Tionghoa yang ingin sembahyang di kelenteng itu harus pakai masker, sebelum masuk dan keluar harus cuci tangan pakai sabun. Itu yang kami putuskan dalam rapat tadi," kata Suyatno.
Dalam rapat itu, bupati juga minta kepada warga keturunan Tionghoa menginformasikan kepada keluarga-keluarga mereka yang ada di luar Rokan Hilir agar tidak datang ke Bagansiapiapi dalam rangka kegiatan Bakar Tongkang ini.
Bakar Tongkang merupakan tradisi kaum Tionghoa yang datang di Bagansiapiapi, Kabupaten Rokan Hilir, beberapa abad silam. Bakar tongkang berupa ritual pembakaran replika kapal yang bertujuan untuk berterima kasih kepada dewa atas rezeki yang mereka terima di tanah perantauan.
Bakar Tongkang selalu menarik minat ribuan warga Tionghoa dari berbagai daerah di Tanah Air untuk datang ke Bagansiapiapi. Kegiatan itu telah dikemas menjadi agenda wisata tahunan di Provinsi Riau.
"Khusus untuk kegiatan Bakar Tongkang Tahun 2020 ini ditiadakan. Jadi kesimpulan rapat kami seperti itu," kata Suyatno, usai menggelar rapat bersama tokoh masyarakat Tionghoa setempat di Gedung Daerah Datuk Batu Hampar, Bagansiapiapi, Kamis (11/6).
Kemudian bupati juga mengimbau warga keturunan Tionghoa di wilayahnya agar melaksanakan kegiatan sembahyang di kelenteng saja.
Sembahyang di kelenteng ini, menurutnya, harus tetap mengacu kepada aturan-aturan yang ada, yaitu protokol kesehatan untuk menghindari COVID-19.
"Semua pengunjung warga keturunan Tionghoa yang ingin sembahyang di kelenteng itu harus pakai masker, sebelum masuk dan keluar harus cuci tangan pakai sabun. Itu yang kami putuskan dalam rapat tadi," kata Suyatno.
Dalam rapat itu, bupati juga minta kepada warga keturunan Tionghoa menginformasikan kepada keluarga-keluarga mereka yang ada di luar Rokan Hilir agar tidak datang ke Bagansiapiapi dalam rangka kegiatan Bakar Tongkang ini.
Bakar Tongkang merupakan tradisi kaum Tionghoa yang datang di Bagansiapiapi, Kabupaten Rokan Hilir, beberapa abad silam. Bakar tongkang berupa ritual pembakaran replika kapal yang bertujuan untuk berterima kasih kepada dewa atas rezeki yang mereka terima di tanah perantauan.
Bakar Tongkang selalu menarik minat ribuan warga Tionghoa dari berbagai daerah di Tanah Air untuk datang ke Bagansiapiapi. Kegiatan itu telah dikemas menjadi agenda wisata tahunan di Provinsi Riau.
Pewarta : Dedi Dahmudi
Editor : Indra Gultom
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Tahanan narkoba kabur bobol ventlasi ruang kerja kanit reskrim polsek
12 November 2024 8:51 WIB, 2024
Pj Bupati Sandi Fahlepi Kebut Realisasi Tata Kelola Sumur Minyak Warga di Muba
05 July 2024 19:58 WIB, 2024
Terpopuler - Seni & Budaya
Lihat Juga
Dinas Pariwisata Palembang promosikan Ziarah Kubro menjelang 10 hari Ramadhan
17 February 2025 19:57 WIB