Palembang (ANTARA) - Aliansi Mahasiswa Sumatera Selatan (Sumsel) kembali menggelar aksi damai turun ke jalan untuk menegaskan sikap penolakan terhadap Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), sekaligus menyatakan solidaritas atas meninggalnya dua mahasiswa di Kendari, Sulawesi Tenggara.

Sekitar 500 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Kota Palembang berkumpul di Bundaran Air Mancur, Masjid Agung Palembang, Selasa sore.

Mereka mengenakan busana serba hitam sebagai simbol solidaritas terhadap dua mahasiswa korban penembakan di Kendari.

"Kami meminta polisi segera mengusut pelaku penembakan terhadap kawan kami di Kendari, adili siapa pun pelakunya," kata koordinator aksi Radian Ramadhani.

Menurut dia, aksi mereka juga ditujukan kepada korban-korban lain yang terus berjatuhan selama aksi-aksi menolak UU KPK di berbagai daerah sejak dua pekan lalu hingga hari ini.

Demokrasi itu suci, kata dia, sehingga bentuk-bentuk tindakan represif yang mengekang kebebasan berpendapat tidak boleh ada di Indonesia, dan pemangku kepentingan diminta memperhatikan aspirasi serta berpihak kepada rakyat.

Selain menggalang solidaritas, mahasiswa juga menegaskan sikap tetap menolak UU KPK dan menyampaikan kritik terhadap RKUHP, penanganan kabut asap, kekerasan di Papua, konflik agraria, RUU Pertanahan, RUU PKS, RUU Minerba, RUU Perkelapasawitan, tindakan represif aparat, RUU Ketenagakerjaan, dan pemindahan ibu kota negara.

"Selama Perppu KPK belum dikeluarkan Presiden, kami akan terus turun ke jalan karena tidak boleh ada pelemahan KPK," kata Radian lagi.

Aksi massa sempat jeda saat Shalat Magrib. Saat mahasiswa berbondong masuk ke Masjid Agung Palembang, polisi membagikan ratusan kotak snack kepada mahasiswa.

"Ambil saja, snacknya gratis," kata salah seorang anggota Polresta Palembang yang membagikan snack.

Aksi mahasiswa mendapat pengamanan kerat ratusan personel kepolisian, nampak mobil water cannon parkir di dekat lokasi mahasiswa yang memenuhi bundaran air mancur, dan hingga pukul 19.00 WIB massa mahasiswa itu masih bertahan.

Pewarta : Aziz Munajar
Uploader : Aang Sabarudin
Copyright © ANTARA 2024