Pianis Indonesia juarai kompetisi internasional
Sabtu, 24 Agustus 2019 15:30 WIB
Edy Rapika Panjaitan saat tampil dalam putaran final "China-Germany Pioneer International Youth Art Competition" di Qingdao, Provinsi Shandong, China. (Istimewa)
Beijing (ANTARA) - Edy Rapika Panjaitan menjuarai ajang "China-Germany Pioneer International Youth Art Competition" di Qingdao, Provinsi Shandong, China.
"Di kejuaraan tersebut saya mendapat skor tertinggi, 96 untuk kategori remaja," kata pelajar asal Medan, Sumatera Utara, berusia 25 tahun itu kepada Antara di Beijing, Sabtu.
Sarjana cum laude di bidang permusikan Universitas Negeri Medan itu kini mengambil program master di College of China and ASEAN Arts di Chengdu, Provinsi Sichuan, di bawah bimbingan Prof Patrick Lechner dari Austria.
"Tahun pertama saya di Chengdu banyak mendapatkan pengalaman baru dan berharga yang bisa menunjang prestasi dan karier masa depan saya," ujar Edy yang lahir dari keluarga pemain musik di Medan itu.
Penampilannya di "China-Europe Consular Meeting" pada Januari lalu membuat dia mendapatkan undangan kehormatan dari Konsul Jenderal Jerman di Chengdu Robert Von Rimscha untuk tampil tunggal di depan para tamu undangan VIP yang terdiri dari para konjen, diplomat, profesor, pemain orkestra, seniman, awak media, akademisi, dan pebisnis dari 11 negara.
Selain itu dia juga beberapa mengikuti ajang kompetisi tersebut di Chengdu sebelum lolos ke putaran final yang digelar di Qingdao Grand Theatre.
Edy mengaku baru mendalami musik pada usia 17 tahun. "Namun saya tidak pernah menyerah dalam mengejar impian menjadi pianis yang bisa mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional," ujarnya.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Pandjaitan, jajaran Kedutaan Besar RI di Beijing, Perhimpunan Pelajar Indonesia di Tiongkok (PPIT) Cabang Chengdu, dan Kosular Jenderal Jerman di Chengdu atas dukungannya dalam kompetisi internasional tersebut.
"Di kejuaraan tersebut saya mendapat skor tertinggi, 96 untuk kategori remaja," kata pelajar asal Medan, Sumatera Utara, berusia 25 tahun itu kepada Antara di Beijing, Sabtu.
Sarjana cum laude di bidang permusikan Universitas Negeri Medan itu kini mengambil program master di College of China and ASEAN Arts di Chengdu, Provinsi Sichuan, di bawah bimbingan Prof Patrick Lechner dari Austria.
"Tahun pertama saya di Chengdu banyak mendapatkan pengalaman baru dan berharga yang bisa menunjang prestasi dan karier masa depan saya," ujar Edy yang lahir dari keluarga pemain musik di Medan itu.
Penampilannya di "China-Europe Consular Meeting" pada Januari lalu membuat dia mendapatkan undangan kehormatan dari Konsul Jenderal Jerman di Chengdu Robert Von Rimscha untuk tampil tunggal di depan para tamu undangan VIP yang terdiri dari para konjen, diplomat, profesor, pemain orkestra, seniman, awak media, akademisi, dan pebisnis dari 11 negara.
Selain itu dia juga beberapa mengikuti ajang kompetisi tersebut di Chengdu sebelum lolos ke putaran final yang digelar di Qingdao Grand Theatre.
Edy mengaku baru mendalami musik pada usia 17 tahun. "Namun saya tidak pernah menyerah dalam mengejar impian menjadi pianis yang bisa mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional," ujarnya.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Pandjaitan, jajaran Kedutaan Besar RI di Beijing, Perhimpunan Pelajar Indonesia di Tiongkok (PPIT) Cabang Chengdu, dan Kosular Jenderal Jerman di Chengdu atas dukungannya dalam kompetisi internasional tersebut.
Pewarta : M. Irfan Ilmie
Editor : Ujang
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Prabowo dan Presiden Korsel bahas kelanjutan kerja sama proyek pesawat tempur KF-21 Boramae
01 November 2025 15:01 WIB
Pemprov Sumsel dan BPS perkuat kerja sama susun Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional
13 September 2025 9:37 WIB
Wali Kota Palembang tingkatkan kerja sama pemberitaan dengan Kantor Berita ANTARA
08 August 2025 21:38 WIB