Ritual "menten kopi" sebelum panen
Sabtu, 22 Juni 2019 18:20 WIB
Ritual manten kopi di Kebun Kopi "Karanganjar" di Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Foto Antara/ dokumen
Blitar (ANTARA) - Pengelola Kebun Kopi "Karanganjar" di Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, melakukan ritual "manten kopi", sebelum panen raya yang dilakukan guna melestarikan tradisi.
Pengelola Kebun Kopi "Karanganjar" Kabupaten Blitar, Wima Bramantya di Blitar, Sabtu, mengatakan ritual "manten kopi" ini dilakukan memang untuk melestarikan budaya leluhur. Hal ini juga sekaligus menari kunjungan wisatawan ke tempat ini.
"Ini kami lakukan untuk melestarikan budaya leluhur juga sebagai bagian permohonan agar panen kopi kali ini bisa melimpah," ujar dia.
Ia menjelaskan, kegiatan itu juga menarik kunjungan wisatawan baik domestik hingga mancanegara. Kendati ritual dilakukan setiap tahun menjelang panen raya kopi, kegiatan tersebut selalu dipenuhi wisatawan yang ingin menyaksikan langsung ritual.
Wisatawan terutama mancanegara merasa tertarik dengan budaya di Indonesia yang dinilai cukup unik.
Dalam kegiatan tersebut, diawali dari depan Wisma Loji, yang berada di areal kebun kopi. Rombongan pengiring manten juga membawa berbagai macam sesaji lengkap untuk ritual misalnya bunga, kemudian menuju lokasi perkebunan.
Sesepuh desa yang sudah ada di lokasi meletakkan sesaji di bawah pohon kopi dan memanjatkan doa. Setelahnya sesepuh desa juga membakar dupa dan kemenyan. Ia juga memotong dahan kopi yang berisi buah kopi "lanang" (laki-laki) dan "wadon" (perempuan) yang kemudian dibungkus dengan kain mori.
Setelah itu, para pekerja bersama-sama memetik biji kopi. Para wisatawan asing yang ikut dalam acara ritual itu juga dipersilakan memetik biji kopi, lalu disimpan ke dalam wadah yang terbuat dari bambu. Kemudian, biji kopi yang telah dipetik itu dibawa, diarak menuju pesanggrahan diserahkan pada pemilik kebun kopi sebagai simbol panen raya dimulai.
Sejumlah wisatawan asing yang mengikuti ritual itu mengaku terpukau. Seperti yang dikatakan oleh Maya, wisatawan asal Jepang. Dirinya baru pertama kali ikut ritual seperti ini dan unik.
"Saya baru pertama kali melihat ritual ini (manten kopi). Saya juga kagum dengan adat Indonesia, sekaligus ingin mencicipi sedapnya rasa kopi di sini," lanjutnya yang juga pecinta kopi ini.
Kebun kopi ini berada di ketinggian 400 hingga 500 meter di atas permukaan laut (mdpl) dengan luas hingga 240 hektare. Rata-rata dari lahan itu, bisa menghasilkan kopi sekitar 100 sampai 150 ton biji kopi per tahun. Hasil produksinya ini dijual ke berbagai tempat, memenuhi permintaan pasar dalam dan luar negeri serta kepada para pengunjung kebun kopi.
Pengelola Kebun Kopi "Karanganjar" Kabupaten Blitar, Wima Bramantya di Blitar, Sabtu, mengatakan ritual "manten kopi" ini dilakukan memang untuk melestarikan budaya leluhur. Hal ini juga sekaligus menari kunjungan wisatawan ke tempat ini.
"Ini kami lakukan untuk melestarikan budaya leluhur juga sebagai bagian permohonan agar panen kopi kali ini bisa melimpah," ujar dia.
Ia menjelaskan, kegiatan itu juga menarik kunjungan wisatawan baik domestik hingga mancanegara. Kendati ritual dilakukan setiap tahun menjelang panen raya kopi, kegiatan tersebut selalu dipenuhi wisatawan yang ingin menyaksikan langsung ritual.
Wisatawan terutama mancanegara merasa tertarik dengan budaya di Indonesia yang dinilai cukup unik.
Dalam kegiatan tersebut, diawali dari depan Wisma Loji, yang berada di areal kebun kopi. Rombongan pengiring manten juga membawa berbagai macam sesaji lengkap untuk ritual misalnya bunga, kemudian menuju lokasi perkebunan.
Sesepuh desa yang sudah ada di lokasi meletakkan sesaji di bawah pohon kopi dan memanjatkan doa. Setelahnya sesepuh desa juga membakar dupa dan kemenyan. Ia juga memotong dahan kopi yang berisi buah kopi "lanang" (laki-laki) dan "wadon" (perempuan) yang kemudian dibungkus dengan kain mori.
Setelah itu, para pekerja bersama-sama memetik biji kopi. Para wisatawan asing yang ikut dalam acara ritual itu juga dipersilakan memetik biji kopi, lalu disimpan ke dalam wadah yang terbuat dari bambu. Kemudian, biji kopi yang telah dipetik itu dibawa, diarak menuju pesanggrahan diserahkan pada pemilik kebun kopi sebagai simbol panen raya dimulai.
Sejumlah wisatawan asing yang mengikuti ritual itu mengaku terpukau. Seperti yang dikatakan oleh Maya, wisatawan asal Jepang. Dirinya baru pertama kali ikut ritual seperti ini dan unik.
"Saya baru pertama kali melihat ritual ini (manten kopi). Saya juga kagum dengan adat Indonesia, sekaligus ingin mencicipi sedapnya rasa kopi di sini," lanjutnya yang juga pecinta kopi ini.
Kebun kopi ini berada di ketinggian 400 hingga 500 meter di atas permukaan laut (mdpl) dengan luas hingga 240 hektare. Rata-rata dari lahan itu, bisa menghasilkan kopi sekitar 100 sampai 150 ton biji kopi per tahun. Hasil produksinya ini dijual ke berbagai tempat, memenuhi permintaan pasar dalam dan luar negeri serta kepada para pengunjung kebun kopi.
Pewarta : Asmaul Chusna
Editor : Indra Gultom
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Kopi asal Muara Enim dan Lahat sudah go internasional, tembus pasar Malaysia
13 November 2025 7:18 WIB
Pusri dorong Desa Tebat Benawa makin sehat dan cerdas lewat program Kopi Berkelanjutan
12 November 2025 14:32 WIB
Dewan Kopi Indonesia Provinsi Sumatera Selatan berikan penghargaan kepada Bupati Empat Lawang
29 October 2025 21:15 WIB
Pusri tingkatkan kapasitas UMK Desa Tebat Benawa lewat pelatihan digital marketing dan kopi kekinian
24 September 2025 12:05 WIB
Pusri resmikan Rumah Kompos di Desa Tebat Benawa, dukung pengembangan kopi lokal
18 July 2025 16:03 WIB
Terpopuler - Seni & Budaya
Lihat Juga
Dinas Pariwisata Palembang promosikan Ziarah Kubro menjelang 10 hari Ramadhan
17 February 2025 19:57 WIB, 2025