Rokok elektrik tetap berbahaya meski minim nikotin
Rabu, 26 September 2018 12:29 WIB
Seorang pedagang rokok elektronik (e-cigarette) memperlihatkan tiga buah roko elektrik di pusat penjualan rokok elektrik (ANTARA FOTO)
Palembang (ANTARA News Sumsel) - Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran dan Peneliti Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik Indonesia, dr Ardini Raksanagara mengatakan rokok elektrik tetap membahayakan meskipun kandungan nikotin dipanasin.
"Nikotin yang dibakar atau orang yang merokok aktif memang lebih bahaya dibanding orang menggunakan rokok elektrik (vape) dengan cara dipanasin bisa menurunkan 90 persen tingkat bahaya," ujarnya pada diskusi tentang produk tembakau alternatif, Rabu.
Dijelaskannya, pada rokok yang menggunakan tembakau yang dibakar, tentu asapnya sangat membahayakan bagi orang yang terpapar. Sedangkan rokok elektrik yang dihasilkan uap air, tapi kandungan cairan rokok elektrik mengandung zat kimia yang tetap membahayakan bagi tubuh.
Seharusnya perokok dan masyarakat luas perlu dieduksi mengenai zat berbahaya yang terkandung dalam rokok seperti tar zat berbahaya yang dihasilkan dari proses pembakaran.
Dengan pemahaman yang utuh seseorang bisa termotivasi dan akhirnya berpatisipasi aktif dalam gerakan menurunkan penyakit akibat rokok," harapnya.
Kata dr Ardini, penyakit yang disebabkan tar ini tidak hanya penyakit menular seperti tubercolosis dan demam berdarah.
"Bahkan penyakit tidak menular seperti jantung masih sangat tinggi," tutupnya.
"Nikotin yang dibakar atau orang yang merokok aktif memang lebih bahaya dibanding orang menggunakan rokok elektrik (vape) dengan cara dipanasin bisa menurunkan 90 persen tingkat bahaya," ujarnya pada diskusi tentang produk tembakau alternatif, Rabu.
Dijelaskannya, pada rokok yang menggunakan tembakau yang dibakar, tentu asapnya sangat membahayakan bagi orang yang terpapar. Sedangkan rokok elektrik yang dihasilkan uap air, tapi kandungan cairan rokok elektrik mengandung zat kimia yang tetap membahayakan bagi tubuh.
Seharusnya perokok dan masyarakat luas perlu dieduksi mengenai zat berbahaya yang terkandung dalam rokok seperti tar zat berbahaya yang dihasilkan dari proses pembakaran.
Dengan pemahaman yang utuh seseorang bisa termotivasi dan akhirnya berpatisipasi aktif dalam gerakan menurunkan penyakit akibat rokok," harapnya.
Kata dr Ardini, penyakit yang disebabkan tar ini tidak hanya penyakit menular seperti tubercolosis dan demam berdarah.
"Bahkan penyakit tidak menular seperti jantung masih sangat tinggi," tutupnya.
Pewarta : Kiki Wulandari
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Seorang pengedar 800 rokok elektrik mengandung narkoba ditangkap di Banyuasin
09 January 2026 17:56 WIB
Terpopuler - Pendidikan & Kesehatan
Lihat Juga
Dokter: Penggunaan insulin bantu kendalikan kadar gula darah dan cegah komplikasi
03 May 2026 7:51 WIB
Hari Pendidikan Nasional: Kilang Pertamina Plaju dorong literasi energi generasi muda
02 May 2026 20:46 WIB
Penerimaan siswa Sekolah Unggul Garuda Transformasi di kampus dunia naik 150 persen
02 May 2026 9:20 WIB
Perkuat potensi perempuan, Kilang Plaju gelar pelatihan personal branding "Kartini Masa Kini"
24 April 2026 10:52 WIB