Kurtubi: Pertamina mustahil bangkrut
Jumat, 27 Juli 2018 9:33 WIB
Arsip-Pekerja Pertamina Refinery Unit - III Plaju berunjuk rasa menolak akuisisi pertagas oleh perusahaan Gas Negara (PGN) di Palembang, Senin (9/7/18). (ANTARA News Sumsel/Aziz Munajar/Erwin Matondang/18)
Jakarta (ANTARA News Sumsel) - Anggota Komisi VII DPR RI Kurtubi menegaskan PT Pertamina sebagai perusahaan negara mustahil akan bangkrut dan kekurangan uang.
"Pertamina sebagai perusahaan negara yang penting mustahil bangkrut dan kekurangan uang," katanya saat dihubungi di Jakarta, Kamis (26/7).
Ia menilai Pertamina saat ini memang mengalami kesulitan keuangan, pasalnya selain terbebani dengan sejumlah penugasan layaknya penjualan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dan program BBM Satu Harga, BUMN itu harus menerima konsekuensi kenaikan harga minyak dunia yang berimbas pada peningkatan biaya produksi BBM.
"Harga minyak dunia terus naik, sementara volume impor minyak terus meningkat karena kebutuhannya tinggi, sedangkan produksi dalam negeri turun. Jadilah, Pertamina harus menanggung ini," katanya.
Kendati mengalami kesulitan keuangan, politisi Partai Nasdem itu menilai kondisi tersebut hanya masalah jangka pendek.
Ia meyakini kondisi keuangan Pertamina akan berangsur membaik karena adanya penambahan alokasi anggaran untuk subsidi BBM solar dari senilai Rp500 menjadi Rp2.000 pada tahun ini.
"Kami juga sudah mendesak pemerintah untuk segera membayar selisih subsidi BBM, karena kerugian Pertamina ini merupakan tanggungan negara," ujarnya.
Dengan demikian, ia berharap kinerja keuangan Pertamina bisa segera membaik.
Ia pun menilai kerugian Pertamina dalam menjual BBM bersubsidi harus diganti oleh negara karena merupakan tanggung jawab Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional (APBN).
"Jadi, misal dia jual Premium mahal, kalau merugi ya kerugiannya diganti oleh negara. Pertamina tidak boleh rugi," demikian Kurtubi.
"Pertamina sebagai perusahaan negara yang penting mustahil bangkrut dan kekurangan uang," katanya saat dihubungi di Jakarta, Kamis (26/7).
Ia menilai Pertamina saat ini memang mengalami kesulitan keuangan, pasalnya selain terbebani dengan sejumlah penugasan layaknya penjualan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dan program BBM Satu Harga, BUMN itu harus menerima konsekuensi kenaikan harga minyak dunia yang berimbas pada peningkatan biaya produksi BBM.
"Harga minyak dunia terus naik, sementara volume impor minyak terus meningkat karena kebutuhannya tinggi, sedangkan produksi dalam negeri turun. Jadilah, Pertamina harus menanggung ini," katanya.
Kendati mengalami kesulitan keuangan, politisi Partai Nasdem itu menilai kondisi tersebut hanya masalah jangka pendek.
Ia meyakini kondisi keuangan Pertamina akan berangsur membaik karena adanya penambahan alokasi anggaran untuk subsidi BBM solar dari senilai Rp500 menjadi Rp2.000 pada tahun ini.
"Kami juga sudah mendesak pemerintah untuk segera membayar selisih subsidi BBM, karena kerugian Pertamina ini merupakan tanggungan negara," ujarnya.
Dengan demikian, ia berharap kinerja keuangan Pertamina bisa segera membaik.
Ia pun menilai kerugian Pertamina dalam menjual BBM bersubsidi harus diganti oleh negara karena merupakan tanggung jawab Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional (APBN).
"Jadi, misal dia jual Premium mahal, kalau merugi ya kerugiannya diganti oleh negara. Pertamina tidak boleh rugi," demikian Kurtubi.
Pewarta : Priyambodo RH
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Ubah limbah jadi bermanfaat, Kilang Plaju dorong Kelompok Proklim ciptakan produk bernilai
10 August 2026 22:42 WIB
Kilang Plaju raih penghargaan Platinum ISRA 2026 lewat program Mina Padi di Banyuasin
10 August 2026 22:36 WIB
Pertamina EP Limau cetak rekor penjualan gas 3,1 MMSCFD lewat program 'workover'
10 August 2026 22:27 WIB
Presiden Prabowo perintahkan BUMN pangkas anak-cucu perusahaan demi efisiensi
10 August 2026 8:09 WIB
Kisah inspiratif Suhartini: Berdayakan perempuan desa lewat inovasi olahan pinang
05 August 2026 14:39 WIB