Plastik ditemukan di perut penyu mati
Sabtu, 14 Juli 2018 13:57 WIB
Penyu. (Ist)
Singaraja (ANTARA News Sumsel) - Tim dari Program Studi (Prodi) S1 Akuakultur, Jurusan Perikanan dan Kelautan, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA), Undiksha, Singaraja, Bali, menemukan plastik di dalam perut penyu mati di pantai Penarukan, Kecamatan Buleleng.
"Tim Undiksha pada Jumat (13/7) pagi menemukan plastik di dalam perut seekor penyu yang mati terdampar di Pantai Panarukan itu setelah melakukan pembedahan (nekropsi)," kata Koordinator Program Studi S1 Akuakultur, Undiksha, Gede Iwan Setiabudi, di Singaraja, Buleleng, Sabtu.
Ia menduga penyu itu mati akibat memakan plastik, karena tim Undiksha menemukan kerongkongan penyu itu tersumbat plastik, sehingga makanan menumpuk di kerongkongan tidak bisa masuk ke saluran pencernaan dan akhirnya penyu pun mati.
"Penyu yang terdampar di pantai Penarukan itu ditemukan dalam kondisi sudah mati pada Jumat (13/7) pukul 08.00 WITA. Penyu mati itu ditemukan petugas dari Polres Buleleng yang saat itu melakukan sambang pesisir," katanya.
Setelah itu, petugas Polres yang terdiri atas Kanit Patroli Ipda Dewa Sadnyana dan Kanit Gakum Ipda Ketut Rajindra serta Anggota Sat Pol Airud Polres Buleleng di Pos Sangsit Brigadir Kadek Darma dan Brigadir Ketut Suwidi itu memberitahukan kepada tim Undiksha.
"Kami diminta untuk melakukan pemeriksaan agar mengetahui penyebab penyu itu mati. Kami melakukan nekropsi di pantai setempat karena kondisi bangkai penyu itu sudah rapuh. Diperkirakan penyu itu sudah mati 5-7 hari sebelumnya, selajutnya bangkainya terdampar di pantai," kata Iwan.
Ia berterima kasih kepada petugas Polres Buleleng yang sudah memberitahu tim Undiksha tentang penemuan itu sehingga penyebab kematian penyu itu bisa diketahui dan bisa dijadikan pelajaran untuk penyelamatan lingkungan selanjutnya.
"Kasus penyu mati memakan plastik memang banyak ditemukan di Indonesia. Plastik yang berwarna transparan itu mirip dengan ubur-ubur di laut yang menjadi makanan asli dari penyu itu. Plastik itu dikira ubur-ubur," ujar Iwan.
Tim dari Prodi Akuakultur Undiksha mengharapkan masyarakat yang menemukan penyu atau ikan yang terdampar di perairan juga mau memberitahukan ke Undiksha agar bisa ditindaklanjuti dengan cepat, apalagi tim Undiksha juga memiliki program pengabdian masyarakat.
"Jika penyu atau ikan yang ditemukan itu masih hidup bisa segera dibawa ke pos konservasi nelayan di pantai Penimbangan. Jika sudah mati bisa dilakukan nekropsi agar kematian hewan laut itu bisa diketahui penyebabnya," katanya.
"Tim Undiksha pada Jumat (13/7) pagi menemukan plastik di dalam perut seekor penyu yang mati terdampar di Pantai Panarukan itu setelah melakukan pembedahan (nekropsi)," kata Koordinator Program Studi S1 Akuakultur, Undiksha, Gede Iwan Setiabudi, di Singaraja, Buleleng, Sabtu.
Ia menduga penyu itu mati akibat memakan plastik, karena tim Undiksha menemukan kerongkongan penyu itu tersumbat plastik, sehingga makanan menumpuk di kerongkongan tidak bisa masuk ke saluran pencernaan dan akhirnya penyu pun mati.
"Penyu yang terdampar di pantai Penarukan itu ditemukan dalam kondisi sudah mati pada Jumat (13/7) pukul 08.00 WITA. Penyu mati itu ditemukan petugas dari Polres Buleleng yang saat itu melakukan sambang pesisir," katanya.
Setelah itu, petugas Polres yang terdiri atas Kanit Patroli Ipda Dewa Sadnyana dan Kanit Gakum Ipda Ketut Rajindra serta Anggota Sat Pol Airud Polres Buleleng di Pos Sangsit Brigadir Kadek Darma dan Brigadir Ketut Suwidi itu memberitahukan kepada tim Undiksha.
"Kami diminta untuk melakukan pemeriksaan agar mengetahui penyebab penyu itu mati. Kami melakukan nekropsi di pantai setempat karena kondisi bangkai penyu itu sudah rapuh. Diperkirakan penyu itu sudah mati 5-7 hari sebelumnya, selajutnya bangkainya terdampar di pantai," kata Iwan.
Ia berterima kasih kepada petugas Polres Buleleng yang sudah memberitahu tim Undiksha tentang penemuan itu sehingga penyebab kematian penyu itu bisa diketahui dan bisa dijadikan pelajaran untuk penyelamatan lingkungan selanjutnya.
"Kasus penyu mati memakan plastik memang banyak ditemukan di Indonesia. Plastik yang berwarna transparan itu mirip dengan ubur-ubur di laut yang menjadi makanan asli dari penyu itu. Plastik itu dikira ubur-ubur," ujar Iwan.
Tim dari Prodi Akuakultur Undiksha mengharapkan masyarakat yang menemukan penyu atau ikan yang terdampar di perairan juga mau memberitahukan ke Undiksha agar bisa ditindaklanjuti dengan cepat, apalagi tim Undiksha juga memiliki program pengabdian masyarakat.
"Jika penyu atau ikan yang ditemukan itu masih hidup bisa segera dibawa ke pos konservasi nelayan di pantai Penimbangan. Jika sudah mati bisa dilakukan nekropsi agar kematian hewan laut itu bisa diketahui penyebabnya," katanya.
Pewarta : Made Adnyada dan Naufal Fikri Yusuf
Editor : Aang Sabarudin
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Razia syariat Islam di Aceh Barat, 33 warga terjaring langgar aturan busana muslim
30 April 2026 7:33 WIB
Kasus penganiayaan balita di Banda Aceh: Tiga pengasuh Daycare jadi tersangka
30 April 2026 7:28 WIB
Antasyafi Robby sumbang medali pertama Indonesia pada Asian Beach Games Sanya 2026
29 April 2026 6:09 WIB
Pesawat Saudi Airlines pembawa jamaah haji Jawa Timur tiba selamat di Madinah
29 April 2026 5:38 WIB
Sidang pembunuhan kacab bank di Jakarta: Saksi ungkap janji bonus Rp5 miliar
27 April 2026 20:22 WIB
Terpopuler - Warta Bumi
Lihat Juga
Pertamina Patra Niaga dan masyarakat Sungsang IV Banyuasin kembangkan ekowisata mangrove
04 May 2026 21:27 WIB
Hadapi musim kemarau, Sinar Mas Agribusiness and Food perkuat kesiapsiagaan karhutla
08 April 2026 20:25 WIB