Warga Sleman tak lagi panik hadapi letusan freatik Merapi
Senin, 21 Mei 2018 9:26 WIB
Warga mengamati puncak Gunung Merapi di pos pemantauan kawasan Bukit Klangon, Cangkringan, Sleman, DI Yogyakarta, Sabtu (12/5/2018). Warga lereng Gunung Merapi yang sempat mengungsi pasca letusan freatik yang terjadi pada Jumat (11/5/2018) saat ini kembali beraktivitas dengan normal. (ANTARA/Hendra Nurdiyansyah)
Sleman (ANTARA News Sumsel) - Letusan freatik kecil Gunung Merapi di perbatasan Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan Jawa Tengah, pada Senin dini hari pukul 01.25 WIB tidak sampai menimbulkan kepanikan warga.
"Sebagian besar warga sudah terbiasa dengan suara gemuruh dan letusan freatik Merapi," kata Kepala Desa Kepuharjo, Cangkringan, Kabupaten Sleman, Heri Suprapto.
Aparat desa yang berada di lereng Merapi itu selalu menjadikan informasi dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta sebagai rujukan dalam menyampaikan perkembangan informasi mengenai aktivitas vulkanik gunung api tersebut.
"Kami selalu menginformasikan perkembangan aktivitas Gunung Merapi dari BPPTKG Yogyakarta kepada masyarakat. Sehingga mereka tahu saat ini status Merapi aktif normal dan letusan tadi pagi hanya letusan freatik," katanya, menambahkan bahwa dengan demikian warga tahu letusan dini hari tadi bukan fase erupsi.
"Meski demikian kami juga tetap waspada, dan terus memantau setiap perkembangan Merapi dari informasi resmi milik BPPTKG Yogyakarta," katanya.
Heri mengatakan meski letusan freatik Merapi dini hari tadi lebih kecil dibanding letusan freatik pada 11 Mei 2018, namun suara yang ditimbulkan sama kerasnya.
"Suara gemuruh sama kerasnya seperti 11 Mei, namun untuk hujan abu cenderung lebih tipis," katanya.
BPPTKG Yogyakarta di laman resminya menyebutkan letusan freatik kecil atau hembusan Gunung Merapi terjadi pada 21 Mei 2018. Letusan freatik pukul 01.25 WIB tersebut berlangsung 19 menit dengan ketinggian asap 700 meter teramati dari Pos Babadan.
"Sebagian besar warga sudah terbiasa dengan suara gemuruh dan letusan freatik Merapi," kata Kepala Desa Kepuharjo, Cangkringan, Kabupaten Sleman, Heri Suprapto.
Aparat desa yang berada di lereng Merapi itu selalu menjadikan informasi dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta sebagai rujukan dalam menyampaikan perkembangan informasi mengenai aktivitas vulkanik gunung api tersebut.
"Kami selalu menginformasikan perkembangan aktivitas Gunung Merapi dari BPPTKG Yogyakarta kepada masyarakat. Sehingga mereka tahu saat ini status Merapi aktif normal dan letusan tadi pagi hanya letusan freatik," katanya, menambahkan bahwa dengan demikian warga tahu letusan dini hari tadi bukan fase erupsi.
"Meski demikian kami juga tetap waspada, dan terus memantau setiap perkembangan Merapi dari informasi resmi milik BPPTKG Yogyakarta," katanya.
Heri mengatakan meski letusan freatik Merapi dini hari tadi lebih kecil dibanding letusan freatik pada 11 Mei 2018, namun suara yang ditimbulkan sama kerasnya.
"Suara gemuruh sama kerasnya seperti 11 Mei, namun untuk hujan abu cenderung lebih tipis," katanya.
BPPTKG Yogyakarta di laman resminya menyebutkan letusan freatik kecil atau hembusan Gunung Merapi terjadi pada 21 Mei 2018. Letusan freatik pukul 01.25 WIB tersebut berlangsung 19 menit dengan ketinggian asap 700 meter teramati dari Pos Babadan.
Pewarta : Victorianus Sat Pranyoto
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pendakian Gunung Rinjani dibuka 1 April 2026, simak jadwal dan aturan barunya
03 March 2026 9:45 WIB
Satu korban pesawat ATR 42-500 dievakuasi dari atas tebing Gunung Bulusaraung
18 January 2026 19:56 WIB
Tim SAR dikerahkan ke Gunung Bulusaraung Sulsel setelah ditemukan serpihan pesawat ATR
18 January 2026 14:12 WIB
Terpopuler - Wisata
Lihat Juga
Pengunjung destinasi wisata Al Quran Akbar Palembang meningkat selama momentum Isra Mi'raj
19 January 2026 6:35 WIB