Pakar menilai pemberitaan berbasis data masih lemah
Sabtu, 10 Februari 2018 21:13 WIB
Ilustrasi (ANTARA)
Jakarta (ANTARA News Sumsel)- Pakar media massa dari Universitas Indonesia Dr Irwansyah mengatakan pemberitaan media yang berbasis data di Tanah Air masih lemah.
"Fenomena pers yg membahas hal-hal ringan menunjukkan lemahnya pemberitaan berbasis data dan riset yg mendalam. Padahal dengan teknologi "Big Data", pers dapat membangun pemberitaan yang tidak hanya informatif tetapi juga cerdas dalam bertindak," ujar Irwansyah di Jakarta, Sabtu.
Dia menjelaskan ketika pemberitaan mengarah kepada hal-hal yang ringan, unik, dan tidak lazim dibandingkan dengan pemberitaan yang serius untuk ditangani, juga memperlihatkan mulai menurunnya kepercayaan publik untuk mendapatkan informasi yang mampu memotivasi pembaca untuk mendukung bangkitnya kesejahteraan rakyat.
"Indikasi publik yang "lelah" dgn hal-hal yang tidak pernah selesai dan keluar dari lingkaran isu-isu yg dikemas secara politis juga memperlihatkan penentuan agenda yang dilakukan media tidak inovatif utk menuju pers yg mencerdaskan."
Saat ini, hanya sebagian berusaha menyejukkan hati namun sebagian cenderung membuat pembaca menjadi emosi, serta hanya sebagian kecil yang berusaha membangun kecerdasan.
Irwansyah meminta agar tenggat waktu pemberitaan atau "deadline" tidak dijadikan alasan dalam menghasilkan pemberitaan berbasis data. Malah sebaiknya dijadikan tantangan utk menggunakan teknologi yang semakin berkembang.
"Malah bisa menjadi peluang karena setelah ada teknologi "Big Data", saat ini muncul mesin pembelajaran dan intelegensi buatan adaptif."
Hal ini sudah diterapkan pada pers di luar negeri yang kaya dengan data.
(T.I025/Z. Meirina)
"Fenomena pers yg membahas hal-hal ringan menunjukkan lemahnya pemberitaan berbasis data dan riset yg mendalam. Padahal dengan teknologi "Big Data", pers dapat membangun pemberitaan yang tidak hanya informatif tetapi juga cerdas dalam bertindak," ujar Irwansyah di Jakarta, Sabtu.
Dia menjelaskan ketika pemberitaan mengarah kepada hal-hal yang ringan, unik, dan tidak lazim dibandingkan dengan pemberitaan yang serius untuk ditangani, juga memperlihatkan mulai menurunnya kepercayaan publik untuk mendapatkan informasi yang mampu memotivasi pembaca untuk mendukung bangkitnya kesejahteraan rakyat.
"Indikasi publik yang "lelah" dgn hal-hal yang tidak pernah selesai dan keluar dari lingkaran isu-isu yg dikemas secara politis juga memperlihatkan penentuan agenda yang dilakukan media tidak inovatif utk menuju pers yg mencerdaskan."
Saat ini, hanya sebagian berusaha menyejukkan hati namun sebagian cenderung membuat pembaca menjadi emosi, serta hanya sebagian kecil yang berusaha membangun kecerdasan.
Irwansyah meminta agar tenggat waktu pemberitaan atau "deadline" tidak dijadikan alasan dalam menghasilkan pemberitaan berbasis data. Malah sebaiknya dijadikan tantangan utk menggunakan teknologi yang semakin berkembang.
"Malah bisa menjadi peluang karena setelah ada teknologi "Big Data", saat ini muncul mesin pembelajaran dan intelegensi buatan adaptif."
Hal ini sudah diterapkan pada pers di luar negeri yang kaya dengan data.
(T.I025/Z. Meirina)
Pewarta : Indriani
Editor : Aang Sabarudin
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Prabowo singgung penghasilan wartawan kecil dan ulah koruptor saat hadiri acara Munas PKS
29 September 2025 15:56 WIB
Penutupan Pertamina LCLP 2025: Mendorong kepemimpinan lokal untuk pembangunan berkelanjutan
23 June 2025 12:53 WIB, 2025
Pertamina EP ajak wartawan Prabumulih dan Limau edukasi kupas tuntas industri hulu migas
17 June 2025 19:27 WIB, 2025
Terpopuler - Polhukam
Lihat Juga
Pertamina Hulu Rokan sinergi dengan Kejaksaan Agung kawal produksi sumur minyak
25 September 2026 20:10 WIB