Beijing (Antaranews Sumsel) - Atmosfer Natal masih terasa di berbagai daerah dan ibu kota, meskipun tanggal 25 Desember di China bukan hari libur nasional.

Sekolah-sekolah, mulai tingkat dasar hingga perguruan tinggi, tetap menjalankan rutinitas sehari-hari pada hari Senin itu.

Demikian pula kantor-kantor pemerintahan dan pelayanan umum masih beroperasi penuh seperti hari-hari biasa.

Kecuali Kedutaan Besar RI di Beijing, Konsulat Jenderal RI di Shanghai, Guangzhou, dan Hong Kong yang tutup hingga Selasa (26/12) sesuai Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri di Indonesia.

Jika sekolah-sekolah di Indonesia sudah libur panjang akhir semester sejak beberapa hari yang lalu, maka tidak demikian halnya dengan di daratan Tiongkok.

Para pelajar di perguruan tinggi dan sekolah menengah di China sedang sibuk-sibuknya menghadapi ujian akhir semester yang mulai digelar pada akhir Desember 2017 hingga Januari 2018.

Oleh sebab itulah, para pelajar asal Indonesia yang menimba ilmu di negara berpenduduk terbanyak di dunia itu telah merayakan Natal jauh-jauh hari sebelumnya.

Bahkan, perayaan Natal di KBRI Beijing digelar Sabtu (18/12) lalu yang diikuti sekitar 200 orang, baik staf kedutaan maupun pelajar asal Indonesia yang berdomisili di Ibu Kota China itu.

Rangkaian perayaan Natal bersama di aula KBRI Beijing yang dipimpin Romo Albert Suryadi dan khotbah disampaikan oleh Pendeta Eddy Susanto itu ditutup dengan makan malam bersama.

Warga asyik berfoto di pohon Natal . (Reuters)


Sejumlah anggota Partai Komunis China, terutama di Beijing dan Shanghai, mengaku tidak mendapatkan informasi mengenai adannya larangan tersebut sebagaimana laporan Global Times, Senin (25/12).

Larangan yang dikeluarkan oleh beberapa institusi di daerah tersebut untuk menjaga stabilitas keamanan dan bukan bertujuan untuk memboikot Natal, demikian media yang dikelola partai berkuasa di China itu
   
Bagi umat Kristiani, Natal adalah hari raya keagamaan yang sakral, tapi bagi sebagian besar kawula muda China adalah perayaan belanja atau "shopping festival".

Tidak heran, jika Taobao, TMall, dan sejumlah platform belanja berbasis internet lainnya juga menggelar gebyar diskon besar-besaran saat Natal.

Meskipun perdebatan panjang mengenai boleh atau tidaknya merayakan Natal tidak bisa dihindari, kenyataannya bulan Desember telah menjadi momentum yang tidak kalah komersialnya dibandingkan perayaan lain.

Kaum remaja di China memahami sedikit tentang makna dan signifikansi Natal yang dianggapnya sebagai budaya asing sehingga mereka tidak berkewajiban mengikuti ritual yang terkandung di dalamnya.

Dalam era globalisasi komunikasi yang memicu terjadinya penyebaran lintasbudaya itu sudah tidak bisa dihindari lagi kalau perayaan Natal jauh lebih populer daripada perayaan tradisional China, seperti Fetival Musim Gugur.

Budaya Barat sudah menjalar di China lebih dari seabad, sedangkan tradisi budaya masyarakat setempat masih terus dilestarikan hingga kini.

Oleh sebab itu, sejumlah pihak berwenang dan elemen masyarakat di China memohon dimaklumi bahwa mereka sedang berupaya menjaga jarak dengan budaya-budaya asing yang dianggapnya dapat menggerus eksistensi budaya lokal.


Pewarta : M. Irfan Ilmie
Uploader : Aang Sabarudin
Copyright © ANTARA 2024