Peternak sapi pertanyakan pembagian hasil
Sabtu, 13 Mei 2017 10:46 WIB
Ilustrasi (Ist)
Sungailiat (Antarasumsel.com) - Kelompok peternak sapi Karya Abadi di Kecamatan Riau Silip mempertanyakan pembagian hasil ternaknya ke Pemerintah Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung melalui dinas terkait.
"Kami bersama dengan anggota lainnya sudah berhasil mengembangkan ternak sapi selama lima tahun sebanyak lebih kurang 21 ekor sapi, tapi pembagian hasilnya belum jelas," kata ketua kelompok peternak sapi Karya Abadi, Musli di Sungailiat, Jumat.
Ia mengatakan, induk sapi sebelumnya adalah milik pemerintah daerah dan dibudidayakan melalui kelompok peternak dengan sistem gaduh atau bagi hasil selama lima tahun.
"Hingga kini kami sudah mengembangkan sapi itu selama lima tahun dan belum mengetahui kapan pembagian hasilnya," ujarnya.
Bahkan informasi yang didapatnya menyebutkan pembagian hasil ternak sapi dari sebelumnya dalam jangka waktu dari lima tahun menjadi enam tahun, dan ini tentunya merugikan pihak peternak.
"Kebijakan bupati sebelumnya ditetapkan pembagian hasil ternak selama lima tahun, namun sekarang katanya diubah menjadi enam tahun," ujar Musli.
Menurut dia, kelompok di bawah binaannya dianggap cukup berhasil dalam mengembangkan ternak sapi karena selama lima tahun sudah berhasil berkembang menjadi 21 ekor sapi dari sebelumnya kurang dari 10 ekor sapi.
"Keberhasilan dalam mengembangkan ternak sapi karena dirawat dengan cukup baik oleh seluruh anggota dan tidak ada sapi yang mati," katanya.
Selain mempertanyakan pembagian hasil ternak sapi pihaknya juga membutuhkan perhatian penuh dari petugas lapangan mengingat mereka jarang turun ke lapangan sehingga peternak kesulitan untuk berkonsultasi.
"Petugas penyuluh lapangan terkadang hanya satu bulan sekali turun ke lapangan sehingga kami mengalami kesulitan kalau ada sesuatu hal yang perlu dikonsultasikan," katanya.
"Kami bersama dengan anggota lainnya sudah berhasil mengembangkan ternak sapi selama lima tahun sebanyak lebih kurang 21 ekor sapi, tapi pembagian hasilnya belum jelas," kata ketua kelompok peternak sapi Karya Abadi, Musli di Sungailiat, Jumat.
Ia mengatakan, induk sapi sebelumnya adalah milik pemerintah daerah dan dibudidayakan melalui kelompok peternak dengan sistem gaduh atau bagi hasil selama lima tahun.
"Hingga kini kami sudah mengembangkan sapi itu selama lima tahun dan belum mengetahui kapan pembagian hasilnya," ujarnya.
Bahkan informasi yang didapatnya menyebutkan pembagian hasil ternak sapi dari sebelumnya dalam jangka waktu dari lima tahun menjadi enam tahun, dan ini tentunya merugikan pihak peternak.
"Kebijakan bupati sebelumnya ditetapkan pembagian hasil ternak selama lima tahun, namun sekarang katanya diubah menjadi enam tahun," ujar Musli.
Menurut dia, kelompok di bawah binaannya dianggap cukup berhasil dalam mengembangkan ternak sapi karena selama lima tahun sudah berhasil berkembang menjadi 21 ekor sapi dari sebelumnya kurang dari 10 ekor sapi.
"Keberhasilan dalam mengembangkan ternak sapi karena dirawat dengan cukup baik oleh seluruh anggota dan tidak ada sapi yang mati," katanya.
Selain mempertanyakan pembagian hasil ternak sapi pihaknya juga membutuhkan perhatian penuh dari petugas lapangan mengingat mereka jarang turun ke lapangan sehingga peternak kesulitan untuk berkonsultasi.
"Petugas penyuluh lapangan terkadang hanya satu bulan sekali turun ke lapangan sehingga kami mengalami kesulitan kalau ada sesuatu hal yang perlu dikonsultasikan," katanya.
Pewarta : Kasmono
Editor : Ujang
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Terpopuler - Makro & Mikro
Lihat Juga
Desa Bukit Makmur raih penghargaan 15 desa terbaik nasional Program BRILiaN 2025
11 November 2025 15:18 WIB
Pusri resmikan Rumah Kompos di Desa Tebat Benawa, dukung pengembangan kopi lokal
18 July 2025 16:03 WIB, 2025
Pusri tampilkan produk UMKM binaan di Pameran Produk Unggulan Sumsel 2025
03 July 2025 10:28 WIB, 2025