Sektor UMKM harus jadi perhatian pemerintah
Minggu, 1 Januari 2017 1:02 WIB
UMKM pembuatan kerupuk kemplang Palembang (ANTARA FOTO)
Palembang (Antarasumsel.com) - Pengembangan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) patut menjadi perhatian para pengambil kebijakan, dalam hal ini pemerintah daerah, kata Deputi Direktur Bank Indonesia Kantor Perwakilan Provinsi Sumatera Selatan Hari Widodo.
Hal itu mengingat UMKM terbukti tidak rentan krisis dan berkontribusi pada produk domestik bruto nasional sebesar 60,3 persen, kata Hari Widodo di Palembang, Sabtu.
Ia mengatakan bahwa sektor UMKM hingga kini masih membutuhan dukungan pemerintah dari sisi kebijakan untuk tetap tumbuh. Misalnya, terkait dengan perizinan dan pajak daerah.
"Seperti Sumsel yang memiliki pelaku usaha UMKM mencapai 3.000.000 orang. Artinya, jika benar-benar mendapatkan dukungan pemerintah, akan memiliki andil besar dalam pembangunan daerah," kata Hari.
Sebelumnya, riset Bank Indonesia Wilayah VII Sumatera Selatan telah memunculkan 10 produk unggulan UMKM yang layak dikembangkan pada masa datang dalam 5 tahun ke depan.
Kesepuluh produk unggulan tersebut, yakni pertanian padi sawah, toko kelontong dan manisan, pengilingan padi, perkebunan karet, budidaya ikan lele, pengalian pasir, budi daya ikan patin, koperasi simpan pinjam, rumah makan padang, dan klinik kesehatan terpadu.
"Riset BI ini telah disebarluaskan ke seluruh kabupaten/kota di Sumsel, dan diharapkan dapat dijadikan acuan para pengambil kebijakan terkait dengan pengembangan sektor UMKM," katanya.
Jika suatu daerah sudah benar-benar memahami profil dan potensi daerahnya masing-masing, menurut dia, akan membuat suatu keputusan yang tepat sasaran terkait dengan pengembangan sektor UMKM.
Salah satunya yang menjadi sorotan BI dari hasil riset ini, yakni sektor perkebunan karet yang sejak lama telah menjadi urat nadi perekonomian Sumsel.
Pada riset sebelumnya, 2011, BI telah mencantumkan bahwa sektor perkebunan karet menjadi unggulan di Sumsel. Demikian pula, pada riset terbaru ini.
Pada riset kali ini, BI menekankan pentingnya hilirisasi karet atau tidak terhenti pada budi daya dan industri pengolahan saja.
Pernyataan ini muncul lantaran harga karet saat ini jatuh (mesti data terakhir menunjukkan adanya perbaikan harta). Akan tetapi, BI tetap memasukkannya sebagai produk unggulan UMKM.
"Untuk karet, tetap direkomendasi karena memang potensi masih ada. Akan tetapi, rekomendasi BI tidak lagi sebatas menghasilan getah, tetapi sudah masuk ke industri pengolahan. Bahkan, jika mampu, langsung membuat produk jadinya untuk meningkatkan nilai tambah," kata Harry.
***3***
(T.D019/C/D007/D007) 31-12-2016 15:37:09
Hal itu mengingat UMKM terbukti tidak rentan krisis dan berkontribusi pada produk domestik bruto nasional sebesar 60,3 persen, kata Hari Widodo di Palembang, Sabtu.
Ia mengatakan bahwa sektor UMKM hingga kini masih membutuhan dukungan pemerintah dari sisi kebijakan untuk tetap tumbuh. Misalnya, terkait dengan perizinan dan pajak daerah.
"Seperti Sumsel yang memiliki pelaku usaha UMKM mencapai 3.000.000 orang. Artinya, jika benar-benar mendapatkan dukungan pemerintah, akan memiliki andil besar dalam pembangunan daerah," kata Hari.
Sebelumnya, riset Bank Indonesia Wilayah VII Sumatera Selatan telah memunculkan 10 produk unggulan UMKM yang layak dikembangkan pada masa datang dalam 5 tahun ke depan.
Kesepuluh produk unggulan tersebut, yakni pertanian padi sawah, toko kelontong dan manisan, pengilingan padi, perkebunan karet, budidaya ikan lele, pengalian pasir, budi daya ikan patin, koperasi simpan pinjam, rumah makan padang, dan klinik kesehatan terpadu.
"Riset BI ini telah disebarluaskan ke seluruh kabupaten/kota di Sumsel, dan diharapkan dapat dijadikan acuan para pengambil kebijakan terkait dengan pengembangan sektor UMKM," katanya.
Jika suatu daerah sudah benar-benar memahami profil dan potensi daerahnya masing-masing, menurut dia, akan membuat suatu keputusan yang tepat sasaran terkait dengan pengembangan sektor UMKM.
Salah satunya yang menjadi sorotan BI dari hasil riset ini, yakni sektor perkebunan karet yang sejak lama telah menjadi urat nadi perekonomian Sumsel.
Pada riset sebelumnya, 2011, BI telah mencantumkan bahwa sektor perkebunan karet menjadi unggulan di Sumsel. Demikian pula, pada riset terbaru ini.
Pada riset kali ini, BI menekankan pentingnya hilirisasi karet atau tidak terhenti pada budi daya dan industri pengolahan saja.
Pernyataan ini muncul lantaran harga karet saat ini jatuh (mesti data terakhir menunjukkan adanya perbaikan harta). Akan tetapi, BI tetap memasukkannya sebagai produk unggulan UMKM.
"Untuk karet, tetap direkomendasi karena memang potensi masih ada. Akan tetapi, rekomendasi BI tidak lagi sebatas menghasilan getah, tetapi sudah masuk ke industri pengolahan. Bahkan, jika mampu, langsung membuat produk jadinya untuk meningkatkan nilai tambah," kata Harry.
***3***
(T.D019/C/D007/D007) 31-12-2016 15:37:09
Pewarta : Dolly Rosana
Editor : Ujang
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Terpopuler - Makro & Mikro
Lihat Juga
Desa Bukit Makmur raih penghargaan 15 desa terbaik nasional Program BRILiaN 2025
11 November 2025 15:18 WIB
Pusri resmikan Rumah Kompos di Desa Tebat Benawa, dukung pengembangan kopi lokal
18 July 2025 16:03 WIB, 2025
Pusri tampilkan produk UMKM binaan di Pameran Produk Unggulan Sumsel 2025
03 July 2025 10:28 WIB, 2025