Bi: UMKM harus didorong profesional
Senin, 29 Agustus 2016 15:23 WIB
Pelaku UKM menunjukkan salah satu produk sulaman angkinan khas Palembang. (ANTARA FOTO/ Feny Selly/15/Den)
Palembang, (ANTARA Sumsel) - Usaha Mikro Kecil dan Menengah harus didorong profesional untuk memenangkan persaingan usaha di era pasar bebas saat ini, kata Kepala Divisi Advisory dan Pengembangan Ekonomi Harry Widodo Bank Indonesia Wilayah VII Sumatera Selatan.
"Persoalan UMKM cukup banyak, salah satunya yang cukup menganjal mengapa sulit maju yakni kurang profesional, seperti tidak memiliki laporan keuangan, tidak dikelola dengan baik, dan masih bercampuradukkan antara uang usaha dan uang keluarga," kata Harry di Palembang, Senin.
Untuk itu, UMKM sangat membutuhkan pendampingan dari berbagai kalangan untuk menjalankan bisnis yang profesional.
Pendampingan yang dilakukan seperti yang telah dijalankan Bank Indonesia yakni memberikan asistensi khusus ke pelaku UMKM bidang pangan terkait dengan menjaga ketahanan pangan.
BI Sumsel mengembangkan kluster cabai dan kluster bawang merah di sejumlah kabupaten/kota untuk menjaga kemandirian suatu daerah terhadap bahan pangan.
"Jika suatu daerah bisa mandiri maka tidak perlu menunggu pasokan barang dari daerah lain. Dengan begitu inflasi dapat terjaga," kata dia.
Selain membantu secara langsung, BI juga memberikan pelatihan ke UMKM mengenai cara membuat laporan keuangan terkait dengan akses ke perbankan.
"UMKM harus terus didorong pertumbuhannya karena sektor yang dipandang kecil ini justru tidak rentan krisis. Hal ini juga yang menjadi penyebab mengapa Indonesia masih bisa tahan dengan goncangan perekonomian global," kata dia.
Saat ini UMUM menyumbang 50 persen dari PDB, dan 16 persen pada ekspor nonmigas.
Bank Indonesia tetap berperan dalam pemberdayaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah meski tidak lagi diperkenankan memberikan bantuan keuangan atau Kredit Likuiditas Bank Indonesia.
Peranan Bank Indonesia (BI) dalam pengembangan UMKM berubah menjadi bersifat tidak langsung yakni melalui pemberian bantuan teknis seperti pelatihan, penyediaan informasi, fasilitasi, promosi, pengembangan riset, survei, dan inovasi.
Meski, mengalami perubahan paradigma, bukan berarti kebijakan dan strategi untuk mendukung UMKM menjadi berkurang bagi lembaga Bank Sentral Republik Indonesia itu.
"Dukungan BI lebih kepada peningkatkan upaya-upaya akses UMKM kepada perbankan melalui mekanisme hubungan bisnis yang saling menguntungkan," ujarnya.
Upaya-upaya ini diharapkan dapat membangun sinergi, sehingga mampu menjembatani "gap" antara aspek kehati-hatian yang diterapkan dalam operasi perbankan terhadap UMKM.
"Persoalan UMKM cukup banyak, salah satunya yang cukup menganjal mengapa sulit maju yakni kurang profesional, seperti tidak memiliki laporan keuangan, tidak dikelola dengan baik, dan masih bercampuradukkan antara uang usaha dan uang keluarga," kata Harry di Palembang, Senin.
Untuk itu, UMKM sangat membutuhkan pendampingan dari berbagai kalangan untuk menjalankan bisnis yang profesional.
Pendampingan yang dilakukan seperti yang telah dijalankan Bank Indonesia yakni memberikan asistensi khusus ke pelaku UMKM bidang pangan terkait dengan menjaga ketahanan pangan.
BI Sumsel mengembangkan kluster cabai dan kluster bawang merah di sejumlah kabupaten/kota untuk menjaga kemandirian suatu daerah terhadap bahan pangan.
"Jika suatu daerah bisa mandiri maka tidak perlu menunggu pasokan barang dari daerah lain. Dengan begitu inflasi dapat terjaga," kata dia.
Selain membantu secara langsung, BI juga memberikan pelatihan ke UMKM mengenai cara membuat laporan keuangan terkait dengan akses ke perbankan.
"UMKM harus terus didorong pertumbuhannya karena sektor yang dipandang kecil ini justru tidak rentan krisis. Hal ini juga yang menjadi penyebab mengapa Indonesia masih bisa tahan dengan goncangan perekonomian global," kata dia.
Saat ini UMUM menyumbang 50 persen dari PDB, dan 16 persen pada ekspor nonmigas.
Bank Indonesia tetap berperan dalam pemberdayaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah meski tidak lagi diperkenankan memberikan bantuan keuangan atau Kredit Likuiditas Bank Indonesia.
Peranan Bank Indonesia (BI) dalam pengembangan UMKM berubah menjadi bersifat tidak langsung yakni melalui pemberian bantuan teknis seperti pelatihan, penyediaan informasi, fasilitasi, promosi, pengembangan riset, survei, dan inovasi.
Meski, mengalami perubahan paradigma, bukan berarti kebijakan dan strategi untuk mendukung UMKM menjadi berkurang bagi lembaga Bank Sentral Republik Indonesia itu.
"Dukungan BI lebih kepada peningkatkan upaya-upaya akses UMKM kepada perbankan melalui mekanisme hubungan bisnis yang saling menguntungkan," ujarnya.
Upaya-upaya ini diharapkan dapat membangun sinergi, sehingga mampu menjembatani "gap" antara aspek kehati-hatian yang diterapkan dalam operasi perbankan terhadap UMKM.
Pewarta : Dolly Rosana
Editor : Ujang
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Bank Sumsel Babel gelar Sultan Muda Goes to OKU Timur dorong literasi keuangan UMKM
11 September 2026 20:51 WIB
Lewat Batik Boek Khaman, Pertamina EP Limau Field berdayakan perempuan di Muara Enim
11 September 2026 20:44 WIB
Bank Sumsel Babel dorong hilirisasi kopi dan serat nanas di Muara Enim, buka 150 rekening usaha
02 September 2026 12:13 WIB
Dorong UMKM binaan naik kelas, Pusri gaet Kemenkum Sumsel lindungi hak cipta dan merek
07 August 2026 6:46 WIB
Pertamina Patra Niaga bawa 11 UMKM binaan tampil di Indonesia Fashion Week 2026
31 July 2026 7:15 WIB
Terpopuler - Makro & Mikro
Lihat Juga
Desa Bukit Makmur raih penghargaan 15 desa terbaik nasional Program BRILiaN 2025
11 November 2025 15:18 WIB
Pusri resmikan Rumah Kompos di Desa Tebat Benawa, dukung pengembangan kopi lokal
18 July 2025 16:03 WIB, 2025
Pusri tampilkan produk UMKM binaan di Pameran Produk Unggulan Sumsel 2025
03 July 2025 10:28 WIB, 2025