Presiden Jokowi "ngotot" target listrik 35.000 MW dipercepat
Jumat, 10 Juni 2016 13:31 WIB
Presiden RI Joko Widodo (ANTARA FOTO)
Kemiri, Tangerang (ANTARA Sumsel) - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan dirinya "ngotot" agar target penyediaan listrik 35.000 MW dipercepat.
"Kenapa saya selalu menyampaikan, saya 'ngotot' 35.000 Mega Watt di seluruh Indonesia harus dipercepat, harus segera dikerjakan," kata Presiden Jokowi dalam acara "Ground Breaking" PLTU Lontar Extention 1x315 MW dan Peresmian Gardu Induk & Transmisi di Wilayah Jakarta Raya dan Banten di Tangerang, Banten, Jumat.
Presiden menjelaskan alasan di balik "kengototannya" itu tidak lain karena saat dilihat pada malam hari dari ketinggian masih banyak wilayah Indonesia yang masih gelap.
Artinya, kata Presiden, masih banyak anak-anak Indonesia kesulitan penerangan saat akan belajar.
"Masih banyak anak-anak kita malam hari kalau mau belajar tidak ada listriknya, tidak ada lampunya. Kalau sudah seperti itu kalau anak yang rajin masih pakai lilin atau lampu teplok kalau anaknya malas, orang tuanya tidak mengingatkan ya malamnya tidak mau belajar, anaknya jadi enggak pinter, ini yang pemerintah tidak mau," katanya.
Selain itu, Presiden menambahkan, masih banyak desa dan kampung-kampung di Tanah Air yang belum terlistriki sehingga usaha kecil dan usaha mikro tidak bisa berjalan dengan baik.
"Yang jahit tidak bisa jalan yang usaha-usaha kerajinan yang pakai listrik malam hari tidak bisa jalan," katanya.
Hal itulah yang mendorong Presiden untuk memastikan agar target listrik 35.000 MW bisa terkejar sehingga Indonesia tidak kalah saing dengan negara-negara lain.
Ia juga meminta jajarannya termasuk pemerintah pusat dan pemerintah daerah agar bersama-sama menyelesaikan persoalan mengenai listrik.
"Listrik diperlukan untuk industri, untuk membuka hotel, kalau listrik kurang, mau bikin pabrik mana mau masuk (investor) pasti pindah ke daerah lain, ke negara lain. Kalau pabrik enggak ada yang berdiri, industri enggak ada yang berdiri, anak-anak muda kita akan kerja dimana," katanya.
Jokowi mengaku kendala di lapangan untuk membangun kelistrikan bukan sesuatu yang mudah.
Jika dulu persoalan berkaitan dengan perizinan dan pembebasan lahan maka saat ini ia mengimbau seluruh pihak agar bekerja sama untuk membangun pembangkit listrik sehingga kekurangan pasokan listrik bisa segera dicukupi.
"Saya harapkan seluruh menteri dan Dirut PLN juga untuk sering turun ke lapangan untuk melihat masalah yang ada dan segera cepat diselesaikan," katanya.
Dalam acara itu sejumlah menteri yang turut serta mendampingi Presiden yakni Menteri BUMN Rini Soemarno dan Menteri ESDM Sudirman Said.
"Kenapa saya selalu menyampaikan, saya 'ngotot' 35.000 Mega Watt di seluruh Indonesia harus dipercepat, harus segera dikerjakan," kata Presiden Jokowi dalam acara "Ground Breaking" PLTU Lontar Extention 1x315 MW dan Peresmian Gardu Induk & Transmisi di Wilayah Jakarta Raya dan Banten di Tangerang, Banten, Jumat.
Presiden menjelaskan alasan di balik "kengototannya" itu tidak lain karena saat dilihat pada malam hari dari ketinggian masih banyak wilayah Indonesia yang masih gelap.
Artinya, kata Presiden, masih banyak anak-anak Indonesia kesulitan penerangan saat akan belajar.
"Masih banyak anak-anak kita malam hari kalau mau belajar tidak ada listriknya, tidak ada lampunya. Kalau sudah seperti itu kalau anak yang rajin masih pakai lilin atau lampu teplok kalau anaknya malas, orang tuanya tidak mengingatkan ya malamnya tidak mau belajar, anaknya jadi enggak pinter, ini yang pemerintah tidak mau," katanya.
Selain itu, Presiden menambahkan, masih banyak desa dan kampung-kampung di Tanah Air yang belum terlistriki sehingga usaha kecil dan usaha mikro tidak bisa berjalan dengan baik.
"Yang jahit tidak bisa jalan yang usaha-usaha kerajinan yang pakai listrik malam hari tidak bisa jalan," katanya.
Hal itulah yang mendorong Presiden untuk memastikan agar target listrik 35.000 MW bisa terkejar sehingga Indonesia tidak kalah saing dengan negara-negara lain.
Ia juga meminta jajarannya termasuk pemerintah pusat dan pemerintah daerah agar bersama-sama menyelesaikan persoalan mengenai listrik.
"Listrik diperlukan untuk industri, untuk membuka hotel, kalau listrik kurang, mau bikin pabrik mana mau masuk (investor) pasti pindah ke daerah lain, ke negara lain. Kalau pabrik enggak ada yang berdiri, industri enggak ada yang berdiri, anak-anak muda kita akan kerja dimana," katanya.
Jokowi mengaku kendala di lapangan untuk membangun kelistrikan bukan sesuatu yang mudah.
Jika dulu persoalan berkaitan dengan perizinan dan pembebasan lahan maka saat ini ia mengimbau seluruh pihak agar bekerja sama untuk membangun pembangkit listrik sehingga kekurangan pasokan listrik bisa segera dicukupi.
"Saya harapkan seluruh menteri dan Dirut PLN juga untuk sering turun ke lapangan untuk melihat masalah yang ada dan segera cepat diselesaikan," katanya.
Dalam acara itu sejumlah menteri yang turut serta mendampingi Presiden yakni Menteri BUMN Rini Soemarno dan Menteri ESDM Sudirman Said.
Pewarta : Hanni Sofia Soepardi
Editor : Ujang
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Sespri presiden Agung Surahman menikah, Prabowo dan Jokowi jadi saksi nikah
18 January 2026 14:05 WIB
Kasus ijazah palsu Jokowi, penyidik Polda Metro klarifikasi ke SMA Negeri di Surakarta
18 June 2025 11:53 WIB
Terpopuler - Lintas Daerah
Lihat Juga
Razia syariat Islam di Aceh Barat, 33 warga terjaring langgar aturan busana muslim
30 April 2026 7:33 WIB
Prakirakan cuaca Kota Jakarta Rabu 29 April 2026: Potensi diguyur hujan ringan sore hari
29 April 2026 5:33 WIB
Cerita haru jamaah haji termuda asal Bali, baru tahu didaftarkan saat masih SD
26 April 2026 8:42 WIB
Prakiraan cuaca Sumatera Utara Jumat 24 April 2026: Didominasi berawan hingga hujan sedang
24 April 2026 10:45 WIB