Warga Ketitang ikuti tradisi "nyadran"
Jumat, 27 Desember 2013 15:24 WIB
Warga bersama-sama menyantap makanan saat diselenggarakan nyadran arwah di areal pemakaman Desa Ketitang, Jumo, Temanggung, Jateng, Jumat (27/12). (FOTO ANTARA)
Temanggung (ANTARA Sumsel) - Ratusan warga Desa Ketitang, Kabupaten Temanggung, Jumat, mengikuti tradisi "nyadran" di tempat pemakaman umum desa setempat dengan membawa makanan.
Di kompleks makam warga melakukan doa bersama dipimpin juru kunci, Jufriyanto dan tokoh agama kiai Saubari. Doa sebagai wujud syukur atas segala nikmat yang telah diberikan dan meminta keselamatan serta tambahan nikmat kepada Tuhan.
Usai berdoa, warga kemudian membuka rantang dan bungkusan berisi makanan yang dibawa dari rumah untuk makan bersama di kompleks makam.
Juru kunci makam, Jufriyanto mengatakan upacara adat sadranan di Desa Ketitang berlangsung dua kali dalam setahun, yakni pada bulan Ruwah dan Safar berdasarkan penanggalan Jawa.
Ia mengatakan, warga yang datang mengikuti sadranan bukan hanya dari Temanggung, namun juga dari daerah lain seperti Magelang, Wonoosbo, dan Yogyakarta.
Dalam rangkaian upacara adat tersebut juga digelar wayang kulit, yang berlangsung selama dua malam dan pengajian akbar. Sepekan sebelum nyadran dilakukan tradisi "nyadran kali" yakni membersihkan saluran irigasi.
"Wayang kulit ini sebagai upacara meruwat desa sehingga terlepas dari mara bahaya," katanya.
Kiai Saubari mengatakan, di kompleks pemakaman itu ada makam Tumenggung Mangkuyudo yang merupakan ulama zaman kerajaan Demak yang menyebarkan ajaran Islam di daerah Kedua.
"Pada malam tertentu banyak warga berziarah untuk berdoa di kompleks makam Tumenggung Mangkuyudo," katanya.
Ia mengatakan, tradisi nyadran untuk melestarikan budaya dan adat istiadat. Dalam ritual itu terkandung banyak kearifan lokal, antara lain kegotongroyongan, kebersamaan, mencintai alam semesta, dan kedamaian serta kesederhanaan.
Di kompleks makam warga melakukan doa bersama dipimpin juru kunci, Jufriyanto dan tokoh agama kiai Saubari. Doa sebagai wujud syukur atas segala nikmat yang telah diberikan dan meminta keselamatan serta tambahan nikmat kepada Tuhan.
Usai berdoa, warga kemudian membuka rantang dan bungkusan berisi makanan yang dibawa dari rumah untuk makan bersama di kompleks makam.
Juru kunci makam, Jufriyanto mengatakan upacara adat sadranan di Desa Ketitang berlangsung dua kali dalam setahun, yakni pada bulan Ruwah dan Safar berdasarkan penanggalan Jawa.
Ia mengatakan, warga yang datang mengikuti sadranan bukan hanya dari Temanggung, namun juga dari daerah lain seperti Magelang, Wonoosbo, dan Yogyakarta.
Dalam rangkaian upacara adat tersebut juga digelar wayang kulit, yang berlangsung selama dua malam dan pengajian akbar. Sepekan sebelum nyadran dilakukan tradisi "nyadran kali" yakni membersihkan saluran irigasi.
"Wayang kulit ini sebagai upacara meruwat desa sehingga terlepas dari mara bahaya," katanya.
Kiai Saubari mengatakan, di kompleks pemakaman itu ada makam Tumenggung Mangkuyudo yang merupakan ulama zaman kerajaan Demak yang menyebarkan ajaran Islam di daerah Kedua.
"Pada malam tertentu banyak warga berziarah untuk berdoa di kompleks makam Tumenggung Mangkuyudo," katanya.
Ia mengatakan, tradisi nyadran untuk melestarikan budaya dan adat istiadat. Dalam ritual itu terkandung banyak kearifan lokal, antara lain kegotongroyongan, kebersamaan, mencintai alam semesta, dan kedamaian serta kesederhanaan.
Pewarta : Pewarta: Heru Suyitno
Editor : AWI-SEO&Digital Ads
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Persiapan Mudik 2026: KAI Divre III Palembang siagakan 65 lokomotif dan 44 unit kereta
04 March 2026 18:17 WIB
Menhub siapkan penambahan penerbangan Lebaran 2026 di Sumsel, antisipasi lonjakan penumpang
26 February 2026 5:29 WIB
Pastikan kenyamanan pemudik, KAI Palembang cek kelayakan KA Sindang Marga dan Bukit Serelo
23 February 2026 17:18 WIB
Pedagang perlengkapan tradisi "balimau" raup keuntungan berlipat jelang Ramadhan
17 February 2026 15:25 WIB
Terpopuler - Seni & Budaya
Lihat Juga
Dinas Pariwisata Palembang promosikan Ziarah Kubro menjelang 10 hari Ramadhan
17 February 2025 19:57 WIB, 2025