Temukan asteroid berekor, astronom tercengang
Jumat, 8 November 2013 17:52 WIB
Ilustrasi (Foto Ist)
(ANTARA Sumsel) - Para astronom dengan menggunakan Teleskop Antariksa Hubble (Hubble Space Telescope) berhasil menemukan sebuah asteroid yang unik dengan enam ekor debu angkasa menyerupai komet yang memanjang dari badan asteroid seperti jari-jaring roda seperti jari-jari pada roda, menurut pernyataan para ilmuan pada Kamis.
"Kami benar-benar tercengang ketika kami melihatnya," ujar David Jewitt astronom dari University of California di Los Angeles. "Sulit dipercaya yang kami lihat adalah sebuah asteroid.
Asteroid biasanya tidak memiliki ekor.
Asteroid yang dinamakan P/2013 P5 pertama kali muncul dalam bentuk setitik cahaya yang tidak tampak jelas dalam sebuah survei angkasa menggunakan teleskop Pan-STARRS 1 pada Agustus silam.
Pada September lalu, para astronom menggunakan teleskop Hubble untuk mengamati asteroid tersebut yang berada di sabuk asteroid antara Mars dan Jupiter.
Setelah dilakukan pengamatan selama 13 hari, para astronom menemukan asteroid tersebut tidak hanya memiliki enam ekor namun juga mengalami perubahan bentuk.
Para ilmuan menduga tekanan dari foton, partikel kecil cahaya atau radiasi elektromagnetik dalam sinar matahari menyebabkan asteroid tersebut berputar lebih cepat, sehingga mengubah permukaannya.
"Kami benar-benar tercengang ketika kami melihatnya," ujar David Jewitt astronom dari University of California di Los Angeles. "Sulit dipercaya yang kami lihat adalah sebuah asteroid.
Asteroid biasanya tidak memiliki ekor.
Asteroid yang dinamakan P/2013 P5 pertama kali muncul dalam bentuk setitik cahaya yang tidak tampak jelas dalam sebuah survei angkasa menggunakan teleskop Pan-STARRS 1 pada Agustus silam.
Pada September lalu, para astronom menggunakan teleskop Hubble untuk mengamati asteroid tersebut yang berada di sabuk asteroid antara Mars dan Jupiter.
Setelah dilakukan pengamatan selama 13 hari, para astronom menemukan asteroid tersebut tidak hanya memiliki enam ekor namun juga mengalami perubahan bentuk.
Para ilmuan menduga tekanan dari foton, partikel kecil cahaya atau radiasi elektromagnetik dalam sinar matahari menyebabkan asteroid tersebut berputar lebih cepat, sehingga mengubah permukaannya.
Pewarta :
Editor : AWI-SEO&Digital Ads
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Asteroid seluas hampir dua kali Stadion GBK akan melintas dekat Bumi pada 22 Oktober
20 October 2022 21:01 WIB, 2022
Lapan sebut Asteroid 1997 BQ akan melintas dekat bumi menjelang Idul Fitri
21 May 2020 23:29 WIB, 2020
Asteroid bergerak mendekati bumi bukan berarti akan menabrak, kata Peniliti LAPAN
04 May 2020 14:07 WIB, 2020
Asteroid lebih tinggi dari Menara Big Ben dekati bumi tapi tidak berbahaya
24 July 2019 21:40 WIB, 2019