Bangka Belitung rawan pangan
Selasa, 8 Oktober 2013 17:20 WIB
Ilustrasi - Sejumlah petani tengah menyebarkan pupuk di area persawahan Semendo Darat Ulu, Kabupate Muara Enim, Sumatera Selatan, Senin (4/2). (Foto Antarasumsel.com/13/Feny Selly/Aw)
Pangkalpinang (ANTARA Sumsel) - Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan Provinsi Bangka Belitung (Babel), Sunardi menyatakan, Bangka Belitung dikategorikan daerah rawan pangan karena produksi padi petani lokal kurang untuk memenuhi konsumsi warga daerah itu.
"Saat ini, dari seratus persen kebutuhan masyarakat Babel atas pangan beras, produk pertanian yang dihasilkan oleh para petani lokal hanya 14 persen, sedangkan produksi beras dari luar mencapai 86 persen," katanya di Pangkalpinang, Selasa.
Ia menjelaskan, rawan pangan terjadi apabila pasokan beras dari daerah sentra produksi beras di Pulau Jawa dan Sumatera tersendat.
"Biasanya, pasokan beras tersendat apabila kondisi cuaca di perairan memburuk yang ditandai gelombang tinggi, angin kencang dan lainnya yang membahayakan keselamatan kapal barang, petani di luar daerah gagal panen dan lainnya," ujarnya.
Ia mengatakan, ketersediaan pangan khususnya beras cukup mengkhawatirkan karena tingginya tingkat konsumsi beras warga seiring beras merupakan makanan pokok yang harus ada dan dikonsumsi warga.
"Apabila pasokan beras dari luar tersendat maka secara otomatis harga beras akan mengalami kenaikkan yang cukup tinggi, bahkan mencapai Rp11.000 per kilogram dari harga normal Rp9.000 per kilogram, sehingga akan memberatkan ekonomi warga kurang mampu," ujarnya.
Menurut dia, dalam upaya mengurangi ketergantungan pasokan beras dari luar ini, pihaknya terus berupaya mengoptimalkan lahan pertanian padi sawah, menyalurkan bantuan benih berkualitas, sarana produksi, pembinaan dan penyuluhan kepada petani.
"Saat ini, luas lahan padi sawah di Bangka Belitung mencapai 10.500 hektare tersebar di Kabupaten Bangka, Bangka Barat, Bangka Tengah, Bangka Selatan, Belitung dan Belitung Timur yang masih belum dikelola dengan maksimal," ujarnya.
Ia mengatakan, pengelolaan lahan padi sawah secara maksimal ini tentu akan meningkatkan produksi padi petani. Selama ini penanaman padi hanya dilakukan satu kali dalam setahun ditingkatkan menjadi dua hingga tiga kali tanam per tahun.
"Kami berupaya meningkatkan kesadaran dan minat petani untuk menanam padi minimal dua kali dalam setahun, sehingga akan meningkatkan kesejahteraan petani dan menekan kenaikkan harga beras luar tersebut," ujarnya.
"Saat ini, dari seratus persen kebutuhan masyarakat Babel atas pangan beras, produk pertanian yang dihasilkan oleh para petani lokal hanya 14 persen, sedangkan produksi beras dari luar mencapai 86 persen," katanya di Pangkalpinang, Selasa.
Ia menjelaskan, rawan pangan terjadi apabila pasokan beras dari daerah sentra produksi beras di Pulau Jawa dan Sumatera tersendat.
"Biasanya, pasokan beras tersendat apabila kondisi cuaca di perairan memburuk yang ditandai gelombang tinggi, angin kencang dan lainnya yang membahayakan keselamatan kapal barang, petani di luar daerah gagal panen dan lainnya," ujarnya.
Ia mengatakan, ketersediaan pangan khususnya beras cukup mengkhawatirkan karena tingginya tingkat konsumsi beras warga seiring beras merupakan makanan pokok yang harus ada dan dikonsumsi warga.
"Apabila pasokan beras dari luar tersendat maka secara otomatis harga beras akan mengalami kenaikkan yang cukup tinggi, bahkan mencapai Rp11.000 per kilogram dari harga normal Rp9.000 per kilogram, sehingga akan memberatkan ekonomi warga kurang mampu," ujarnya.
Menurut dia, dalam upaya mengurangi ketergantungan pasokan beras dari luar ini, pihaknya terus berupaya mengoptimalkan lahan pertanian padi sawah, menyalurkan bantuan benih berkualitas, sarana produksi, pembinaan dan penyuluhan kepada petani.
"Saat ini, luas lahan padi sawah di Bangka Belitung mencapai 10.500 hektare tersebar di Kabupaten Bangka, Bangka Barat, Bangka Tengah, Bangka Selatan, Belitung dan Belitung Timur yang masih belum dikelola dengan maksimal," ujarnya.
Ia mengatakan, pengelolaan lahan padi sawah secara maksimal ini tentu akan meningkatkan produksi padi petani. Selama ini penanaman padi hanya dilakukan satu kali dalam setahun ditingkatkan menjadi dua hingga tiga kali tanam per tahun.
"Kami berupaya meningkatkan kesadaran dan minat petani untuk menanam padi minimal dua kali dalam setahun, sehingga akan meningkatkan kesejahteraan petani dan menekan kenaikkan harga beras luar tersebut," ujarnya.
Pewarta : Oleh Aprionis
Editor : Indra Gultom
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pemkab Muara Enim dan Kapolda Sumsel tanam bawang putih serentak di Semende Darat Tengah
19 August 2026 11:18 WIB
Sumsel kembangkan pertanian modern, targetkan produktivitas padi 10 ton per hektare
07 August 2026 20:13 WIB
Kisah Sutarni jadi pelopor pertanian organik di PALI berkat program Pertamina Hulu Rokan
10 June 2026 13:16 WIB
Terpopuler - Lintas Daerah
Lihat Juga
Tim SAR evakuasi tujuh pendaki Gunung Nokilalaki Sigi yang kehabisan logistik
13 September 2026 16:44 WIB
Keluarga penumpang Kapal Virgo Transport 8 cemas menanti evakuasi di Pelabuhan Trisakti
13 September 2026 16:35 WIB
Kecelakaan Kapal Virgo Transport 8 di Laut Jawa: 6 meninggal, 97 selamat
13 September 2026 16:32 WIB
Kapal Pertamina selamatkan 16 korban KMP Virgo Transport 08 di Laut Jawa
13 September 2026 16:29 WIB
Pemadaman kebakaran Gunung Bromo lewat water bombing terkendala cuaca buruk
13 September 2026 16:21 WIB
Basarnas kerahkan helikopter cari korban kecelakaan Kapal Virgo Transport 8 di Laut Jawa
13 September 2026 12:52 WIB
Tim SAR pusatkan pencarian lima jurnalis hilang di radius terdekat Gunung Anak Krakatau
11 September 2026 21:26 WIB
Lima penerbangan Palembang-Jakarta dibatalkan, dampak erupsi Anak Krakatau
06 September 2026 9:35 WIB