Sumsel aman dari titik api
Jumat, 21 Juni 2013 19:17 WIB
Ilustrasi - Kabut asap (FOTO ANTARA)
Palembang (ANTARA Sumsel) - Provinsi Sumatera Selatan memasuki musim kemarau pada Juni 2013 masih aman dari titik api yang berpotensi mengakibatkan kebakaran hutan, lahan perkebunan, dan pertanian serta menimbulkan masalah kabut asap.
"Sejak memasuiki musim kemarau pada awal bulan ini hingga kini sebagian besar wilayah Sumatera Selatan belum terdeteksi titik api. Dari 15 kabupaten/kota, baru ditemukan di dua kabupaten dengan jumlah hanya beberapa titik saja," kata Kasi Observasi dan Informasi Stasiun Klimatologi Kenten BMKG Sumsel Indra Purnama di Palembang, Jumat.
Berdasarkan hasil pemantauan melalui satelit Terra dan Aqua, beberapa hari terakhir terpantau titik api di wilayah Kabupaten Musi Banyausin dan Banyuasin dengan jumlah berfluktuatif maksimal 10 titik api, sementara 13 kabupaten/kota Sumsel lainnya masih nihil atau belum terdeteksi satu pun titik api.
Berdasarkan pentauan melalui satelit tersebut, provinsi di Sumatera yang paling banyak terdapat titik api sepanjang Juni 2013 adalah Provinsi Riau, yakni mencapai 250 titik api.
Kondisi masih sedikitnya titik api di provinsi berpenduduk sekitar 8,6 juta jiwa ini dipengaruhi seringnya turun hujan di daerah ini.
Wilayah Sumsel diprakirakan masih terdapat banyaknya hujan dengan intensitas curah hujan berkisar 50--151 milimeter.
Banyaknya curah hujan pada awal musim kemarau tahun ini dipengaruhi fenomena la nina lemah dan dipole mode negatif serta hangatnya temperatur perairan setempat yang menyebabkan masih tersedianya uap air.
Kondisi tersebut diharapkan dapat meminimalisasi peluang terjadinya "hotspot" di wilayah provinsi ini dan diharapkan masalah kebakaran hutan, lahan perkebunan dan pertanian, serta masalah kabut asap yang mulai terjadi di Provinsi Riau tidak terjadi di Sumsel, kata dia pula.
Sementara itu, Koordinator Taruna Siaga Bencana (Tagana) Sumsel M.S. Sumarwan mengatakan bahwa pada kondisi musim kemarau basah sekarang ini meskipun masih aman dari "hotspot" masyarakat diimbau tetap mewaspadai kemungkinan terjadinya kebakaran hutan, lahan perkebunan, dan pertanian.
Selain itu, juga perlu mewaspadai kemungkinan terjadinya bencana angin langkisau (puting beliung) dan tanah longsor karena beberapa pekan terakhir melanda di sejumlah daerah, seperti di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan dan Kota Pagar Alam akibat daerah itu diguyur hujan diserta angin kencang, kata Sumarwan yang juga menjabat sebagai Kabid Bantuan dan Jaminan Sosial Dinas Sosial Sumsel itu.
"Sejak memasuiki musim kemarau pada awal bulan ini hingga kini sebagian besar wilayah Sumatera Selatan belum terdeteksi titik api. Dari 15 kabupaten/kota, baru ditemukan di dua kabupaten dengan jumlah hanya beberapa titik saja," kata Kasi Observasi dan Informasi Stasiun Klimatologi Kenten BMKG Sumsel Indra Purnama di Palembang, Jumat.
Berdasarkan hasil pemantauan melalui satelit Terra dan Aqua, beberapa hari terakhir terpantau titik api di wilayah Kabupaten Musi Banyausin dan Banyuasin dengan jumlah berfluktuatif maksimal 10 titik api, sementara 13 kabupaten/kota Sumsel lainnya masih nihil atau belum terdeteksi satu pun titik api.
Berdasarkan pentauan melalui satelit tersebut, provinsi di Sumatera yang paling banyak terdapat titik api sepanjang Juni 2013 adalah Provinsi Riau, yakni mencapai 250 titik api.
Kondisi masih sedikitnya titik api di provinsi berpenduduk sekitar 8,6 juta jiwa ini dipengaruhi seringnya turun hujan di daerah ini.
Wilayah Sumsel diprakirakan masih terdapat banyaknya hujan dengan intensitas curah hujan berkisar 50--151 milimeter.
Banyaknya curah hujan pada awal musim kemarau tahun ini dipengaruhi fenomena la nina lemah dan dipole mode negatif serta hangatnya temperatur perairan setempat yang menyebabkan masih tersedianya uap air.
Kondisi tersebut diharapkan dapat meminimalisasi peluang terjadinya "hotspot" di wilayah provinsi ini dan diharapkan masalah kebakaran hutan, lahan perkebunan dan pertanian, serta masalah kabut asap yang mulai terjadi di Provinsi Riau tidak terjadi di Sumsel, kata dia pula.
Sementara itu, Koordinator Taruna Siaga Bencana (Tagana) Sumsel M.S. Sumarwan mengatakan bahwa pada kondisi musim kemarau basah sekarang ini meskipun masih aman dari "hotspot" masyarakat diimbau tetap mewaspadai kemungkinan terjadinya kebakaran hutan, lahan perkebunan, dan pertanian.
Selain itu, juga perlu mewaspadai kemungkinan terjadinya bencana angin langkisau (puting beliung) dan tanah longsor karena beberapa pekan terakhir melanda di sejumlah daerah, seperti di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan dan Kota Pagar Alam akibat daerah itu diguyur hujan diserta angin kencang, kata Sumarwan yang juga menjabat sebagai Kabid Bantuan dan Jaminan Sosial Dinas Sosial Sumsel itu.
Pewarta : Oleh Yudi Abdullah
Editor : Indra Gultom
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Tim Satgas padamkan karhutla 8,5 hektare di Desa Merbau Ogan Komering Ulu
07 September 2026 22:41 WIB
Karhutla Gunung Bromo: Titik api Probolinggo padam, Pasuruan masih dipadamkan
12 August 2026 11:34 WIB
Karhutla hanguskan 10 hektare lahan di Muara Enim, tim gabungan gencarkan pemadaman
07 August 2026 20:10 WIB
Terpopuler - Warta Bumi
Lihat Juga
Jaga ekosistem laut, Pertamina Trans Kontinental tanam 512 terumbu karang di Sulawesi Utara
20 August 2026 7:24 WIB
Ubah limbah jadi bermanfaat, Kilang Plaju dorong Kelompok Proklim ciptakan produk bernilai
10 August 2026 22:42 WIB
Tim Gabungan berhasil kendalikan karhutla di Taman Nasional Gunung Rinjani NTB
09 August 2026 10:53 WIB