Burung kas Bangka terancam punah
Sabtu, 23 Maret 2013 22:30 WIB
Segerombolan burung dara laut sayap putih (Chlidonias Leucopterus) terbang di atas perairan hutan mangrove Sembilang Banyuasin, Sumsel, Sabtu (28/4). (Foton Antarasumsel.com/Feny Selly/12)
Toboali, Bangka Selatan (ANTARA Sumsel) - Burung khas di Kabupaten Bangka Selatan Provinsi Bangka Belitung (Babel), terancam punah karena semakin maraknya aksi penangkapan burung di daerah itu.
"Populasi burung khas Bangka Selatan seperti murai batu, kacer, pentet, mandi darah betet dan burung berkicau lainnya semakin berkurang dan dikhawatirkan mengalami kepunahan," ujar Kabid Kehutanan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Bangka Selatan, Evan Sandy Maulana di Toboali, Sabtu.
Ia menjelaskan, semenjak populernya perlombaan burung berkicau di Babel, penangkapan burung liar mengalami peningkatan yang tinggi seiring nilai jual burung ini cukup mahal, misalnya, harga burung murai batu yang belum terlatih mencapai Rp1,5 juta.
"Saat ini, sulit dan bahkan tidak ada lagi burung muari batu, kacer, pentet, betet dan burung berkicau lainnya di hutan karena burung yang ditangkap tidak dikembangbiakan, warga hanya sekedar memelihara dan diperlombakan," ujarnya.
Ia mengatakan, burung ini mulai punah juga dipicu karena hutan yang semakin berkurang sebagai dampak penambangan bijih timah, perkebunan skala besar, penebangan hutan liar dan lainnya.
Selama 2012, seluas 80.332 hektare hutan produksi rusak parah dengan rincian 39.425 hektare sangat kritis dan 40.907 hektare kritis.
Seluas 16.869 hektare hutan lindung kritis dengan tingkat kekritisan lahan 5.984 hektare hutan sangat kritis dan 10.885 hektare hutan kritis.
"Kami berupaya menyelamatkan populasi burung ini dengan mencegah berbagai aktivitas yang dapat mengancam kelestarian burung, terutama aktivitas penangkapan burung secara ilegal, jangan sampai burung khas daerah ini menjadi kenangan karena punah," ujarnya.
Untuk itu, kata dia, untuk meningkatkan kesadaran warga, kami menyosialisasikan mengenai pentingnya menjaga kelestarian burung dengan harapan masyarakat, terutama yang berada di sekitar hutan ikut bertanggungjawab menjaga kelestarian burung itu.
"Populasi burung khas Bangka Selatan seperti murai batu, kacer, pentet, mandi darah betet dan burung berkicau lainnya semakin berkurang dan dikhawatirkan mengalami kepunahan," ujar Kabid Kehutanan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Bangka Selatan, Evan Sandy Maulana di Toboali, Sabtu.
Ia menjelaskan, semenjak populernya perlombaan burung berkicau di Babel, penangkapan burung liar mengalami peningkatan yang tinggi seiring nilai jual burung ini cukup mahal, misalnya, harga burung murai batu yang belum terlatih mencapai Rp1,5 juta.
"Saat ini, sulit dan bahkan tidak ada lagi burung muari batu, kacer, pentet, betet dan burung berkicau lainnya di hutan karena burung yang ditangkap tidak dikembangbiakan, warga hanya sekedar memelihara dan diperlombakan," ujarnya.
Ia mengatakan, burung ini mulai punah juga dipicu karena hutan yang semakin berkurang sebagai dampak penambangan bijih timah, perkebunan skala besar, penebangan hutan liar dan lainnya.
Selama 2012, seluas 80.332 hektare hutan produksi rusak parah dengan rincian 39.425 hektare sangat kritis dan 40.907 hektare kritis.
Seluas 16.869 hektare hutan lindung kritis dengan tingkat kekritisan lahan 5.984 hektare hutan sangat kritis dan 10.885 hektare hutan kritis.
"Kami berupaya menyelamatkan populasi burung ini dengan mencegah berbagai aktivitas yang dapat mengancam kelestarian burung, terutama aktivitas penangkapan burung secara ilegal, jangan sampai burung khas daerah ini menjadi kenangan karena punah," ujarnya.
Untuk itu, kata dia, untuk meningkatkan kesadaran warga, kami menyosialisasikan mengenai pentingnya menjaga kelestarian burung dengan harapan masyarakat, terutama yang berada di sekitar hutan ikut bertanggungjawab menjaga kelestarian burung itu.
Pewarta : Oleh Aprionis
Editor : Indra Gultom
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Balai karantina Karantina gagalkan penyelundupan 668 burung tak berdokumen
17 May 2025 19:10 WIB, 2025
Pemasok burung tak kapok-kapok, lagi pengangkut 4.354 burung ilegal dicegat di Tol Trans Sumatera
01 December 2024 20:37 WIB, 2024