Palembang (ANTARA Sumsel) - Meilani Leimena Suharli yang juga Wakil Ketua MPR-RI memiliki kecintaan mendalam terhadap kain tenun khas Indonesia.

Koleksinya kini mencapai ratusan lembar yang merupakan hasil karya pengrajin tersebar dari Sabang hingga Merauke.

Kunjungan kerja ke daerah menjadi kesempatan emas baginya dalam menambah koleksi seperti yang terlihat saat menghadiri Rapat Kerja Nasional XXII Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) di Palembang, Kamis.

Perempuan paruh baya ini tampak asyik mengitari stan pameran perdagangan produk unggulan IWAPI dengan ditemani seorang ajundan, untuk mendapatkan beberapa tambahan koleksi.

Ia pun terlihat terhenti pada salah satu stan yang menjual kain songket (kerajinan tenun khas Sumatera Selatan), dan tanpa berlama-lama langsung membeli dua lembar kain berserta selendang untuk dibawa pulang ke Jakarta keesokan harinya.

"Kain yang dibeli biasanya akan dipakai saat mengunjungi daerah pembuatnya sendiri. Seperti saat ini, saya memakai kain songket tapi di bagian tumpalnya sudah dimodifikasi dengan jumputan khas Palembang," ujarnya menerangkan.

Melani mengatakan sangat memahami cara pembuatan serta pemakaian sebagian besar kain koleksinya.

Sementara ini, ia sangat senang memakai kain khas Nusa Tenggara Timur (NTT) setelah mengetahui tenun ikat itu memiliki beragam motif hingga 400 jenis. Saat ini pemerintah setempat giat mempromosikan dalam pameran dalam negeri dan luar negeri termasuk menggelar pasar tradisonal di daerah setempat dari dua kali sepekan menjadi tiga kali.

"Saat ini lagi senang-senangnya memakai kain songket NTT. Sering sekali ditanyakan bahkan diminta oleh sejumlah pejabat negara tetangga dan Eropa yang melakukan kunjungan ke Indonesia," ujarnya.

Menurutnya, pemerintah harus mengupayakan industri kreatif di Indonesia lebih berkembang dibandingkan tahun sebelumnya, karena Ibu Pertiwi memiliki keunggulan yakni keanekaragaman budaya.

"Inggris saja industri kreatifnya bisa mendominasi hingga 70 persen dari perputaran uang di sana, sementara Indonesia hanya 7 persen padahal kerajinan tenun ikat saja jumlahnya tidak terhitung, belum yang lain," katanya.

Penguatan dari pemerintah diharapkan mampu mengatasi permasalahan klasik para pengrajin yakni kurangnya modal dan pemasaran. Upaya itu menjadi salah satu cara pemberdayaan perempuan karena diketahui mendominasi industri kerajinan rumah tangga.

"DPR saja memiliki target pada 2014 sudah menembus angka 30 persen keterwakilan perempuan. Harapannya hal itu juga terjadi pada sendi-sendi kehidupan masyarakat yang lain," ujarnya.

Melani sempat menjabat sebagai Sekretaris Jenderal DPP IWAPI sebelum akhirnya menjadi wakil rakyat.

Ia berharap lebih banyak perempuan berkiprah pada dunia politik untuk memberikan warna pada negara dan semakin mengangkat harkat dan martabat.  (Dolly)