Jambi (ANTARA Sumsel) - Sedikitnya 13 ribu hektare areal pertanian di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir beralih fungsi menjadi perkebunan sawit.

"Khusus di Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim) pemerintah daerah tengah berupaya mempertahankan 16.700 hektare kawasan pertanian yang tersisa," ujar Kepala Dinas Pertanian Tanjabtim, Ahmad Mausul di Muarasabak, ibukota Kabupaten Tanjabtim, Minggu.

Ia mengakui, alih fungsi lahan pertanian menjadi perkebunan sawit mulai dirasakan sejak 10 tahun terakhir dimana petani lebih tergiur dengan hasil ekonomi dari perkebunan sawit.

Hanya saja, kata dia, akibat alih fungsi yang serampangan justru mengakibatkan turunnya kualitas lahan, mengingat tanaman sawit merupakan tanaman yang sangat tergantung pasokan air maupun pupuk.

Untuk mempertahankan kawasan pertanian yang masih ada, Pemkab Tanjabtim sebelumnya telah menggodok adanya peraturan daerah tentang alih fungsi lahan dimana, upaya alih fungsi lahan, khususnya kawasan pertanian harus dikontrol dan tidak bisa dilakukan tanpa sepengetahuan pemerintah daerah.

"Sejatinya Tanjabtim menjadi salah satu daerah lumbung padi di Provinsi Jambi, namun jika tidak ada keinginan dari masyarakat mempertahankan kawasan pertaniannya, justru akan merugikan masyarakat sendiri," tambahnya.

Akibat alih fungsi itu, menyebabkan sejumlah produksi komoditas pertanian, khususnya padi di Tanjabtim menurun.

Berdasarkan data di Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Tanjabtim, pada 2007 luas lahan pertanian padi di daerah itu mencapai 32.477 hektare dengan jumlah produksi mencapai 112.223 ton.

Meski ada peningkatan produksi pada 2008 sebesar 115.517 ton, jumlah itu kemudian menurun, pada 2009 hanya mencapai 113.483 ton produksi pertanian.

Seiring pesatnya komoditi perkebunan sawit dan karet di Tanjabtim, produksi pertanian terus menurun sejak 2009. Terendah pada 2011 luas kawasan pertanian hanya tersisa sekitar 29.700 hektare  dengan hasil produksi mencapai 104.011 ribu ton.

Hasil pertanian jagung juga mengalami penurunan. Pada 2007, Tanjabtim mampu memproduksi jagung mencapai 2.855 ton dengan luas lahan 949 hektare.

Produksi jagung terus menurun memasuki 2008 yang hanya mencapai 2.646 ton. Penurunan terendah terjadi pada 2011 seiring menyusutnya kawasan pertanian jagung di daerah itu yakni seluas 821 hektare dengan hasil produksi 2.499 ton.

Kemudian untuk tanaman kedelai, tercatat pada 2007 luas lahan mencapai 1.205 hektare dengan hasil produksi 1.642 ton.

Meski sempat terjadi kenaikan hingga 2010, produksi kedelai Tanjabtim turun drastis pada 2011 yang hanya mencapai 1.298 ton dengan luas lahan tersisa 948 hektare.(KR-BS/D009/Ant)

Pewarta :
Editor : M. Suparni
Copyright © ANTARA 2026