Budaya Lebaran "subuh" terancam punah
Minggu, 19 Agustus 2012 11:11 WIB
Ilustrasi (FOTO ANTARA)
Bengkulu (ANTARA Sumsel) - Budaya lebaran "subuh" bagi masyarakat Lembak di Kota Bengkulu terancam punah karena generasi muda nyaris tidak mewarisi lagi budaya tersebut.
"Hal itu terlihat setiap lebaran Idul Fitri hanya orang-orang dewasa saja masih melakukan lebaran tersebut, sedangkan remaja dan anak-anak sangat minim," kata Ketua Adat di Kecamatan Selebar yang juga warga Lembak Amirudin, Minggu.
"Dalam waktu dekat kami akan menggelar rapat secara adat untuk membahas kelanjutan lebaran Subuh tersebut, bila generasi sudah enggan mewarisinya tahun depan ditiadakan," katanya.
Ia mengatakan, budaya lebaran subuh yaitu dilakukan setelah shalat subuh itu kurang diminati karena banyak masyarakat pendatang yang tidak terbiasa akan hal itu.
Kalau dulu di beberapa desa mulai dari Tanjung Agung, Tanjung Jaya, Jembatan Kecil, Panorama, Pagar dewa dan Sukarami sebagian besar masyarakat asli lembak.
Sejak wilayah itu menjadi kelurahan dalam Kota Bengkulu, maka perkembangan pertumbuhan penduduk makin menjamur, sehingga semua etnis bercampur baur dan generasi muda terpengaruh akan untuk tidak melaksanakan lebaran subuh tersebut, ujarnya.
Tokoh Muda masyarakat Lembak M Sis Rahman mengatakan, budaya lebaran subuh itu tergantung pada tokoh tua yang masih hidup.
Bila generasi tua itu sudah habis dikhawatirkan buadaya lebaran subuh warga lembak akan habis, karena lebaran subuh tujuannya untuk bersilaturahim dengan para orang tua pada waktu usai shalat subuh.
"Biasanya orang-orang tua itu merindukan anak cucunya untuk berkunjung dan berkumpul, namun pada era modern budaya itu terancam tergusur," ujarnya.
(ANT/Z005/T013)
"Hal itu terlihat setiap lebaran Idul Fitri hanya orang-orang dewasa saja masih melakukan lebaran tersebut, sedangkan remaja dan anak-anak sangat minim," kata Ketua Adat di Kecamatan Selebar yang juga warga Lembak Amirudin, Minggu.
"Dalam waktu dekat kami akan menggelar rapat secara adat untuk membahas kelanjutan lebaran Subuh tersebut, bila generasi sudah enggan mewarisinya tahun depan ditiadakan," katanya.
Ia mengatakan, budaya lebaran subuh yaitu dilakukan setelah shalat subuh itu kurang diminati karena banyak masyarakat pendatang yang tidak terbiasa akan hal itu.
Kalau dulu di beberapa desa mulai dari Tanjung Agung, Tanjung Jaya, Jembatan Kecil, Panorama, Pagar dewa dan Sukarami sebagian besar masyarakat asli lembak.
Sejak wilayah itu menjadi kelurahan dalam Kota Bengkulu, maka perkembangan pertumbuhan penduduk makin menjamur, sehingga semua etnis bercampur baur dan generasi muda terpengaruh akan untuk tidak melaksanakan lebaran subuh tersebut, ujarnya.
Tokoh Muda masyarakat Lembak M Sis Rahman mengatakan, budaya lebaran subuh itu tergantung pada tokoh tua yang masih hidup.
Bila generasi tua itu sudah habis dikhawatirkan buadaya lebaran subuh warga lembak akan habis, karena lebaran subuh tujuannya untuk bersilaturahim dengan para orang tua pada waktu usai shalat subuh.
"Biasanya orang-orang tua itu merindukan anak cucunya untuk berkunjung dan berkumpul, namun pada era modern budaya itu terancam tergusur," ujarnya.
(ANT/Z005/T013)
Pewarta :
Editor : AWI-SEO&Digital Ads
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Polda Sumsel catat 30.956 kegiatan pengamanan selama Operasi Ketupat Musi 2026
26 March 2026 19:22 WIB
Operasi Ketupat Musi 2026: Polda Sumsel terjunkan 1.000 personel amankan mudik
12 March 2026 20:09 WIB
Polres OKU Timur catat lima kasus lakalantas pada Operasi Ketupat 2025
12 April 2025 10:56 WIB, 2025
Polisi tindak pria mengaku ormas minta THR ke tukang cukur di Cilandak
25 March 2025 12:31 WIB, 2025