Babel diminta transformasikan ekonomi ke pariwisata

id menpar,menteri pariwisata,arief yahya,ekonomi ke pariwisatam,babel transformasikan ekonomi,tranformasi ekonomi,pariwisata,kek pariwisata

Menteri Pariwisata Arief Yahya) memberikan materi dihadapan perwakilan Perhimpunan Hotel dan Restoran (PHRI) seluruh Indonesia pada diskusi panel Visit Wonderful Indonesia di Palembang, Kamis (5/4). (ANTARA News Sumsel/Feny Selly/Ang/18)

....KEK Pariwisata Tanjung Gunung diharapkan dapat ditetapkan dalam waktu tiga bulan, seperti 'saudaranya' KEK Tanjung Kelayang di Belitung....
Jakarta (ANTARA News Sumsel) - Menteri Pariwisata Arief Yahya meminta Provinsi Bangka Belitung (Babel) mentransformasikan ekonominya dari sektor tambang ke pariwisata.

"Transformasi haruslah berawal dari komitmen pimpinan dan menerapkan agen perubahan bahwa pemimpin harus mempunyai visi ke depan. Memenangkan peperangan, tanpa peperangan sebagaimana 'blue ocean strategy' yang lihai dalam perencanaan dan cerdas menangkap peluang," kata Arief dalam keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu.

Ia menjelaskan pariwisata merupakan industri jasa yang paling mudah, murah, cepat, dan berkelanjutan.

Menurut dia, Provinsi Babel dengan keunggulan lokasi yang memiliki daya ungkit global berpeluang membuat terobosan dengan melakukan transformasi tersebut.

"Penurunan kontribusi sektor pertambangan harus bisa digantikan sektor lain yang mengedepankan pembangunan ramah lingkungan dan berkelanjutan, semisal pariwisata yang telah terbukti lebih murah, lebih cepat memberikan hasil dan telah menjadi penyumbang devisa nasional nomor dua," katanya.

Menurut Arief, pembangunan pariwisata yang ramah lingkungan dan berkelanjutan dapat dipercepat dengan memanfaatkan kemudahan dan perlakuan khusus yang telah disediakan pemerintah yaitu kawasan ekonomi khusus (KEK).

"Melalui sinergi tiga KEK pariwisata (Tanjung Kelayang, Tanjung Gunung, dan Pesisir Timur Sungailiat) yang didukung penuh para diaspora Babel, maka bisnis model KEK pariwisata ini akan mempercepat transformasi struktur ekonomi Provinsi Babel ke arah struktur ekonomi modern," ungkapnya.

Arief meninjau persiapan KEK Pariwisata Tanjung Gunung dan Pesisir Timur Sungailiat di Pulau Bangka, Babel.

Dua kawasan tersebut diharapkan segera ditetapkan sebagai KEK pariwisata seperti halnya KEK Tanjung Kelayang di Pulau Belitung yang kini dalam percepatan pembangunan.

"KEK Pariwisata Tanjung Gunung diharapkan dapat ditetapkan dalam waktu tiga bulan, seperti 'saudaranya' KEK Tanjung Kelayang di Belitung," kata Menpar.

Ia mengatakan perkembangan struktur ekonomi Provinsi Babel dalam lima tahun terakhir (2012-2016) relatif stagnan dan tetap didominasi oleh tiga lapangan usaha utama, yaitu perkebunan, kehutanan, dan perikanan (20,15 persen); diikuti industri pengolahan (20,05 persen); dan pertambangan (11,05 persen).

Sektor pertambangan dan industri pengolahan justru menunjukkan penurunan yakni peran pertambangan dan galian turun dari 15,36 persen (pada 2012) menjadi 11,89 persen pada 2016, diikuti industri pengolahan turun dari 24,33 persen menjadi 20,05 persen.

Sedangkan sektor transportasi dan akomodasi justru meningkat dari 5,66 persen (2012) menjadi 6,52 persen pada 2016.

Gubernur Babel Erzaldi Rosman pada kesempatan tersebut mendorong para pelaku bisnis pariwisata segera mewujudkan bisnis model KEK pariwisata.

"Yakinlah dengan pariwisata maka Bangka Belitung akan semakin maju," katanya.

Sedangkan, pemilik Kawasan Wisata Tanjung Gunung Johan Riduan Hasa menjelaskan KEK Tanjung Gunung diusulkan melalui PT Pan Semujur Makmur (PSM) dengan menyediakan lahan seluas 385 hektare dan sebagai tahap pertama PSM akan melakukan investasi sebesar Rp1,58 triliun.

Pemerintah telah menetapkan 10 destinasi prioritas untuk dikembangkan sebagai Bali Baru dengan satu di antaranya di Tanjung Kelayang, Pulau Belitung, Provinsi Babel.

Tanjung Kelayang dikembangkan sebagai destinasi kelas dunia dengan mengandalkan potensi budaya (culture), alam (nature), dan buatan manusia (manmade).



    




    














 
Pewarta :
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar