
KAI: terowongan KA terkena longsor sudah normal

Palembang (ANTARA Sumsel) - Terowongan rel kereta api Willem Sinja atau Gunung Gajah yang berada antara Stasiun Lahat menuju Bunga Mas Lubuk Linggau, Sumatera Selatan, sudah normal bisa beroperasi setelah terkena longsor Sabtu (23/1) pagi.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat PT Kereta Api Indonesia Divre III Sumatera Selatan, Jaka Jarkasi di Palembang, Senin, mengatakan, jalur tersebut sudah dioperasikan sejak Minggu (24/1) setelah dilakukan perbaikan secara bertahap dengan alat berat.
"Sejak Minggu pagi jalur sudah dioperasikan tapi kecepatan kereta api (KA) masih rendah sekitar 5 km per jam, karena mempertimbangkan cuaca saat ini yang hujan terus menerus," kata Jaka.
Ia mengemukakan, terowongan Willem Sinja yang sudah ada dari zaman Belanda ini tertimpa gundukan tanah dari perbukitan akibat hujan dengan intensitas tinggi di daerah tersebut.
Untuk membersihkan terowongan tersebut, PT KAI menggunakan eskavator berukuran besar yang bisa berjalan di atas rel bantuan dari Badal Teknik Perkeretaapian Kementerian Perhubungan di Palembang.
"Pekerjaan ini cukup sulit karena hujan yang terus-terusan membuat tanah menjadi lumpur. Sebenarnya, pada sore harinya sekitar pukul 17.00 WIB sudah rampung tapi ternyata ada longsor yang kedua. Kemudian, pada tengah malamnya juga ada air setinggi 1 meter di dalam terowongan," kata dia.
Oleh karena itu, untuk menghindari kejadian serupa, KAI sudah membuat saluran air di sekitar rel, dan membuat sekat di bagian atas terowongan agar tidak tertimpa tanah longsor.
Dalam waktu dekat, KAI juga memadatkan kawasan tebingnya dengan menempelkan batu, menanam pohon, dan melandaikan lereng bukit.
Terkait keselamatan transfortasi, Jaka mengatakan para penumpang tidak perlu khawatir karena KAI memiliki Standar Operasional Prosedur mengharuskan pemantauan secara manual oleh petugas dengan berjalan kaki untuk jalur rel yang rawan.
Adapun jalur yang diwaspadai saat itu sesuai dengan imbauan pihak BMKG yakni dari stasiun Lahat dan Muarenim (Hujan Mas-Belimbing).
"Kewaspadaan ini patut ditingkatkan karena kawasan itu mengalami masa kemarau yang panjang tahun lalu, jadi ketika hujan dengan debit tinggi dan terus menerus akan membuat struktur tanah menjadi labil, disebabkan akar tumbuhan sudah mati," kata dia.
Sejauh ini, KAI masih mengaktifkan semua jalur angkutan sembari meningkatkan kewaspadaan, katanya.
Pewarta: Dolly Rosana
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2026
