Logo Header Antaranews Sumsel

Imigrasi Palembang awasi ketat pekerja asing

Rabu, 30 April 2014 22:58 WIB
Image Print
Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Palembang Bogi Widiantoro. (Foto Antarasumsel.com/14/Yudi Abdullah)
...Di daerah ini ada puluhan orang asing yang bekerja di sektor pendidikan, pertambangan, perkebunan, dan industri. Keberadaan mereka perlu diawasi ketat...

Palembang (ANTARA Sumsel) - Petugas Kantor Imigrasi Kelas I Palembang, Sumatera Selatan, berupaya melakukan pengawasan ketat setiap warga negara asing yang bekerja di daerah setempat untuk mencegah terjadinya pelanggaran Undang Undang Keimigrasian dan hukum lainnya.

"Di daerah ini ada puluhan orang asing yang bekerja di sektor pendidikan, pertambangan, perkebunan, dan industri. Keberadaan mereka perlu diawasi ketat sehingga tidak menimbulkan masalah sosial dan hukum," kata Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Palembang Bogi Widiantoro, Rabu.

Menurut dia, pengawasan ketat terhadap warga negara asing (WNA) dilakukan sebagai langkah antisipasi penyalahgunaan izin tinggal dan terjadinya tindakan pelanggaran hukum lainnya.

Selain itu, pengawasan ketat juga dilakukan sebagai upaya mencegah masuknya imigran gelap atau WNA yang tidak dilengkapi dokumen keimigrasian yang sah, katanya.

Pengawasan ketat dilakukan di sejumlah perusahaan dan lembaga pendidikan yang tercatat memiliki sejumlah tenaga kerja asing.

Selain itu pula dilakukan pengawasan di tempat penginapan atau hotel, terminal, pelabuhan, bandara dan tempat-tempat lain yang biasa menjadi pintu masuk atau tempat lalu-lintas orang asing, ujarnya.

Dia menjelaskan, dengan dilakukannya pengawasan ketat tersebut, sejauh ini kasus penyalahgunaan izin tinggal atau tindak pidana yang melibatkan orang asing dapat dihindari.

Begitu juga kasus penangkapan orang asing ilegal atau tidak memiliki dokumen keimigrasian yang biasa disebut dengan imigran gelap yang terjadi pada tahun lalu, sejak Januari hingga akhir April 2014 ini belum ditemukan satu kasuspun, kata Bogi.



Pewarta:
Editor: Yudi Abdullah
COPYRIGHT © ANTARA 2026