Logo Header Antaranews Sumsel

LSM: alasan rencana akuisisi BTN mengada-ada

Kamis, 17 April 2014 22:59 WIB
Image Print
Ilustrasi - Bank Indonesia. (Foto Antarasumsel.com/Feny Selly)
...Salah satu alasan akuisisi Bank BTN yang berkaitan dengan kesiapan menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) pada tahun 2020 dinilai terlalu mengada-ada...

Jakarta (ANTARA Sumsel) - Lembaga swadaya masyarakat Indonesia Property Watch menganggap alasan rencana akuisisi Bank Tabungan Negara merupakan hal yang mengada-ada dan tidak ada urgensinya BTN harus diakuisisi oleh bank lain.

"Salah satu alasan akuisisi Bank BTN yang berkaitan dengan kesiapan menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) pada tahun 2020 dinilai terlalu mengada-ada," kata Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch Ali Tranghanda di Jakarta, Kamis.

Menurut Ali, dengan akuisisi yang ada malah akan memperburuk portofolio bank BUMN di segmen menengah bawah dengan pasar yang sangat besar.

Dengan akuisisi yang ada, dia berpendapat bahwa fokus BTN sebagai sumber pembiayaan rumah murah dicemaskan akan kian bergeser.

"Di luar skenario politik yang ada, bila memang BTN diakusisi oleh bank BUMN lainnya, BTN sudah mencederai hati para pelaku pasar yang sampai saat ini melihat BTN sebagai harapan sebagai bank perumahan untuk membantu menyalurkan kredit rumah murah," katanya.

Untuk itu, dia mendesak Pemerintah harus menjamin tetap tersedianya penyaluran kredit rumah murah. Apalagi, BTN sebagai bank yang aktif dalam penyaluran pembiayaan perumahan murah tentunya menjadi strategis karena mempunyai pangsa pasar yang sangat besar.

"Tentunya hal ini menjadi incaran bagi pihak lain untuk dapat menguasai BTN. Belum lagi bila Tapera (Tabungan Perumahan Rakyat) disahkan DPR," ucapnya.

Sebelumnya, Surat Menteri BUMN tertanggal 11 April bernomor SR-161/MBU/04/2014 yang ditujukan kepada Direktur Utama BTN meminta kepada perseroan untuk menambahkan agenda RUPSLB meminta Persetujuan Prinsip atas Perubahan Pemegang Saham Perseroan.

Menurut Dahlan, alasan pelepasan Bank BTN kepada Mandiri, antara lain menolong BTN karena selama sudah tidak sanggup memenuhi tingginya permintaan masyarakat terhadap perumahan.

"Terus terang saja, kebutuhan rumah saat ini mencapai 1,5 juta unit per tahun. BTN tidak mampu memenuhinya," ujar Dahlan.

Menteri BUMN juga mengemukakan alasan lainnya adalah dengan mengambilalih BTN maka Bank Mandiri akan menjadi salah satu bank terbesar di ASEAN.

Adapun dari sisi pemerintah, tambah Dahlan, dengan terbentuknya bank dalam skala besar seperti Mandiri, kelak mampu bersaing dengan bank asing dalam rangka menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN mulai 2015.

Selama ini, ujar Dahlan, bank-bank di Indonesia kalah besar daripada bank dari Singapura, Malaysia, maupun Thailand. "Dengan penggabungan ini, Mandiri setidaknya sudah bisa mengalahkan bank terbesar Malaysia. Kita tentu tidak ingin bank-bank Indonesia kalah bersaing, apalagi di dalam negeri," ujarnya.



Pewarta:
Editor: Yudi Abdullah
COPYRIGHT © ANTARA 2026