Logo Header Antaranews Sumsel

Tukar sampah dengan permen di Totusa

Jumat, 7 Maret 2014 14:58 WIB
Image Print
Pejabat Polandia tinjau Bank Sampah Kemala Palembang (Foto Antarasumsel.com/14/Nila Fuadi)

Palembang (ANTARA Sumsel) - Di era modern ini, sistem barter atau menukar barang dengan barang yang diinginkan masih lazim dijumpai.

Bukan hanya suku kubu, dani atau badui yang memang mempertahankan kegiatan tukar menukar barang atau jasa tersebut.

Namun, warga Kota Palembang pun khususnya yang bermukim di kompleks perumahan Kemala atau rumah dinas kepolisian di kawasan Lemabang Kecamatan Ilir Timur II bisa menukarkan sampah rumah tangga dengan berbagai produk diinginkan.

Ada permen, cenderamata, pakaian maupun tas dengan kain jumputan khas Palembang bisa ditukar dengan sampah, kata Ketua Kelompok Swadaya Masyarakat Kemala, Lismawati.

Adalah Totusa atau toko tukar sampah yang hanya melayani pembelian tidak dengan perantara uang.

"Disini, kami tidak melayani pembeli dengan uang tetapi hanya sampah yang menjadi alat tukar produk," katanya.

Totusa tersebut memang baru beroperasi awal Maret tetapi bank sampah Kemala telah dimulai sejak tahun 2008.

Namun sampai saatnya ini, sedikitnya 80 kepala keluarga secara rutin menukarkan sampah di Totusa tersebut.

Di Totusa, satu kilogram koran bekas dibeli Rp700 per kilogram.

Hasil penjualan koran bekas tersebut kini tidak lagi dibayar uang tetapi bisa ditukar dengan barang-barang yang diinginkan warga.

Dia mencontohkan, kalau hanya membawa satu kilogram koran bekas berarti dapat ditukar dengan tiga biji permen.

Sedangkan, sebuah kulkas bekas dihargai Rp100.000 per unit dengan nominal tersebut warga bisa memilih pakaian atau barang lainnya dengan harga lebih mahal.

Sampah botol bekal minuman kemasan dihargai Rp2.500 per kilogram.

Setelah ditimbang sampah-sampah yang dijual tersebut ditotalkan harganya.

Warga bisa menentukan barang apa yang diinginkan dari hasil penjualan sampah tersebut.

Lismawati mengatakan selanjutnya petugas bank sampah akan memisahkan sesuai jenisnya.

Sampah-sampah kertas biasanya akan dikumpulkan di wadah berbeda dengan botol bekas.

Proses selanjutnya, sampah botol bekas misalnya ingin dibuat aneka mainan akan dimasukan ke mesin pencacah untuk menghaluskan barang tersebut.

Dia menjelaskan, produk yang siap diolah menjadi berbagai barang kerajinan tangan, seperti hiasan dinding, vas bunga dan mainan anak-anak dibawa ke Galeri Kemala.

Selanjutnya, sejumlah perajin akan mengubah sampah tersebut menjadi barang dengan nilai ekonomis tinggi.

Bukan hanya ibu-ibu kompleks yang datang dan belajar mengolah sampah tetapi setiap bulan sedikitnya 500 orang pelajar dari berbagai jenjang sekolah juga datang.

Biasanya, anak-anak diajarkan bagaimana mengolah sampah dari awal sehingga menjadi produk mainan yang mereka suka, seperti robot-robotan.

Omzet penjualan produk hasil pengolahan sampah tersebut tergolong tinggi mencapai Rp20 juta per bulan.

Pejabat Polandia Tertarik
Konsistensi ibu-ibu bhayangkari mengolah sampah menjadi barang bernilai ekonomis tersebut tentu berbuah manis.

Awalnya, pengolahan sampah dengan cara manual yang membutuhkan waktu lama karena tidak ada mesin pencacah. Kini dengan mesin pencacah bantuan Dinas PU Bina Marga dan PSDA Kota Palembang mempercepat proses penghalusan botol bekas minuman kemasan.

Tak hanya itu, silih berganti pejabat negara mulai dari Wali Kota Palembang sampai dengan Menteri Lingkungan Hidup ingin menyaksikan langsung kegiatan pengolahan sampah itu.

Lismawati menambahkan, sejak tiga tahun ini pengolahan sampah tersebut berkembang pesat.

Perhatian dari semua kalangan menjadi motivasi pihaknya untuk terus menciptakan produk-produk berharga dari sampah.

Mengikuti pameran-pameran dengan membawa beragam karya dari sampah juga telah dilakoni ibu-ibu kreatif tersebut.

"Biasanya, kami tidak hanya pameran tetapi juga mengajarkan langsung kepada pengunjung bagaimana memproses sampah menjadi bermacam dan bentuk karya kreatif," katanya.

Ketika Sekretaris Negara Kementerian Lingkungan Hidup Polandia Stanislaw Gawlowski dan rombongan berkunjung ke Kota Palembang juga mengakui eksistensi pengolahan sampah tersebut karena di negara terbagi 16 provinsi tersebut, produk-produk yang dihasilkan masih sangat terbatas.

Tak disia-siakan Kepala Bappeda Kota Palembang Sapri dan BLH setempat Tabrani mengajak rombongan ke bank sampah dan galeri Kemala.

"Sangat menarik!, benda-benda dari sampah kini sangat eksklusif dan memiliki nilai seni tinggi," seru Gawlowski ketika melihat miniatur sepeda yang dipajang.

Miniatur sepeda terbuat dari olahan kertas koran yang dirangkai sangat sempurna dan artistik.

Dia bercerita kalau di masa lalu Polandia juga memiliki permasalahan lingkungan yang tidak jauh berbeda dengan Kota Palembang.

Penanganan masalah sampah dan sungai sempat menjadi konsentrasi pemerintah di negara Eropa tengah tersebut.

Kerja keras pemerintah berhasil membebaskan negara dengan luas 312.679kilometer persegi dari masalah lingkungan.

Namun, kerja keras pemerintah tanpa peran aktif rakyat Polandia tentu tidak akan berhasil.

Ia mengatakan, peran aktif masyarakat dalam menjaga lingkungan menjadi kunci penting kebersihan kota dan menyelamatkan dari masalah lingkungan.

Sebagai negara yang berhasil bebas dari masalah lingkungan tentu sudah sepatutnya menjalin kerja sama dengan negara-negara lain.

Dia mencontohkan, kini Polandia telah mengoptimalkan pipa limbah cair secara terintegrasi untuk menjaga lingkungan dari pencemaran.

Sampah pun telah dikelola dengan sesuai sehingga tidak adalagi yang terbuang percuma tetapi telah didaur ulang terlebih dahulu meskipun tidak dibuat karya-karya artistik seperti di Indonesia.

Sementara Kepala Bidang Ekonomi Kedubes RI di Warsawa Polandia Masagus Salman Isfahani mengatakan kedatangan pejabat Polandia tersebut tindak lanjut dari perjanjian kerja sama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika datang ke Warsawa.

Rombongan sebelumnya telah berkeliling di Kota Jakarta, setelah Palembang akan ke Kalimantan Selatan untuk melakukan hal serupa mengidentifikasi masalah sampah dan lingkungan, katanya.

Ia menambahkan, kota-kota yang didatangi perwakilan Polandia tersebut akan menjadi mitra untuk pengelolaan sampah dan menjaga lingkungan.

Terutama kota yang memiliki sungai dengan keunikan masalah dihadapi pemerintah dan masyarakat setempat.



Pewarta:
Editor: M. Suparni
COPYRIGHT © ANTARA 2026