Logo Header Antaranews Sumsel

Tali-temali keluarga dalam suap daging sapi

Rabu, 16 Oktober 2013 17:39 WIB
Image Print
Luthfi Hasan Ishaaq. (FOTO ANTARA)

Nama "Bunda Putri" belakangan ramai dibicarakan karena disebut oleh mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera Luthfi Hasan Ishaaq dekat dengan Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono dan dapat memberikan informasi akurat mengenai kebijakan pemerintah.

Kata "bunda" yang berarti "ibu" atau orangtua perempuan, mengesankan bahwa Luthfi punya keakraban dengan sang "bunda", meski tidak punya hubungan keluarga.

Pada kenyataannya, dalam sidang perkara daging sapi dan pencucian uang yang melibatkan Ahmad Fathanah dan Luthfi Hasan Ishaaq memang melibatkan banyak pihak yang nyata-nyata punya relasi keluarga.

Keluarga pertama adalah keluarga pengusaha Billy Gan dan putranya, Winson Gan. Billy adalah Direktur PT Green Life Bioscience yang bersama Fathanah dan seorang pengusaha lain Sony Putra Samapta membentuk PT Prima Karsa Sejahtera (PKS).

Billy sudah menyetor modal Rp1 miliar untuk perusahaan yang akan berbisnis distribusi pupuk tersebut, sedangkanWinson Gan menjabat sebagai komisaris. Susunan pengurus perusahaan juga memuat anak Luthfi Hasan Ishaaq, Hudzaifah Luthfi sebagai komisaris.

Sayang pada Januari 2013 Fathanah ditangkap KPK sehingga Billy dan Winson ikut diperiksa KPK dan juga wajib menjadi saksi dalam sidang di pengadilan Tipikor karena terkait pemberian uang kepada Fathanah.

Keluarga kedua adalah keluarga direktur utama PT Intim (Indonesia Timur) Perkasa Andi Pakurimba Sose yang bersaksi bersama dengan istrinya Komisaris PT Intim Perkasa Evi Anggraeni, direktur PT Intim Perkasa yang juga anak Pakurimba, Andi Reiza Akbar Sose serta menantunya, Yulia Puspitasari pada 26 September 2013.

Andi Pakurimba sekeluarga berurusan dengan Fathanah karena kerap memberikan pinjaman uang kepada Fathanah melalui rekening istri, anak dan menantunya.

"Masih tersangkut Rp1,8 miliar di terdakwa (Fathanah) dari uang sekitar 500 ribu dolar AS," kata Andi Pakurimba saat bersaksi dalam sidang di pengadilan Tipikor.

Fathanah juga sempat mendatangkan calon investor dari Korea Selatan bagi PT Intim Perkasa untuk berinvestasi dalam pembangunan tangki penampung minyak di Takalar, Makassar Sulawesi Selatan.

Menghilang
Sayangnya meski sudah mengeluarkan dana hingga Rp8 miliar untuk pembebasan lahan, investor dari Korea yang didatangkan Fathanah melalui anak Luthfi, Hudzaifah Luthfi, malah menghilang.

Pakurimba bahkan sudah memberikan 46 persen saham perusahannya kepada Luthfi dan Hudzaifah serta pengusaha Ahmad Maulana dan Fathanah masing-masing satu persen sehingga keluarga Pakurimba hanya tinggal punya saham 52 persen.

Keluarga ketiga yang terlibat dalam kasus ini adalah keluarga Presiden PKS Anis Matta bersama sang adik, Saldi Matta.

Saldi yang berprofesi sebagai pengusaha di bidang "event organizer" dan penyedia jasa tiket perjalanan mengaku kerap meminjamkan uang ke Fathanah.

"Terdakwa pernah pinjam uang ke saya antara 13-15 Oktober 2012 Rp50 juta, lalu pada 25 Oktober 2012 beliau telepon saya katanya mau beli tas LV (Louis Vutton) di Senayan Rp20 juta tapi kartu kreditnya tidak bisa digunakan, selanjutnya pada 14 November 2012 juga minta tolong pinjam uang Rp20 juta," kata Saldi dalam sidang di pengadilan Tipikor.

Saldi juga yang menyediakan tiket pergi pulang untuk Fathanah dan keluarganya baik dalam maupun luar negeri.

Persoalan menjadi bertambah repot karena Saldi mengurus penjualan sejumlah tanah milik Anis, dan salinan akta tanah tersebut ditemukan dalam tas Fathanah saat ia ditangkap KPK.

Anis Matta
Sedangkan abang Saldi, Anis Matta terlibat dalam pusaran kasus karena pernah beberapa kali berada dalam satu acara dan berkomunikasi dengan Fathanah untuk memenangkan pemilihan kepala daerah (pilkada) Takalar dan pemilihan gubernur Sulawesi Selatan.

Dalam pilgub Sulawesi Selatan, calon dari Partai Demokrat sekaligus Walikota Makassar, Ilham Arief Sirajuddin harus merogoh Rp8 miliar agar diusung oleh PKS.

"Awalnya diminta Rp10 miliar, tapi kami sanggupnya hanya Rp8 miliar, dibayar secara bertahap," kata Ilham saat bersaksi dalam sidang pada 19 September.

Ilham harus tetap membayar dalam jumlah besar meski istrinya masih punya hubungan saudara dengan istri Anis Matta.

"Saya sengaja memisahkan hubungan partai dan keluarga," kata Anis beralasan.

Sayangnya Anis membantah bahwa PKS mensyaratkan pemberian uang tersebut.

"Sesuai mekanisme, seluruh penentuan pemimpin daerah dari kabupaten sampai gubernur diserahkan ke Dewan Pimpinan Wilayah (DPW), selanjutnya DPW mengajukan surat kepada DPP (Dewan Pimpinan Pusat) untuk disahkan," ungkap Anis.

Keluarga keempat yang memiliki kaitan dengan kasus ini adalah pasangan suami istri komisaris-direktur PT Radina Bio Adicipta, Elda Devianne Adiningrat dan Denny Pramudia Adiningrat.

Elda di sini adalah sebagai orang yang aktif menghubungkan direktur utama PT Indoguna Utama Maria Elizabeth Liman dengan Fathanah dan Luthfi agar mendapatkan tambahan kuota impor daging sapi sedangkan Denny menjadi penghubung aktif antara direktur PT Cipta Inti Perkasa milik Yudi Setiawan dengan Fathanah dan Luthfi agar mendapatkan proyek bibit kopi dan jagung.

"Hasil pertemuan adalah ustad Luthfi menyetujui akan membantu penambahan kuota impor daging, tapi ini menurut terdakwa (Fathanah) Pak," ungkap Elda pada sidang 22 Agugstus.

Demi mendapatkan proyek kopi senilai Rp35 miliar dan jagung senilai Rp36 miliar tersebut, Yudi mengeluarkan uang hingga sekitar Rp20 miliar melalui Denny dan Elda untuk Luthfi dan Fathanah, hasilnya PT Cipta Inti Permindi yang juga milik Yudi pendapatkan proyek kopi, sayangnya proyek jagung malah jatuh ke perusahaan milik Denny PT Radina Bio Adicipta, karena Denny dan Yudi pecah kongsi.

"Total yang ada buktinya ada Rp20 miliar saya keluarkan untuk ustaz Luthfi Hasan Ishaaq dan Fathanah," kata Yudi Setiawan dalam sidang 3 Oktober.

Keluarga kelima adalah keluarga Lutfi Hasan yang melibatkan anaknya, Hudzaifah Luthfi.

Hudzaifah tercantum sebagai komisaris PT PKS, perusahaan yang didirikan Fathanah dan Billy Gan.

Tapi, dalam sidang, Hudzaifah malah tidak tahu bahwa dirinya menjadi komisaris PT PKS.

"Saya tidak tahu kenapa nama saya ada di sini," kata Hudzaifah.

Hudzaifah yang lulusan Institut Teknologi Bandung itu mengaku tidak pernah menandatangani dokumen supaya PT PKS mendapatkan pinjaman uang dari ayahnya apalagi dijadikan komisaris dan mendapat gaji dari PT PKS.

Keluarga keenam yang terlibat adalah keluarga ketua Dewan Syuro PKS, Hilmi Aminuddin.

Meski Hilmi belum pernah bersaksi dalam sidang di pengadilan Tipikor Jakarta, Hilmi sudah pernah beberapa kali menjadi saksi di hadapan penyidik KPK.

Apalagi Hilmi, Ridwan Hakim pun mengakui pertemuan Kuala Lumpur pada 20 Januari 2013 antara dirinya, Elda Devianne dan Fathanah untuk berbicara mengenai teknis pengajuan kuota impor daging sapi.

Dalam pertemuan tersebut terkuak bahwa Direktur Utama PT Indoguna Utama Maria Elizabeth Liman yang ingin memesan tambahan impor daging lewat jasa Elda dan Fathanah, namun Elizabeth masih berutang Rp17 miliar kepada Hilmi Aminuddin dari proyek sebelumnya.

"Ada komitmen yang tidak beres, ada janji yang tidak terpenuhi dari ibu Elizabeth kepada Ridwan terkait urusan yang dulu," kata Elda dalam sidang 22 Agustus.

Sayangnya Ridwan berkelit tidak mengetahui pembicaraan mengenai uang dalam pertemuan di Kuala Lumpur.

"Saya kebutulan di sana, tiba-tiba terdakwa muncul, saya diajak Luthfi ke Kuala Lumpur karena ada acara PKS, saya banyak teman di sana," ungkap Ridwan.

Ridwan pun kembali berkelit saat diputarkan rekaman pembicaraan antara mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera Luthfi Hasan Ishaaq, Ridwan Hakim dan seseorang yang disebut "Bunda Putri" dalam rekaman pembicaraan telepon 28 Januari 2013, atau sehari sebelum KPK menangkap Fathanah.

"Siapa bunda putri?" tanya ketua majelis hakim Nawawi Pomolango.

"Dia mentor bisnis saya," jawab Ridwan.

Selanjutnya Luthfi dalam sidang 10 Oktober 2013 menyebutkan bahwa Bunda Putri adalah sosok yang jelas tahu mengenai informasi kebijakan Presiden SBY.

"Dia (Bunda Putri) adalah orang yang banyak punya informasi, ada banyak orang yang dekat dengan SBY dan membawa informasi yang akurasi yang sangat tinggi, jadi saya perlu dapat info permulaan untuk dianalisa, jika ada resuffle sudah statement resmi dari kami misalnya seperti saat harga BBM naik, ada menteri PKS yang diambil satu," jelas Luthfi.

Akhirnya masyarakat masih menunggu, apakah KPK akan mengungkap sosok "Bunda Putri" dan mungkin akan menguak keluarga-keluarga lain yang terlibat dalam kasus ini.



Pewarta:
Editor: AWI-SEO&Digital Ads
COPYRIGHT © ANTARA 2026